Thursday, 5 July 2018

Penelitian Fenomenologi Pendidikan


Penelitian Fenomenologi Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

fenomenologi pendidikan

Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani, phainesthai yang berarti menampak. Untuk itu, secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang menampakkan.
Fenomenologi menurut Donny (2010, hlm. 150) adalah “ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi dengan kesadaran”. Fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filosofis untuk menyelidiki pengalaman manusia. Fenomenologi bermakna metode pemikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada dengan langkah-langkah logis, sistematis kritis, tidak berdasarkan apriori/prasangka, dan tidak dogmatis. Fenomenologi sebagai metode tidak hanya digunakan dalam filsafat, tetapi juga dalam ilmu-ilmu sosial dan pendidikan.
Pada penelitian fenomenologi melibatkan pengujian yang teliti dan seksama pada kesadaran pengalaman manusia. Konsep utama dalam fenomenologi adalah makna. Makna merupakan “isi penting yang muncul dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti” (Smith, Flower, dan Larkin, 2009, hlm. 11).
Penelitian fenomenologis fokus pada sesuatu yang dialami dalam kesadaran individu, yang disebut dengan intensionalitas. Intensionalitas menggambarkan hubungan antara proses yang terjadi dalam kesadaran dengan obyek yang menjadi perhatian pada proses tersebut. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran selalu memiliki obyek.
Metode fenomenologi dimulai dari serangkaian reduksi-reduksi. Reduksi dibutuhkan supaya dengan intuisi kita dapat menangkap hakikat obyek-obyek. Reduksi-reduksi ini yang menyingkirkan semua hal yang mengganggu. Reduksi pertama, menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diamati. Kedua, menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Ketiga, menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain untuk sementara dilupakan. Jika reduksi-reduksi ini berhasil, gejala tersebut dapat memperlihatkan diri.
Data dari fenomena yang diteliti dapat dikumpulkan dengan berbagai cara, di antaranya observasi dan interview in-depth. Interview in-depth pada penilitian fenomenologi bermakna mencari sesuatu yang mendalam untuk mendapatkan satu pemahaman yang mendetail dengan fenomena sosial dan pendidikan yang diteliti. Pada sisi lain, peneliti juga harus memformulasikan kebenaran peristiwa/kejadian.
Data yang diperoleh dengan interview in-depth dapat dianalisis proses analisis data dengan Interpretative Phenomenological Analysis sebagaimana ditulis oleh Smith, Flower, dan Larkin (2009, hlm. 79-107). Tahap-tahap Interpretative Phenomenological Analysis dilaksanakan sebagai berikut:

1. Reading and re-reading
Dengan membaca dan membaca kembali peneliti menenggelamkan diri dalam data yang original. Bentuk kegiatan pada tahap ini adalah menuliskan transkrip interview dari rekaman audio ke dalam transkrip dalam bentuk tulisan. Rekaman audio yang digunakan oleh peneliti dipandang lebih membantu pendengaran peneliti daripada transkrip dalam bentuk tulisan. Imajinasi kata-kata dari partisipan ketika dibaca dan dibaca kembali oleh peneliti dari transkrip akan membantu analisis yang lebih komplit. Tahap ini dilaksanakan untuk memberikan keyakinan bahwa partisipan penelitian benar-benar menjadi fokus analisis.
Peneliti memulai proses ini dengan anggapan bahwa setiap kata-kata partisipan sangat penting untuk masuk dalam fase analisis dan data kata-kata tersebut diperlukan secara aktif. Membaca kembali data dengan model keseluruhan struktur interview untuk selanjutnya dikembangkan dan juga memberikan kesempatan pada peneliti untuk memperoleh pemahaman mengenai bagaimana narasi-narasi partisipan secara bersama-sama dapat terbagi atas beberapa bagian. Dengan membaca dan membaca kembali juga memudahkan penilaian mengenai bagaimana hubungan dan kepercayaan yang dibangun antar interview dan kemudian memunculkan letak-letak dari bagian-bagian yang kaya dan lebih detail atau sebenarnya kontradiksi dan paradox.

2. Initial noting
Analisis tahap awal ini sangat mendetail dan mungkin menghabiskan waktu. Tahap ini menguji isi/konten dari kata, kalimat dan bahasa yang digunakan partisipan dalam level eksploratori. Analisis ini menjaga kelangsungan pemikiran yang terbuka (open mind) dan mencatat segala sesuatu yang menarik dalam transkrip. Proses ini menumbuhkan dan membuat sikap yang lebih familiar terhadap transkrip data. Selain itu, tahap ini juga mulai mengidentifikasi secara spesifik cara-cara partisipan mengatakan tentang sesuatu, memahami, dan memikirkan isu-isu. Tahap satu dan dua ini melebur, dalam praktiknya dimulai dengan membuat catatan pada transkrip. Peneliti memulai aktifitas dengan membaca, kemudian membuat catatan eksploratori atau catatan umum yang dapat ditambahkan dengan membaca berikutnya.
Analisis ini hampir sama dengan analisis tekstual bebas. Di sini tidak ada aturan apakah dikomentari atau tanpa persyaratan seperti membagi teks ke dalam unit-unit makna dan memberikan komentar-komentar pada masing-masing unit. Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan seperangkat catatan dan komentar yang komprehensif dan mendetail mengenai data. Beberapa bagian dari interview mengandung data penelitian lebih banyak daripada yang lain dan akan lebih banyak makna dan komentar yang diberikan. Jadi, pada tahap ini peneliti mulai memberikan komentar dengan menduga pada apa yang ada pada teks.
Aktifitas ini menggambarkan difusi kebijakan pada pola-polanya, seperti hubungan, proses, tempat, peristiwa, nilai, dan prinsip-prinsip serta makna dari difusi kebijakan bagi partisipan. Peneliti akan menemukan lebih banyak catatan interpretatif yang membantu untuk memahami bagaimana dan mengapa partisipan tertarik dengan kebijakan.
Deskripsi yang peneliti kembangkan melalui initial notes ini menjadi deskripsi inti dari komentar-komentar yang jelas merupakan fokus dari fenomenologi dan sangat dekat dengan makna eksplisit partisipan. Dalam hal ini termasuk melihat bahasa yang mereka gunakan, memikirkan konteks dari ketertarikan mereka, dan mengidentifikasi konsep-konsep abstrak yang dapat membantu peneliti membuat kesadaran adanya pola-pola makna dalam keterangan partisipan.
Data yang asli/original dari transkrip diberikan komentar-komentar dengan menggunakan ilustrasi komentar eksploratori. Komentar eksploratori dilaksanakan untuk memperoleh intisari. Komentar eksploratori meliputi komentar deskriptif (descriptive comment), komentar bahasa (linguistic comment), dan komentar konseptual (conceptual comment) yang dilakukan secara simultan.
Komentar deskriptif difokuskan pada penggambaran isi/konten dari apa yang dikatakan oleh partisipan dan subyek dari perkataan dalam transkrip. Komentar bahasa difokuskan pada catatan eksploratori yang memperhatikan pada penggunaan bahasa yang spesifik oleh partisipan. Peneliti fokus pada isi dan makna dari bahasa yang disampaikan. Komentar konseptual ini lebih interpretatif difokuskan pada level yang konseptual.
Setelah memberikan komentar eksploratori peneliti melakukan dekonstruksi. Hal ini membantu peneliti untuk mengembangkan strategi dekontekstualisasi yang membawa peneliti pada fokus yang lebih detail dari setiap kata dan makna. Dekonstektualisasi membantu mengembangkan penilaian yang secara alamiah diberikan pada laporan-laporan partisipan dan dapat menekankan pentingnya konteks dalam interview sebagai keseluruhan serta membantu untuk melihat keterhubungan antar satu pengalaman dengan pengalaman lain.
Setelah dekostruksi, peneliti melakukan tinjauan umum terhadap tulisan catatan awal (overview of writting initial notes). Langkah ini dilaksanakan dengan memberikan catatan-catatan eksploratori yang dapat digunakan selama mengeksplor data dengan cara (1) peneliti memulai dari transkrip, menggarisbawahi teks-teks yang kelihatan penting, dan (2) mengasosiasi secara bebas teks-teks dari partisipan, menuliskan apapun yang muncul dalam pemikiran ketika membaca kalimat-kalimat dan kata-kata tertentu.

3. Developing emergent themes
Meskipun transkrip interview merupakan tempat pusat data, akan tetapi data tersebut akan menjadi lebih jelas dengan diberikannya komentar eksploratori secara komprehensif. Dengan komentar eksploratori tersebut maka pada seperangkat data muncul atau tumbuh secara substansial. Untuk memunculkan tema-tema peneliti melakukan perubahan data dengan menganalisis secara simultan, berusaha mengurangi volume yang detail dari data yang berupa transkrip dan catatan awal yang masih ruwet (complexity) untuk di-mapping kesalinghubungannya (interrelationship), hubungan (connection), dan pola-pola antar catatan eksploratori. Pada tahap ini analisis terutama pada catatan awal lebih yang dari sekedar transkrip. Komentar eksploratori yang dilakukan secara komprehensif sangat mendekatkan pada simpulan dari transkrip yang asli.
Analisis komentar-komentar eksploratori untuk mengidentifikasi munculnya tema-tema termasuk untuk memfokuskan sehingga sebagian besar transkrip menjadi jelas. Proses mengidentifikasi munculnya tema-tema termasuk kemungkinan peneliti mengobrak-abrik kembali alur narasi dari interview jika peneliti pada narasi awal tidak merasa comfortable. Untuk itu, peneliti melakukan reorganisasi data pengalaman partisipan. Keaslian interview secara keseluruhan menjadi seperangkat dari bagian yang dianalisis, tetapi secara bersama-sama menjadi keseluruhan yang baru, yang merupakan akhir dari analisis dalam melukiskan suatu peristiwa dengan terperinci.

4. Searching for connections across emergent themes
Partisipan penelitian memegang peran penting semenjak mengumpulkan data dan membuat komentar eksploratori. Dengan kata lain, pengumpulan data dan pembuatan komentar eksploratori dilakukan dengan berorientasi pada partisipan. Mencari hubungan antar tema-tema yang muncul dilakukan setelah peneliti menetapkan seperangkat tema-tema dalam transkrip dan tema-tema telah diurutkan secara kronologis. Hubungan antar tema-tema ini dikembangkan dalam bentuk grafik atau mapping dan memikirkan tema-tema yang bersesuaian satu sama lain. Level analisis ini tidak ada ketentuan resmi yang berlaku. Peneliti didorong untuk mengeksplor dan mengenalkan sesuatu yang baru dari hasil penelitiannya dalam pengorganisasian analisis. Tidak semua tema yang muncul harus digabungkan dalam tahap analisis ini, beberapa tema mungkin akan dibuang. Analisis ini tergantung pada keseluruhan dari pertanyaan penelitian dan ruang lingkup penelitian.

5. Moving the next cases
Tahap analisis satu sampai empat dilakukan pada setiap satu kasus/partisipan. Jika satu kasus selesai dan dituliskan hasil analisisnya maka tahap selanjutnya berpindah pada kasus atau partisipan berikutnya hingga selesai semua kasus. Langkah ini dilakukan pada semua transkrip partisipan, dengan cara mengulang proses yang sama.

6. Looking for patterns across cases
Tahap akhir merupakan tahap mencari pola-pola yang muncul antar kasus/partisipan. Apakah hubungan yang terjadi antar kasus dan bagaimana tema-tema yang ditemukan dalam kasus-kasus yang lain memandu peneliti melakukan penggambaran dan pelabelan kembali pada tema-tema. Pada tahap ini dibuat master table dari tema-tema untuk satu kasus atau kelompok kasus dalam sebuah institusi/organisasi.

Referensi
Donny, A. G. (2010). Pengantar Fenomenologi. Depok: Koekoesan.
Smith, J. A., Flower, P., & Larkin, M. (2009). Interpretative Phenomenological Analysis: Theory, Method and Research. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore, Washington: Sage.


EmoticonEmoticon