Monday, 27 August 2018

Kerajaan Samudera Pasai


Kerajaan Samudera Pasai
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

letak Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke-13, setelah kehancuran kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Malik As-Saleh setelah beliau masuk agama Islam. Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Sultan Malik As-Saleh berkuasa kurang lebih 29 tahun, yakni sekitar tahun 1297-1326 Masehi. Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Peurlak.
Keberadaan Samudera Pasai diperkuat oleh catatan Ibnu Batutah, sejarawan asal Maroko. Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai merupakan pusat studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346 Masehi. Ibnu Batutah menyebutnya sebagai sumutrah, ejaan untuk nama Samudera, yang kemudian menjadi Sumatera. Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Kemudian laksamana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada raja. Ia diundang ke istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu dari Malik As-Saleh.
Berdasarkan catatan Ibnu Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak abad ke-12. Raja dan rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Setelah setahun di Pasai, Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada tahun 1347 Masehi.
Pemerintahan Sultan Malik As-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir dari perkawinannya dengan putri raja Peurlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir diperkenalkan koin emas sebagai mata uang di Pasai. Seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Pada tahun 1326 Masehi, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik Az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345 Masehi.
Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, putra Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345-1350 Masehi, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan.
Kesultanan Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir tahun 1383 Masehi, dan memerintah sampai tahun 1405 Masehi. Pada kronik Cina, ia dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan tewas oleh raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya, Sultanah Nahrasiyah.
Armada Cheng Ho, yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut-turut pada tahun 1405, 1408, dan 1412 Masehi. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh Ma Huan dan Fei Xin, secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi di sebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, yakni Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat akan berjumpa dengan kerajaan Lambri yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Pada kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.
Sekitar tahun 1434, Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-khan, namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi sejumlah pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin meceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.
Pada abad ke-16, bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada tahun 1521 hingga tahun 1541 Masehi. Selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan kerajaan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam.
Kehidupan sosial kemasyarakatan di kerajaan Samudera Pasai diatur dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam. Semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati dikembangkan dalam masyarakat. Hubungan antara sultan dengan rakyat juga akrab. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama. Sultan juga sangat hormat pada setiap tamu yang datang. Bahkan tidak jarang memberikan tanda mata pada tamu-tamunya. Adapun hasil kebudayaan secara fisik kerajaan Samudera Pasai tidak banyak ditemukan.

Kerajaan Samudera Pasai
Penulisan hikayat raja Pasai

Kerajaan Samudera Pasai

Batu nisan Sultan Malik As-Saleh

Kerajaan Samudera Pasai

Uang di masa pemerintahan Kesultanan Pasai


EmoticonEmoticon