Thursday, 2 August 2018

Teori Nativisme


Teori Nativisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Nativisme berasal dari kata bahasa Latin, natus yang berarti lahir atau nativus yang berarti kelahiran. Nativisme merupakan sebuah doktrin yang berpengaruh besar terhadap teori pemikiran psikologis. Teori nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenhauer tahun 1788-1860. Schopenhauer yang merupakan seorang filosof Jerman mengemukakan bahwa perkembangan manusia telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya, maupun karena ditakdirkan demikian.
Prinsipnya, teori nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lain yang kapasitasnya berbeda dalam diri setiap manusia. Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orangtua ahli musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah atau kurang dari kemampuan orangtuanya.
Berdasar teori nativisme, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, yakni:

1. Faktor genetik
Orangtua sangat berperan penting dalam faktor penurunan sifat. Melalui bertemunya atau menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan keturunan yang akan memiliki bakat seperti orangtuanya.

2. Faktor kemampuan anak
Pada faktor ini, anak dituntut untuk menemukan bakat yang dimilikinya, dengan menemukan bakat tersebut, anak dapat mengembangkan bakatnya, serta lebih menggali kemampuannya. Jika anak tidak dituntut untuk menemukan bakatnya, maka anak akan sulit untuk mengembangkan bakatnya dan bahkan sulit untuk mengetahui apa sebenarnya bakat yang dimiliki.

3. Faktor pertumbuhan anak
Pada setiap pertumbuhan dan perkembangan, anak selalu didorong untuk mengetahui bakat dan minatnya. Dengan begitu, anak akan bersikap responsif atau bersikap positif terhadap kemampuannya.

Teori nativisme beranggapan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir. Sehingga dengan teori ini setiap manusia diharapkan:
1. Dapat memunculkan bakat yang dimiliki
Manusia diharapkan setelah menemukan bakat yang dimiliki, dapat dikembangkan dan akan menjadikan suatu kemajuan besar baginya.
2. Menjadikan diri yang berkompetisi
Manusia dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya sehingga mempunyai potensi dan dapat berkompetisi dengan orang lain.
3. Mendorong manusia dalam menentukan pilihan
Diharapkan manusia bersikap bijaksana terhadap apa yang akan dipilih serta mempunyai suatu komitmen dan bertanggungjawab terhadap apa yang dipilihnya.
4. Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi diri
Artinya, dalam mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki, manusia diharapkan terus berperan aktif dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya tersebut.
5. Mendorong manusia mengenali bakat dan minat yang dimiliki
Melalui teori nativisme, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, dengan artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki, maka manusia dapat lebih memaksimalkan bakatnya secara optimal.

Tokoh-tokoh teori nativisme, antara lain:

1. Arthur Schopenhauer

Teori Nativisme

Schopenhauer dilahirkan di Danzig, Jerman pada tanggal 22 Februari 1788. Scopenhauer dibesarkan oleh keluarga pebisnis. Karyanya yang terkenal adalah The World as Will and Representation. Ia memiliki pandangan bahwa pembawaanlah yang menentukan perkembangan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti ditentukan oleh anak itu sendiri.

2. Immanuel Kant

Teori Nativisme

Kant dilahirkan di Koningsberg, Jerman pada 22 April 1724. Ia merupakan seorang filosof Jerman. Karyanya yang terkenal adalah Kritik der Reinen Vernunft. Ia berpendapat bahwa apa apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra, lain dari itu merupakan ide atau ilusi saja. Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum, yang dikenal dengan istilah imperatif kategoris. Adapun yang dapat diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.

3. Gottfried Wilhelm Leibniz

Teori Nativisme

Leibniz merupakan seorang filosof Jerman yang lahir di Leizpig, Jerman pada 1 Juli 1646. Ia memiliki pandangan bahwa perkembangan manusia sudah ditentukan sejak lahir. Manusia hidup dalam keadaan yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan.

Faktor pembawaan bersifat kodrati, tidak dapat dirubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan. Untuk mendukung teori nativisme, di era sekarang banyak dibuka pelatihan dan kursus untuk mengembangkan bakat, sehingga bakat yang dibawa sejak lahir tersebut dilatih dan dikembangkan agar setiap individu mampu mengolah potensi diri.


EmoticonEmoticon