Wednesday, 29 August 2018

Suplemen Kurikulum 1999


Suplemen Kurikulum 1999
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kurikulum 1999

Kejatuhan rezim Soeharto pada tahun 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Pada Kurikulum 1994 perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, karena beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal.
Pada Kurikulum 1994, materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan sebagainya. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Alhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.
Hal tersebut mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan Kurikulum 1994. Salah satu upaya penyempurnaan tersebut dengan diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1999. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, sebagai berikut:
1. Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
2. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan, serta sarana pendukung.
3. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
4. Pennyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
5. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikan dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana/prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
Meski demikian, Suplemen Kurikulum 1999 tetap belum menyentuh titik lemah secara mendasar dari Kurikulum 1994. Adapun titik lemah mendasar dari Kurikulum 1994, dijabarkan sebagai berikut:
1. Mengenai tunggalistik
Pada realitasnya Kurikulum 1994 tidak bersifat pluralistik dikarenakan kurang mengakomodasi perbedaan potensi dan kultur yang ada di masyarakat. Kurikulum 1994 sarat dengan muatan nasional yang berkonotasikan pada keseragaman beban. Memang benar bahwa setiap sekolah diberi kesempatan untuk mengembangkan muatan lokal yang boleh berbeda antara sekolah yang satu dengan lainnya. Namun, pada realitasnya banyak yang tidak berjalan.
Secara teknis juga sangat sulit melaksanakan muatan lokal karena adanya tuntutan jam wajib yang terlalu padat, yakni 42 jam masing-masing untuk siswa kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Menegah Umum (SMU) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Juga 42 jam untuk siswa kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) dan 40 jam untuk kelas 4 SD. Jumlah ini pun belum termasuk mata pelajaran khas bagi sekolah-sekolah swasta yang berkarakter.
2. Mengenai fleksibilitas
Kurikulum 1994 terkesan kaku dan benar-benar tidak fleksibel. Beratnya beban yang ada pada kurikulum menyebabkan sekolah tidak bisa kreatif untuk mengembangkan ide dan pemikirannya. Baik sisi material (subject matter) maupun dari sisi cara pengajaran (methodology).
Guru-guru di sekolah tidak mengaplikasikan pendekatan kreativitas dan kasih sayang tetapi lebih cenderung pada bagaimana dapat mengejar target kurikulum. Bagaimana seluruh bahan ajar dapat disampaikan kepada siswa agar tidak ada keluhan di Ebtanas (ujian akhir) mengakibatkan guru terkesan terburu-terburu dalam mengajar tanpa mempedulikan kemampuan siswa yang berbeda antara satu dengan yang lain. Apabila ada sebagian siswa yang tertinggal dalam mengikuti pelajaran tertentu menjadi persoalan yang kesekian setelah persoalan pencapaian target kurikulum terselesaikan. Akibatnya, banyak siswa yang tertinggal.
3. Mengenai wawasan keeksaktaan
Jika dicermati ternyata materi eksakta dalam Kurikulum 1994 relatif sangat rendah. Secara lebih konkrit kita dapat mengambil contoh di satuan SD, dari delapan (8) mata pelajaran di SD ternyata hanya dua (2) saja (25 persen) yang merupakan mata pelajaran eksakta, sedangkan selebihnya bersifat noneksakta. Rendahnya wawasan keeksaktaan anak didik tentu berpengaruh pada banyak hal, seperti kemampuan dalam mengembangkan teknologi.


EmoticonEmoticon