Thursday, 23 August 2018

Model Pembelajaran Co-Op Co-Op


Model Pembelajaran Co-Op Co-Op
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model kooperatif tipe co-op co-op

Model pembelajaran co-op co-op adalah “sebuah group investigation yang cukup familiar dengan menempatkan tim dalam kerjasama antara satu dengan yang lainnya untuk mempelajari sebuah topik di kelas” (Slavin, dalam Yusron, 2005, hlm. 229). Co-op co-op memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, untuk meningkatkan pemahaman siswa, dan selanjutnya memberikan siswa kesempatan untuk saling berbagi pemahaman baru dengan teman sekelasnya. Aktivitas ini mendorong kemandirian siswa dan kerjasama dalam kelompok.
Menurut Kagen (dalam Warsono dan Hariyanto, 2012, hlm. 235) menyatakan “model co-op co-op mampu merangsang siswa untuk dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menuntut persiapan yang sangat matang, dan menuntut semangat yang tinggi untuk mengikuti pelajaran agar dapat mempersiapkan tampilan yang diharapkan”.
Setiap model pembelajaran memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya, agar mudah diterapkan dalam pembelajaran. Menurut Kagen (dalam Warsono dan Hariyanto, 2012, hlm. 237) langkah-langkah pembelajaran co-op co-op sebagai berikut:
1. Guru melakukan presentasi secara singkat garis besar tema pembelajaran.
2. Setiap kelompok siswa memilih topik pembelajaran yang sesuai tema pembelajaran.
3. Siswa membagi menjadi sejumlah subtopik sesuai jumlah siswa dalam kelompok. Setiap siswa mendapat satu subtopik.
4. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab dalam mempelajari dan mengajarkan bahan ajar dalam subtopik yang dipelajarinya kepada anggota kelompok lainnya.
5. Setiap kelompok kemudian melakukan presentasi di hadapan seluruh kelas.
6. Refleksi bagi seluruh kelas.
Sedangkan Slavin (dalam Yusron, 2005, hlm. 304) mengemukakan terdapat sembilan tahapan pembelajaran pada model pembelajaran co-op co-op, antara lain:
1. Diskusi kelas yang terpusat pada siswa
Guru mendorong para siswa untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan mereka pada materi pelajaran yang akan dipelajari melalui diskusi kelas yang terpusat pada siswa untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar.
2. Pemilihan kelompok belajar siswa dan pembentukan kelompok
Guru mengatur siswa ke dalam kelompok-kelompok yang heterogen, terdiri atas empat sampai lima orang siswa dalam satu kelompok. Kemudian setiap kelompok diberikan topik-topik pelajaran untuk dibahas bersama dalam kelompok.
3. Pemilihan topik
Siswa dibiarkan memiliki topik untuk kelompok mereka dan langsung diikuti dengan diskusi kelas terpusat pada siswa.
4. Pemilihan minitopik
Setelah ditentukan topik untuk kelompok, selanjutnya tiap kelompok membuat pembagian tugas di antara anggota kelompok dengan membuat topik utama menjadi topik mini yang mencakup satu aspek dari topik kelompok.
5. Pesiapan minitopik
Setelah siswa membagi topik kelompok menjadi topik mini, maka siswa akan bekerja secara individu dan bertanggung jawab terhadap topik mini mereka yang menentukan kesuksesan usaha kelompok tersebut.
6. Presentasi minitopik
Siswa didorong untuk memadukan semua topik kecilyang telah diselesaikan secara individual.
7. Persiapan presentasi kelompok
Selama waktu presentasi, kelompok memegang kendali kelas dan bertanggung jawab terhadap waktu, ruang, dan bahan-bahan yang ada di dalam kelas selama presentasi. Kelompok juga harus memasukkan sesi tanya jawab untuk memberikan komentar dan umpan balik dari siswa lain.
8. Presentasi kelompok
Mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
9. Evaluasi
Pada saat presentasi, setiap kelompok dievaluasi oleh guru.
Model pembelajaran co-op co-op tentunya memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan pada penggunaannya. Kelebihan model pembelajaran co-op co-op menurut Kagen (dalam Warsono dan Hariyanto, 2012, hlm. 238), di antaranya:
1. Dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam mengerjakan tugas pada kelompok masing-masing.
2. Memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil.
3. Dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang diri sendiri dan lingkungannya.
4. Dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk saling berbagi pemahaman baru dengan teman-teman sekelasnya.
Adapun kelemahan penggunaan model pembelajaran co-op co-op, antara lain:
1. Siswa yang pandai akan merasa bahwa dirinya yang paling mampu untuk mengerjakan tugas kelompoknya.
2. Dalam pelaksanaan kerja kelompok, siswa yang mampu akan mendominasi presentasi kelompok.

Referensi
Warsono, & Hariyanto (2012). Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yusron, N. (2005). Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.


EmoticonEmoticon