Wednesday, 28 November 2018

Konsep Pendidikan 4.0


Konsep Pendidikan 4.0
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pendidikan 4.0

Konsep pendidikan 4.0 terinspirasi dari revolusi industri 4.0. Sejarah revolusi industri dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga kini 4.0. Fase industri merupakan perubahan nyata dari perubahan yang ada. Industri 1.0 ditandai dengan mekanisme produksi untuk menunjang efektivitas dan efesiensi aktivitas manusia. Industri 2.0 dicirikan oleh produksi massal dan standarisasi mutu. Industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomatis dan robot. Industri 4.0 kemudian hadir ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Lebih jelas, fase revolusi industri digambarkan sebagai berikut:

Konsep Pendidikan 4.0

Lee, Lapira, dkk. (2013) mengemukakan, industri 4.0  ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor, yakni (1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas, (2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis, (3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin, dan (4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing. Liffler dan Tschiesner (2013) menambahkan prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai serta proses produksi untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri.
Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia.
Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian global. Oleh karena itu, manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat, sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.
Tantangan industri 4.0 dijabarkan sebagai berikut:

Tantangan ekonomi
1. Globalisasi terus berlanjut:
a. Keterampilan antarbudaya
b. Kemampuan berbahasa
c. Fleksibilitas waktu
d. Keterampilan jaringan
e. Pemahaman proses
2. Meningkatnya kebutuhan inovasi:
a. Pemikiran wirausaha
b. Kreativitas
c. Pemecahan masalah
d. Bekerja di bawah tekanan
e. Pengetahuan mutakhir
f. Keterampilan teknis
g. Keterampilan penelitian
h. Pemahaman proses
3. Permintaan orientasi layanan yang lebih tinggi:
a. Pemecahan konflik
b. Kemampuan komunikasi
c. Kemampuan berkompromi
d. Keterampilan berjejaring
4. Tumbuh kebutuhan untuk kerja sama dan kolaboratif:
a. Mampu berkompromi dan kooperatif
b. Kemampuan berkerja dalam tim
Tantangan sosial
1. Perubahan demografi dan nilai sosial:
a. Kemampuan mentransfer pengetahuan
b. Penerimaan rotasi kerja dan perubahan pekerjaan terkait
c. Keterampilan memimpin
2. Peningkatan kerja virtual:
a. Fleksibilitas waktu dan tempat
b. Keterampilan teknologi
c. Keterampilan media
d. Pemahaman keamanan teknologi informasi
3. Pertumbuhan kompleksitas proses:
a. Keterampilan teknis
b. Pemahaman proses
c. Motivasi belajar
d. Toleransi ambiguitas
e. Pengambilan keputusan
f. Penyelesaian masalah
g. Keterampilan analisis
Tantangan teknis
1. Perkembangan teknologi dan penggunaan data eksponensial:
a. Keterampilan teknis
b. Kemampuan analisis
c. Efesiensi dalam bekerja dengan data
d. Keterampilan koding
e. Kemampuan memahami keamanan teknologi informasi
f. Kepatuhan
2. Menumbuhkan kerja kolaboratif:
a. Mampu berkerja dalam tim
b. Kemampuan komunikasi virtual
c. Keterampilan media
d. Pemahaman keamanan teknologi informasi
e. Kemampuan untuk bersikap kooperatif
Tantangan lingkungan
Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya:
a. Pola pikir berkelanjutan
b. Motivasi menjaga lingkungan
c. Kreativitas untuk mengembangkan solusi keberlanjutan baru
Tantangan politik dan aturan
1. Standarisasi:
a. Keterampilan teknis
b. Keterampilan koding
c. Pemahaman proses
2. Keamanan data dan privasi:
a. Pemahaman keamanan teknologi informasi
b. Kepatuhan

Adapun kesemuaan tersebut memunculkan tantangan dari perspektif pendidikan berupa perubahan perilaku generasi dalam konteks pembelajaran dalam bentuk potensi distraksi yang cukup tinggi pada setiap individu, information overload, bahkan tidak terverifikasi, dan dominan pada interaksi virtual. Perubahan metode pengajaran, seperti penggunaan konsep baru dan infrastruktur baru berupa perangkat berbasis virtual. Perubahan proses pembelajaran, infrastruktur pembelajaran, peningkatan kapasitas komputasi, dan pergeseran presence learning menuju distance learning.
Tantangan tersebut harus dijawab dengan cepat dan tepat agar tidak berkontribusi terhadap peningkatan pengangguran. Untuk itu, muncul konsep pendidikan 4.0, yang mencerminkan fase perubahan pendidikan, digambarkan sebagai berikut:

Konsep Pendidikan 4.0

Proses transformasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendidikan 1.0 merupakan pembelajaran anak kecil (children learning), yang dikenal dengan istilah pedagogi.
2. Pendidikan 2.0 merupakan pembelajaran orang dewasa (adult learning), yang dikenal dengan istilah andragogi.
3. Pendidikan 3.0 merupakan pembelajaran orang dewasa (adult learning), yang memanfaatkan penggunaan mobilitas (mobile learning).
4. Pendidikan 4.0 merupakan pembelajaran mandiri (self-determined learning), yang dikenal dengan istilah heutagogi.
Hal tersebut juga berimplikasi terhadap perubahan peran pendidik, yang digambarkan sebagai berikut:
Konsep Pendidikan 4.0
Konsep Pendidikan 4.0
Konsep Pendidikan 4.0

Konsep Pendidikan 4.0

Pendidikan 4.0 tidak berfokus pada apa yang diajarkan, tetapi melakukan pendekatan bernuansa cara mengajarkannya, sehingga dapat mengembangkan dan meningkatkan pendidikan individual yang akan terus mendefinisikan cara anak masa depan bekerja dan hidup.
Muatan pembelajaran pendidikan 4.0 harus selalu menyesuaikan dengan perubahan, diharapkan mampu memenuhi keterampilan, antara lain (1) pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi, (2) keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT, (3) karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemipinan dan tanggung jawab (Trilling dan Fadel, 2009).
Referensi
Lee, J., Lapira, E., dkk. (2013). Recent Advances and Trends in Predictive Manufacturing Systems in Big Data Environment. Manuf Journal, 1(1), hlm. 38-41.
Liffler, M., & Tschiesner, A. (2013). The Internet of Things and the Future of Manufacturing. United States: McKinsey & Company.
Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st-Century Skills: Learning for Life in Our Times. United States: Jossey-Bass A Wiley Imprint.


EmoticonEmoticon