Friday, 17 August 2018

Kalimat dalam Bahasa Indonesia


Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kalimat bahasa indonesia

Kalimat adalah “bagian ujaran atau tulisan yang mempunyai struktur minimal subyek (S) dan predikat (P), serta intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran atau tulisan tersebut sudah lengkap dengan makna” (Finoza, 2009, hlm. 149). Menurut Ramlan (2001, hlm. 21) kalimat adalah “satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik”. Sedangkan Cook, dkk. (dalam Putrayasa, 2009, hlm. 1) mengemukakan kalimat merupakan “satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi akhir, dan terdiri atas klausa”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat ditarik garis besar bahwa kalimat adalah satuan gramatikal berupa ujaran atau tulisan, terdiri atas klausa, dan mempunyai pola intonasi akhir.
Finoza (2009, hlm. 150-155) mengemukakan terdapat lima unsur yang terdapat dalam kalimat, di antaranya:
1. Subyek
Subyek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar subyek diisi oleh frasa benda atau nominal, klausa, atau frasa verbal.
2. Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan (action) dari subyek (S). Selain itu, predikat juga menyatakan sifat atau keadaan subyek. Predikat juga dapat sebagai pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh subyek. Predikat dapat berupa verba atau ajektiva, tetapi dapat juga berbentuk numeralia, nomania, atau frasa nominal.
3. Obyek
Obyek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Obyek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa, atau klausa. Letak obyek selalu di belakang predikat, yang berupa verba transitif, yakni verba yang wajib diikuti oleh obyek.
4. Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Letak pelengkap umumnya di belakang predikat, yang berupa verba. Jenis kata yang mengisi pelengkap, yaitu nomina dan frasa nominal.
5. Keterangan
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan predikat (P) dalam sebuah kalimat. Posisi keterangan boleh manasuka, di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi keterangan dapat berupa adverbia, frasa preposional, atau klausa.

Berdasar jumlah klausanya, kalimat terdiri atas:

1. Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa (satuan gramatikal yang terdiri dari subyek, predikat, baik disertai obyek, pelengkap, dan keterangan ataupun tidak). Pada kalimat tunggal setidaknya terdapat satu subyek dan satu predikat. Contohnya sebagai berikut:
a. Saya akan pergi.
b. Kami siswa sekolah dasar.
c. Andi pergi ke sekolah.

2. Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal. Artinya, pada kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa. Kalimat majemuk terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara memiliki ciri (1) dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal, dan (2) kedudukan tiap kalimat sederajat. Konjungtor yang menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk setara jumlahnya cukup beragam. Konjungtor tersebut merujuk pada beberapa jenis hubungan dan menjalankan sejumlah fungsi. Lebih lanjut, dipaparkan pada tabel berikut:

Jenis hubungan
Fungsi
Kata penghubung
Penjumlahan
Menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, dan proses.
Dan, serta, baik, maupun
Pertentangan
Menyatakan bahwa hal yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa kedua.
Tetapi, sedangkan, bukannya, melainkan
Pemilihan
Menyatakan pilihan di antara dua kemungkinan.
Atau
Urutan
Menyatakan kejadian yang berurutan.
Lalu, kemudian

b. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat, klausa pembentuknya tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Pada tabel berikut dijabarkan jenis hubungan antarklausa dan konjungtor dalam kalimat majemuk bertingkat:

Jenis hubungan
Kata penghubung
Waktu
Sejak, sedari, sewaktu, sementara, seraya, setelah, sambil, sehabis, sebelum, ketika, tatkala, hingga, sampai
Syarat
Jika, seandainya, andaikata, andaikan, asalkan, kalau, apabila, bilamana, manakala
Tujuan
Agar, supaya, untuk, biar
Konsesif
Walau, meski, sekali, biar, kendati, sungguh
Pembandingan
Seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, alih-alih, ibarat
Sebab/alasan
Sebab, karena
Akibat/hasil
Sehingga, sampai-sampai, maka
Cara/alat
Dengan, tanpa
Kemiripan
Seolah-olah, seakan-akan
Kenyataan
Padahal, nyatanya
Penjelas/kelengkapan
Bahwa

Berdasar fungsinya, kalimat terbagi atas:

1. Kalimat berita
Kalimat berita (deklaratif) adalah kalimat yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk memberitakan sesuatu. Pada pemakaian bahasa, bentuk kalimat berita umumnya digunakan oleh pembicara/penulis jika pada suatu waktu mengetahui suatu peristiwa dan kemudian menyampaikan tentang peristiwa tersebut kepada orang lain.
Kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitaan. Pada bentuk tulisnya, kalimat berita diakhiri dengan tanda baca titik (.). Pada bentuk lisan, suara berakhir dengan nada turun. Contoh kalimat berita, sebagai berikut:
a. Kemarin ada pawai di depan sekolah.
b. Saya melihat ayah pergi tadi pagi.
c. Pada saat berangkat sekolah, saya melihat pejalan kaki ramai melintasi perempatan jalan utama.

2. Kalimat perintah
Kalimat perintah (imperatif) dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Pada bahasa lisan, kalimat ini berintonasi akhir menurun. Pada bahasa tulis, kalimat ini diakhiri dengan tanda baca seru (!) atau tanda baca titik (.).
Perintah atau suruhan dan permintaan, jika ditinjau dari isinya dapat diperinci, sebagai berikut:
a. Perintah atau suruhan biasa, jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu.
b. Perintah halus, jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilahkan lawan bicara sudi berbuat sesuatu.
c. Permohonan, jika pembicara demi kepentingannya, meminta lawan bicara berbuat sesuatu.
d. Ajakan dan harapan, jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu.
e. Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu.
f. Pembiaran, jika pembicara minta agar jangan dilarang.
Kalimat perintah memiliki ciri formal, sebagai berikut:
a. Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan.
b. Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan.
c. Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subyek jika diperlukan.
d. Pelaku tindakan selalu terungkap.
Contoh kalimat perintah, sebagai berikut:
a. Ambilkan gelas tersebut!
b. Buka pintu!
c. Ingat, besok kamu harus datang!

3. Kalimat tanya
Kalimat tanya (interogatif) adalah kalimat yang digunakan oleh penutur atau penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. Kalimat tanya secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, di mana, yang mana, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas.
Kalimat tanya digunakan untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak” dan (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara. Pada bahasa lisan, kalimat ini diakhiri dengan intonasi naik. Pada bahasa tulis, kalimat diakhiri dengan tanda baca tanya (?).
Contoh kalimat tanya, sebagai berikut:
a. Di mana kamu menyimpan pulpen?
b. Siapa yang akan berbelanja?
c. Kapan kita berlibur?

4. Kalimat seru
Kalimat seru (ekslamatif) dipakai penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Kalimat seru secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektival. Kalimat seru digunakan untuk menyatakan perasaan kagum atau heran.
Contoh kalimat seru, sebagai berikut:
a. Kamu hebat!
b. Betapa sulitnya ujian ini!
c. Alangkah indahnya dunia ini!

Referensi
Finoza, L. (2009). Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Putrayasa, B. I. (2009). Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: Aditama.
Ramlan (2001). Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.


EmoticonEmoticon