Thursday, 9 August 2018

Sikap Jujur


Sikap Jujur
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

jujur itu hebat

Sikap merupakan proses kesadaran yang bersifat individual. Artinya, proses ini terjadi secara subyektif dan unik pada diri setiap individu. Keunikan tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan individual yang berasal dari nilai-nilai dan norma yang ingin dipertahankan dan dikelola oleh individu.
Samani dan Hariyanto (2012, hlm. 51) mengemukakan jujur adalah “menyatakan apa adanya, terbuka, konsisten antara yang dikatakan dan dilakukan, berani karena benar, dapat dipercaya, dan tidak curang”. Menurut Naim (2012, hlm. 132) jujur merupakan “nilai penting yang harus dimiliki oleh setiap orang”. Menurut Elfindri (2012, hlm. 96) jujur berarti “lurus hati, tidak berbohong misalnya dalam perkataan berkata apa adanya, tidak curang, dan senantiasa mengikuti peraturan yang berlaku”. Sikap jujur akan membuat seseorang mendapat ketenangan hati dan pikiran.
Menurut Mustari (2011, hlm. 19) indikator sikap jujur siswa di sekolah, antara lain:
1. Menyampaikan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya.
2. Bersedia mengikuti kesalahan, kekurangan, ataupun keterbatasan diri.
3. Tidak suka mencontek.
4. Tidak suka berbohong.
5. Tidak memanipulasi fakta/informasi.
6. Berani mengakui kesalahan.

Menurut Aunillah (2011, hlm. 49) terdapat sejumlah hal yang perlu dilakukan oleh guru dalam membangun karakter jujur pada siswa, di antaranya:

1. Proses pemahaman terhadap kejujuran itu sendiri
Akan terasa sulit menanamkan sikap jujur kepada siswa apabila guru tidak memberikan pemahaman yang memadai mengenai makna kejujuran. Siswa biasanya sekedar mengerti bahwa salah satu ciri orang yang baik adalah bersikap jujur. Namun, siswa kurang memahami alasan seseorang harus bersikap jujur, pengaruhnya terhadap berbagai hal, serta cara menumbuhkan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menyediakan sarana yang dapat merangsang tumbuhnya sikap jujur
Membentuk karakter jujur pada siswa memang tidak bisa dilakukan dengan sekedar menyampaikan materi. Guru harus menyediakan alat bantu yang dapat mendukung terciptanya iklim kejujuran pada diri siswa. Sikap jujur tidak hanya harus dipahami oleh siswa, tetapi sikap jujur harus dibiasakan di sekolah.

3. Keteladanan
Guru merupakan sosok panutan bagi siswa, yang segala gerak-gerik dan sikapnya ditiru oleh peserta didik. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan sikap jujur pada siswa, guru harus memberikan contoh konkret dengan cara berusaha bersikap jujur dan disiplin dalam setiap kesempatan.

4. Terbuka
Di lingkungan sekolah, guru harus berusaha membangun iklim keterbukaan dengan siswa. Jika ada siswa yang melakukan pelanggaran, sebaiknya ia ditegur dengan cara menunjukkan letak kesalahannya. Sedapat mungkin, guru tidak berusaha menutupi kesalahan yang dilakukan oleh siswa dengan alasan apapun. Sebab, hal ini akan menjadikan siswa selalu merasa aman saat berbuat kesalahan.
Perlu disadari keterbukaan sikap guru terhadap siswa akan memperkecil kemungkinan siswa bersikap tidak jujur terhadap orang lain karena dengan terbangunnya sikap keterbukaan, siswa merasa memiliki tempat curahan perhatian dan kasih sayang, yang ditunjukkan dengan adanya sikap keterbukaan tersebut.

5. Tidak bereaksi berlebihan
Cara lain untuk mendorong siswa agar bisa bersikap jujur adalah tidak bereaksi berlebihan bila siswa berbohong. Guru mesti bereaksi secara wajar sekaligus membantunya agar berani mengatakan kebenaran. Sebab, sebenarnya siswa sadar bahwa kebohongan yang telah siswa lakukan membuat gurunya kecewa. Namun, jika guru bereaksi berlebihan saat menunjukkan kekecewaan, siswa akan merasa ketakutan untuk berkata jujur.
Ketakutan karena reaksi berlebihan, seperti marah, memberi hukuman yang terlalu berat, ataupun lain-lain, akan memaksa siswa secara perlahan mempelajari kebohongan. Siswa akan berusaha mencari cara untuk mengingkari dan tidak berani berkata jujur karena takut akan mendapat reaksi serupa. Oleh karena itu, meskipun guru merasa kecewa atas kebohongan yang telah dibuat oleh siswa, sebaiknya guru menunjukkan kekecewaan secara wajar dan membantu siswa agar berani mengatakan kebenaran.

Referensi
Aunillah, N. A. (2011). Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta: Erlangga.
Elfindri (2012). Pendidikan Karakter: Kerangka, Metode, dan Aplikasi untuk Pendidikan dan Profesional. Jakarta: Baduose Media.
Mustari, M. (2011). Nilai Karakter. Yogyakarta: Laksbang Pressindo.
Naim, N. (2012). Character Building: Optimalisasi Peran Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu dan Pembentukan Karakter Bangsa. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Samani, M., & Hariyanto (2012). Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon