Thursday, 29 November 2018

Model Pembelajaran Example Non-Example


Model Pembelajaran Example Non-Example
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

example non example

Example non-example merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran. Model ini bertujuan “mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis dengan memecahkan permasalahan-permasalahan yang termuat dalam contoh-contoh gambar yang disajikan” (Huda, 2013, hlm. 234).
Menurut Komalasari (2011, hlm. 61) example non-example membelajarkan kepekaan siswa terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya melalui analisis contoh-contoh berupa gambar-gambar/foto/kasus yang bermuatan masalah”. Sedangkan Hamdani (2011, hlm. 94) mengemukakan example non-example adalah “metode belajar yang menggunakan contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan kompetensi dasar”.
Penggunaan media gambar dirancang agar siswa dapat menganalisis gambar tersebut untuk kemudian dideskripsikan secara singkat perihal isi dari sebuah gambar. Dengan demikian, model ini menekankan pada konteks analisis siswa. Gambar yang digunakan dalam model ini dapat ditampilkan melalui overhead projector (OHP), proyektor, atau yang paling sederhana, menggunakan poster. Gambar ini harus jelas terlihat meski dari jarak jauh, sehingga siswa yang berada di bangku belakang dapat juga melihatnya dengan jelas. Model pembelajaran example non-example juga ditujukan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep. Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara, yakni pengamatan dan definisi. Example non-example adalah “strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep” (Huda, 2013, hlm. 234).
Menurut Buehl (dalam Huda, 2013, hlm. 235) model example non-example melibatkan siswa untuk:
1. Menggunakan sebuah contoh untuk memperluas pemahaman suatu konsep dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.
2. Melakukan prosesi discovery (penemuan), yang mendorong mereka membangun konsep secara progresif melalui pengalaman langsung terhadap contoh-contoh yang mereka pelajari.
3. Mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non-example yang memungkinkan masih memiliki karakteristik konsep yang telah dipaparkan pada bagian example.
Menurut Hanafiah dan Suhana (2009, hlm. 41) langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam model example non-example sebagai berikut:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan tulis, atau ditayangkan melalui proyektor.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan dan menganalisis gambar.
4. Melalui diskusi kelompok dua sampai tiga orang peserta didik dan hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat.
5. Setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusi.
6. Mulai dari komentar hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan.
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Huda (2013, hlm. 236) menyatakan bahwa kelebihan model example non-example, antara lain:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Sementara itu, model ini juga memiliki kelemahan karena tidak semua materi pelajaran dapat disajikan dalam bentuk gambar. Di sisi lain, persiapannya terkadang membutuhkan waktu lama.

Referensi
Hamdani (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Hanafiah, N., & Suhana, C. (2009). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama.
Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Komalasari, K. (2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama.


EmoticonEmoticon