Saturday, 25 August 2018

Kesulitan Belajar


Kesulitan Belajar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sulit belajar

Kesulitan belajar merupakan suatu kondisi saat kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Sejalan dengan itu, Dalyono (1997, hlm. 229) mengemukakan kesulitan belajar adalah “suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya”. Adapun Sabri (1995, hlm. 88) berpendapat bahwa kesulitan belajar yaitu “kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolah”.
Siswa yang berhasil dalam belajar akan mengalami perubahan dalam aspek kompetensinya. Perubahan tersebut dapat dilihat melalui prestasi yang diperoleh di sekolah atau melalui nilai yang ia dapat. Pada kenyataannya, masih sering dijumpai adanya siswa yang mendapat nilai rendah. Rendahnya nilai atau prestasi siswa ini adanya kesulitan dalam belajar. Siswa yang secara potensial diharapkan akan mendapat nilai yang tinggi, akan tetapi prestasi biasa-biasa saja atau mungkin lebih rendah dari teman lainnya, dapat dipandang sebagai indikasi bahwa siswa tersebut mengalami masalah dalam aktivitasnya.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah segala sesuatu yang membuat tidak lancar atau menghalangi seseorang dalam mempelajari, memahami, serta menguasai sesuatu untuk dapat mencapai tujuan. Adanya kesulitan belajar dapat ditandai dengan prestasi yang rendah atau di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas. Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan sukar dalam menyerap materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, sehingga ia akan malas dalam belajar, serta tidak dapat menguasai materi, menghindari pelajaran, dan mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
Faktor yang dapat menyebabkan kesulitan belajar di sekolah sangat beragam. Hamalik (2005, hlm. 117) mengemukakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, di antaranya:
1. Faktor-faktor dari diri sendiri, yaitu faktor yang timbul dari diri siswa itu sendiri, seperti tidak mempunyai tujuan belajar yang jelas, kurangnya minat, kesehatan yang sering terganggu, kecakapan mengikuti pelajaran, kebiasaan belajar, dan kurangnya penguasaan bahasa.
2. Faktor-faktor dari lingkungan sekolah, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam sekolah, seperti cara memberikan pelajaran, kurangnya bahan-bahan bacaan, kurangnya alat-alat, bahan pelajaran tidak sesuai dengan kemampuan, dan penyelenggaraan pelajaran yang terlalu padat.
3. Faktor-faktor dari keluarga, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam keluarga siswa, seperti kemampuan ekonomi keluarga, adanya masalah keluarga, dan kurangnya pengawasan keluarga.
4. Faktor-faktor dari lingkungan masyarakat, seperti bekerja sambil belajar, tidak dapat mengatur waktu, dan tidak mempunyai teman belajar.
Menurut Suryabrata (1997, hlm. 233) “faktor internal kesulitan belajar siswa digolongkan menjadi dua macam, yaitu faktor fisiologis dan psikologis”. Faktor fisiologis berupa keadaan jasmani dan fungsi fisiologis tertentu, terutama panca indera. Sedangkan faktor psikologis dalam belajar merupakan hal yang mendorong aktivitas belajar siswa.
Lebih lanjut, Suryabrata (1997, hlm. 233-234) mengemukakan “faktor eksternal yang mempengaruhi belajar siswa adalah faktor yang berasal dari luar siswa. Faktor ini dapat digolongkan menjadi dua, yakni faktor sosial dan faktor nonsosial”. Faktor sosial adalah faktor yang berasal dari manusia. Kehadiran orang lain yang gaduh saat belajar sering kali mengganggu aktivitas belajar. Sedangkan faktor nonsosial adalah faktor yang berasal bukan dari manusia, seperti keadaan udara, waktu belajar, cuaca, tempat atau gedung sekolah, alat-alat penunjang pelajaran, dan sebagainya.

Referensi
Dalyono (1997). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, O. (2005). Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Jakarta: Penerbit Tarsito.
Sabri, A. M. (1995). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Suryabrata, S. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.


EmoticonEmoticon