Saturday, 8 September 2018

Model Pembelajaran Experiential Learning


Model Pembelajaran Experiential Learning
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Teori experiential learning, yang kemudian menjadi dasar model pembelajaran experiential learning, dikembangkan oleh David Kolb pada awal 1980-an. Model tersebut menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Pada experiential learning, “pengalaman memiliki peran sentral dalam proses belajar” (Kolb, dalam Baharudin dan Wahyuni, 2007, hlm. 165).
Menurut Abdul (2015, hlm. 93) “Model pembelajaran experiential learning merupakan model proses belajar yang mengaktifkan siswa untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung”. Experiential learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong siswa mengembangkan kapasitas dan kemampuan dalam proses pembelajaran. Adapun Kolb (dalam Muhammad, 2015, hlm. 128) mengemukakan bahwa model pembelajaran experiential learning adalah “belajar sebagai proses mengontruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman”. Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara berbuat dan berpikir. Pada proses belajar tersebut siswa secara aktif berpikir tentang apa yang dipelajari, kemudian bagaimana menerapkan apa yang telah dipelajari dalam situasi nyata.
Tujuan penggunaan model pembelajaran experiential learning untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yakni (1) mengubah struktur kognitif siswa, (2) mengubah sikap siswa, dan (3) memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang telah ada. Ketiga cara tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan.
Kualitas belajar experiential learning mencakup keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada diri siswa. Model ini memberikan kesempatan pada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang menjadi fokus mereka, keterampilan-keterampilan apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami.
Prosedur pembelajaran dalam experiential learning disebut juga Kolb’s experiential learning cycle terdiri atas empat (4) tahap yang dikemukakan oleh Kolb (dalam, Baharudin dan Wahyuni, 2007, hlm. 166), dijabarkan pada bagan berikut:

kolb experiential learning cycle

Lebih rinci, dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap pengalaman konkret
Pada tahap ini siswa disediakan stimulus yang mendorong mereka melakukan sebuah aktivitas. Aktivitas ini dapat berangkat dari suatu pengalaman yang pernah dialami ataupun situasi yang realistik.
2. Tahap refleksi observasi
Pada tahap ini siswa mengamati pengalaman dari aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan panca indera atau dengan bantuan alat peraga. Selanjutnya siswa merefleksikan pengalamannya. Proses refleksi akan terjadi apabila guru mampu mendorong siswa untuk mendeskripsikan kembali pengalaman yang diperolehnya, mengomunikasikan kembali, dan belajar dari pengalaman tersebut.
3. Tahap penyusunan konsep abstrak
Setelah melakukan observasi dan refleksi, pada tahap pembentukan konsep, siswa mulai mengonseptualisasi suatu teori atau model dari pengalaman yang diperoleh dan mengintegrasikan dengan pengalaman sebelumnya. Pada tahap ini dapat ditentukan apakah terjadi pemahaman baru atau proses belajar pada diri siswa atau tidak. Jika terjadi proses belajar, maka (1) siswa akan mampu mengungkapkan aturan-aturan umum untuk mendeskripsikan pengalaman tersebut, (2) siswa menggunakan teori yang ada untuk menarik kesimpulan terhadap pengalaman yang diperoleh, dan (3) siswa mampu menerapkan teori yang terabstraksi untuk menjelaskan pengalaman tersebut.
4. Tahap aplikasi
Pada tahap ini, “siswa mencoba merencanakan bagaimana menguji keampuhan model atau teori untuk menjelaskan pengalaman baru yang akan diperoleh selanjutnya” (Kolb, dalam Mardana, 2004, hlm. 189). Pada tahap aplikasi akan terjadi proses bermakna karena pengalaman atau situasi problematika yang baru.
Muhammad (2015, hlm. 138) mengemukakan kelebihan penggunaan model experiential learning, antara lain:
1. Meningkatkan kesadaran rasa percaya diri.
2. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi, perencanaan, dan pemecahan masalah.
3. Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi situasi yang buruk.
Adapun kelemahannya, yakni membutuhkan waktu yang relatif lama dalam melakukan percobaan untuk memperoleh kesimpulan atau suatu konsep yang utuh.

Referensi
Abdul (2015). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad (2015). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Baharudin, & Wahyuni, E. N. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


EmoticonEmoticon