Wednesday, 24 October 2018

Pendekatan Peer Assisted Learning (PAL)


Pendekatan Peer Assisted Learning (PAL)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

peer assisted learning

Peer assisted learning (PAL) adalah pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa yang melibatkan diskusi antara instruktur sebagai pengajar dan siswa lainnya sebagai yang diajar. Pada peer assisted learning, instruktur adalah seseorang yang tingkatannya masih sejajar dengan peserta didik dan bukan guru secara profesi. Instruktur sudah dilatih terlebih dahulu sehingga kompeten dalam mengajar, meskipun bukan berpendidikan guru. Topping (1998) mengemukakan bahwa “peer assisted learning dapat didefinisikan sebagai pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan melalui pemberian bantuan dan dukungan secara aktif melalui orang-orang dengan status yang sama”.
Instruktur adalah siswa yang dianggap lebih mampu daripada siswa lainnya. Tujuan diadakan peer assisted learning adalah “untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembelajaran bagi instruktur dan peserta” (Wadoodi dan Crosby, 2007, hlm. 82). Oleh karena itu, desain peer assisted learning perlu didahului dengan pembuatan materi untuk pelatihan peer assisted learning. “Materi yang dilatihkan sedapat mungkin tidak hanya materi atau topik yang akan dibawakan, tetapi juga materi prinsip teaching and learning bagi peer assisted learning” (Topping, 2008, hlm. 440).
Terdapat sejumlah kriteria sebagai seorang instruktur, antara lain:
1. Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata peserta satu kelas.
2. Mampu menjalin kerjasama dengan peserta lain.
3. Memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik.
4. Memiliki sikap toleransi, tenggang rasa, dan ramah dengan sesama.
5. Memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik.
6. Bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab membantu sesama yang mengalami kesulitan.
Adapun manfaat menggunakan peer assisted learning bagi seorang tutor menurut (Fachikov, 2001), di antaranya:
1. Meningkatkan keterampilan dalam memimpin.
2. Meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi.
3. Meningkatkan kemampuan dalam presentasi.
4. Meningkatkan keterampilan dalam bekerja sama.
5. Lebih mendalam dalam pemahaman materi.
6. Meningkatkan perilaku yang lebih baik.
Sedangkan manfaat peer assisted learning bagi peserta, antara lain:
1. Meningkatkan kemampuan dalam pemahaman konsep-konsep materi yang diberikan.
2. Meningkatkan pemahaman materi peserta.
3. Meningkatkan kenyamanan peserta dalam penerimaan materi.
4. Meningkatkan prestasi akademis.
Terdapat sejumlah keunggulan dengan menggunakan instruktur sebaya seperti yang dikemukakan Arikunto (1995), antara lain:
1. Adakalanya hasil yang didapat lebih baik karena peserta lebih nyaman untuk bertanya.
2. Bagi instruktur akan dapat memperkuat konsep yang dibahas.
3. Bagi instruktur merupakan kesempatan melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran.
4. Mempererat hubungan sosial antar siswa.
Adapun kelemahan dalam menggunakan peer assisted learning, di antaranya:
1. Peserta yang dibantu sering kali belajar kurang serius karena hanya berhadapan dengan teman sendiri sehingga hasilnya kurang memuaskan.
2. Ada sejumlah peserta yang merasa malu atau enggan bertanya karena takut kelemahannya diketahui temannya.
3. Sukar untuk menentukan seorang instruktur sebaya karena tidak semua siswa pandai dapat mengajarkan kembali kepada teman-temannya.

Referensi
Arikunto, S. (1995). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Fachikov, N. (2001). Learning Together: Peer Tutoring in Higher Education. New York: Routledge Falmer.
Topping, K. J. (1998). Peer-Assisted Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum.
Topping, K. J. (2008). Peer-Assisted Learning: A Planning and Implementation Framework. Med Teach, 30(4), hlm. 440.
Wadoodi, A., & Crosby, J. (2007). Twelve Tips for Peer-Assisted Learning: A Classic Concept Revisited. Med Teach, 29(577), hlm. 82.


EmoticonEmoticon