Thursday, 30 August 2018

Filsafat Pendidikan Humanisme


Filsafat Pendidikan Humanisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

humanisme

Filsafat humanisme berasal dari masa klasik barat dan klasik timur, yang berdasar pada pemikiran filsafat klasik Cina Konfusius dan pemikiran klasik Yunani. Perkembangan filsafat humanisme terjadi selama tiga tahap, yakni (1) pada abad ke-16 selama masa renaissance di Eropa, gerakan ini muncul karena reaksi terhadap dehumanis yang terjadi berabad-abad, sebagai akibat langsung dari kekuasaan pemimpin agama yang merasa menjadi satu-satunya otoritas dalam memberikan interpretasi terhadap dogma-dogma agama, yang kemudian diterjemahkan dalam segenap bidang kehidupan di Eropa. Sehingga pelopor humanis mengatakan bahwa manusia itu bebas dan memiliki potensi sendiri untuk menjalankan kehidupannya secara mandiri untuk berhasil di dunia, di mana setiap individu mampu untuk mengontrol nasib mereka sendiri melalui kecerdasan dan pembelajaran mereka. (2) Perkembangan selanjutnya terjadi pada abad ke-18 pada masa pencerahan (aufklarung), tokohnya adalah J. J. Rousseu yang mengutamakan pandangan tentang perkembangan alamiah manusia sebagai metode untuk mencoba keparipurnaan tujuan pendidikan. (3) Berkembang lagi pada abad ke-20 yang disebut humanisme kontemporer, merupakan reaksi protes terhadap dominasi kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia di era modern.
Humanisme sebagai sebuah aliran filsafat yang menempatkan kebebasan manusia, baik berpikir, bertindak, dan bekerja, berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya peradaban modern. Sehingga secara historis munculnya humanisme sebagai gerakan pemikiran bersumber pada keinginan manusia untuk mengembalikan fitrah dasar kemanusiaan, sebagai makhluk yang otonom dengan kemampuan rasionalitasnya dan kemerdekaan berpikir.
Hakikat manusia, yakni manusia memiliki kebaikan dalam dirinya, dalam hal ini apabila manusia berada dalam lingkungan yang kondusif bagi perkembangan potensinya dan diberi semacam kebebasan untuk berkembang, maka mereka akan mampu untuk mengaktualisasi atau merealisasikan sikap dan perilaku yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat.
Penganut filsafat humanisme memberi pandangan bahwa manusia memiliki kebebasan dan otonomi memberikan konsekuensi langsung pada pandangan terhadap individualitas manusia dan potensi manusia. Individualitas manusia yang unik dalam diri setiap pribadi harus dihormati. Berdasar pandangan ini, salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia perlu dilakukan dalam proses pendidikan untuk mencapai hasil yang optimal dalam pemberian kesempatan pada pengembangan aspek-aspek yang ada di dalam diri individu. Sehingga akhir dari perkembangan pribadi manusia adalah mengaktualisasi dirinya, mampu mengembangkan potensinya secara utuh, bermakna, dan berfungsi bagi kehidupan dirinya dan lingkungan.
Belajar menurut pandangan humanisme merupakan fungsi keseluruhan pribadi manusia yang melibatkan faktor intelektual dan emosional. Motivasi belajar harus datang dari dalam diri sendiri. Proses belajar mengajar menekankan pentingnya hubungan interpersonal, menerima siswa sebagai partisipan dalam proses belajar bersama.
Pandangan utama filsafat pendidikan humanisme adalah proses pendidikan berpusat pada siswa. Belajar akan optimal apabila siswa terlibat secara penuh dan berpartisipasi serta bertanggung jawab dalam proses belajar. Peran guru dalam proses pendidikan adalah sebagai fasilitator, baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta pembelajaran dalam konteks proses penemuan yang bersifat mandiri. Maka, guru tidak perlu memaksa siswa untuk belajar. Di sisi lain, harus menciptakan suatu iklim kepercayaan dan rasa hormat yang memungkinkan siswa belajar, mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar mandiri, memutuskan apa dan bagaimana mereka belajar. Proses belajar hendaknya merupakan kegiatan untuk mengeksploitasi diri yang memungkinkan pengembangan keterlibatan secara aktif subyek didik untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajar.
Adapun tujuan pendidikan menurut humanisme dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Berusaha memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan eksplorasi dan mengembangkan kesadaran identitas diri yang melibatkan perkembangan konsep diri dan sistem nilai.
2. Mengutamakan komitmen terhadap prinsip pendidikan yang memerhatikan faktor persamaan, emosi, motivasi, dan minat siswa akan mempercepat proses belajar yang bermakna dan terintegrasi secara pribadi.
3. Lebih terpusat pada isi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa sendiri. Siswa harus memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk memilih dan menentukan apa, kapan, dan bagaimana ia belajar.
4. Berorientasi kepada upaya memelihara perasaan pribadi yang efektif. Suatu gagasan bahwa siswa dapat mengembalikan arah belajarnya sendiri, mengambil, dan memenuhi tanggung jawab secara efektif, serta mampu memilih tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.
5. Belajar adalah pertumbuhan dan perubahan yang berjalan cepat, sehingga kebutuhan siswa lebih dari sekedar pengetahuan hari kemarin. Pendidikan humanisme mencoba mengadaptasi siswa dalam perubahan, membantunya belajar bagaimana belajar, bagaimana memecahkan masalah, dan bagaimana melakukan perubahan dalam kehidupan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran menurut filsafat pendidikan humanisme, antara lain:
1. Setiap individu mempunyai bawaan untuk belajar.
2. Belajar akan bermanfaat apabila siswa menyadari manfaatnya.
3. Belajar akan berarti apabila dilakukan melalui pengalaman sendiri dan uji coba.
4. Belajar dengan prakarsa sendiri penuh kesadaran dan kemauan dapat berlangsung lama dan menyenangkan.
5. Kreatifitas dan kepercayaan dari orang lain tumbuh dari suasana kebebasan.
6. Belajar akan berhasil apabila siswa beradaptasi secara aktif dan disiplin pada setiap kegiatan belajar.


EmoticonEmoticon