Sunday, 8 July 2018

Wawancara


Wawancara
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

siswa wawancara

Wawancara pada dasarnya merupakan suatu dialog yang memungkinkan suatu pihak (pewawancara) membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Percakapan tersebut lebih terstruktur dan melibatkan dua orang atau lebih. Wawancara umumnya bertujuan memberi fakta, alasan, dan opini untuk sebuah topik tertentu dengan menggunakan kata-kata narasumber sehingga pembaca/pendengar dapat membuat kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh narasumber.
Adapun jenis-jenis wawancara dapat dikelompokkan, sebagai berikut:
1. Wawancara informal, yaitu wawancara yang bersifat spontan, alamiah, dan pertanyaan bergantung pada pewawancara sendiri sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
2. Wawancara dengan petunjuk, yaitu pewawancara terlebih dahulu membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan. Pokok-pokok tersebut ditulis sebelum dilakukan wawancara. Pokok yang telah disusun tidak perlu ditanyakan secara berurutan.
3. Wawancara baku terbuka, yaitu wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-kata, dan cara penyajiannya telah ditentukan sebelum wawancara.

Secara garis besar tahapan wawancara dapat dijabarkan, sebagai berikut:

1. Tahap persiapan

Wawancara

a. Menentukan maksud dan tujuan wawancara (topik wawancara).
b. Menentukan informasi yang akan dikumpulkan atau didata.
c. Menentukan dan menghubungi narasumber.
d. Menyusun daftar pertanyaan.

2. Tahap pelaksanaan

Wawancara

a. Mengucap salam.
b. Memperkenalkan diri.
c. Mengutarakan maksud dan tujuan wawancara kepada narasumber.
d. Menyampaikan pertanyaan dengan teratur.
e. Mencatat dan merekam pokok-pokok wawancara.
f. Mengakhiri dengan salam dan meminta kesediaan narasumber untuk dapat dihubungi kembali jika terdapat hal yang perlu dikonfirmasi atau dilengkapi.

3. Tahap penyusunan hasil wawancara

Wawancara

Laporan wawancara terdiri atas bagian-bagian berikut:
a. Tema atau topik wawancara.
b. Tujuan dan maksud wawancara.
c. Identitas narasumber.
d. Ringkasan isi wawancara.

Adapun contoh dialog wawancara disajikan, sebagai berikut:
Pewawancara :
Selamat pagi Professor Nugraha, apakah saya boleh meminta waktunya sebentar untuk mewawancarai Bapak ?

Narasumber :
Selamat pagi, Adik dari mana ya ?

Pewawancara :
Saya dari majalah pendidikan Tinta Pendidikan Indonesia, ingin mewawancarai Bapak mengenai pentingnya menuntut ilmu.

Narasumber :
Oh, kalau begitu mari langsung saja dimulai wawancaranya!

Pewawancara : 
Kalau boleh, bisakah bapak menceritakan profil singkat pendidikan Bapak ?

Narasumber :
Saya pernah bersekolah di SDN Pajajaran, kemudian saya melanjutkan di SMPN 2 dan SMAN 2 Kota Tasikmalaya. Setelah itu saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia dan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saya mendapatkan gelar professor saya di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pewawancara :
Sudah berapa lama Bapak menyandang gelar professor ini ?

Narasumber :
Saya mendapatkan gelar professor saya dalam bidang pendidikan dasar ketika saya berusia 30 tahun, jadi kira-kira sudah 4 tahun.

Pewawancara :
Apa yang memotivasi Bapak untuk terus belajar di hari tua Bapak ?

Narasumber : 
Bagi saya ilmu adalah kebermanfaatan, jadi jika saya tidak belajar atau berhenti belajar saya tidak bermanfaat. Hal ini dikarenakan ilmu sangatlah penting untuk dipelajari tidak peduli berapapun usia kita karena ilmu selalu berkembang dan jika kita berhenti belajar maka kita akan tertinggal.

Pewawancara :
Jadi meskipun sudah menjadi professor pun Bapak masih belajar.

Narasumber :
Tentu, hingga saat ini pun saya masih mempelajari ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan dan ilmu-ilmu baru dengan cara belajar sendiri maupun mengajar mahasiswa. Mengajar juga bisa dijadikan sarana untuk belajar karena mengajar bukan hanya mentransfer ilmu saja, melainkan beridiskusi dengan para mahasiswa mengenai berbagai macam hal.

Pewawancara :
Menurut Bapak mengapa sih menuntut ilmu itu penting ?

Narasumber :
Dengan ilmu kita bisa memperbaiki diri kita sendiri dan masayarakat sekitar kita. Tanpa ilmu, kita tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Pewawancara :
Menurut Bapak sejak kapan kita mulai menutut ilmu dan sampai kapan ?

Narasumber :
Kita harus terus menuntut ilmu sepanjang hidup kita, di mulai dari kecil hingga kita mati. Waktu yang paling utama untuk belajar adalah ketika kita berumur empat (4) hingga enam (6) tahun karena masa-masa itu disebut dengan golden age di mana otak akan bekerja dengan sangat optimal. 

Pewawancara :
Menurut Bapak bagaimana dengan dunia pendidikan kita saat ini ?

Narasumber :
Pendidikan kita saat ini sedang berkembang, namun masih tertinggal dengan negara-negara maju.

Pewawancara :
Lantas apa yang harus kita lakukan untuk memajukan dunia pendidikan kita ?

Narasumber :
Kita perlu bersama-sama memahami bahwa pendidikan itu penting dan merupakan tanggung jawab kita bersama. Suatu bangsa akan berkembang seiring dengan perkembangan pendidikan pada bangsa tersebut. Maka dari itu, kita harus terus belajar.

Pewawancara :
Saya kira cukup sampai di sini Prof, terima kasih atas waktunya.

Narasumber :
Terimakasih kembali.


EmoticonEmoticon