Monday, 17 December 2018

Bipolar Disorder


Bipolar Disorder
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

penyakit mental bipolar

Bipolar disorder adalah jenis penyakit dalam keilmuan psikologi. Pada perkembangannya bipolar disorder adalah salah satu penyakit mental yang masuk dalam kategori gangguan kejiwaan. “Penyakit bipolar masuk dalam deretan daftar penyakit yang saat ini menjadi objek kajian dan penelitian, baik dari kalangan profesional, para psikolog, kedokteran serta pihak-pihak yang menggandrungi ilmu psikologi” (Sarlito, 1995, hlm. 27).
Bipolar disorder merupakan suatu penyakit mental, disebut juga dengan istilah manic-depressive, yang berarti antara kebahagiaan atau perasaan gembira yang terjadi secara berlebihan dan perasaan depresi atau frustasi yang terjadi secara tidak wajar dan tidak terkendali. Menurut Safari dan Saputra (2009, hlm. 35) bipolar disorder adalah “suatu alam perasaan yang dialami oleh penderitanya yang terdiri atas dua elemen utama, yaitu mania dan depresi di mana kedua elemen tersebut akan terjadi secara tiba-tiba dan cepat dalam kurun waktu yang cukup lama”.
Seseorang yang menderita penyakit mental bipolar disorder memiliki rekam hidup dan pengalaman-pengalaman baik pada masa lampau maupun yang berlangsung, di mana hal ini ditandai dengan adanya perubahan mood, baik ringan maupun berat, hingga pada level yang sangat ekstrim sekalipun. “Seseorang mengidap penyakit mental bipolar disorder biasanya ketika masa remaja di mana pada masa remaja individu dianggap rentan mengidap bipolar yang disebabkan karena kondisi fisik dan psikologisnya masih labil” (Krahe, 2005, hlm. 94). Hal yang paling umum dan populer bagi pengidap bipolar ialah di mana individu individu akan mengalami depresi dan mania. Pada dasarnya istilah bipolar disorder sendiri adalah “berdasarkan pada suasana dan keadaan hati penderitanya, di mana mood individu akan mengalami perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, seperti antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan, yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang sangat ekstrim” (Safari dan Saputra, 2009, hlm. 50).
Pada saat-saat tertentu individu yang memiliki penyakit bipolar disorder akan merasakan perasaan antusias yang tinggi dan sangat bersemangat. Hal ini terjadi karena biasanya perasaan dan pikirannya berada dalam keadaan yang stabil sehingga terlihat seperti orang normal. Namun apabila mood-nya berubah menjadi buruk yang berlawanan dengan perasaan bahagianya, maka ia akan merasa marah, benci, takut, jengkel, emosi, serta hal-hal buruk di mana ia merasa bahwa hal tersebut tidak baik. Pada tahap yang sangat ekstrim, individu tersebut akan depresi, putus asa, dan pesimis.
Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya penyakit bipolar disorder, di antaranya:
1. Faktor genetik
Faktor gen yang disebabkan oleh penyakit bawaan atau keturunan merupakan salah satu faktor paling utama yang menyebabkan seseorang mengidap penyakit bipolar disorder. Individu yang berasal dari keluarga yang memiliki rekam penyakit bipolar secara turun-temurun maka akan memiliki resiko yang cukup besar, di mana individu tersebut juga akan terindikasi mengidap penyakit yang sama.
2. Keluarga
Keluarga adalah unsur yang terpenting bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan dan hari-hari yang ia lalui, baik dalam keadaan senang maupun sedih keluarga adalah wadah dan lembaga yang menjadi tempat sandaran di mana individu akan mencurahkan semua yang ia rasakan. Selain itu, keluarga merupakan penentu utama sebagai akibat dari penyebab munculnya penyakit bipolar disorder.
Keluarga adalah kelompok sosial yang menjadi sumber dari terbentuknya pribadi yang menyimpang atas individu, di mana penderita bipolar hampir sebagian besar waktunya dihabiskan bersama dengan keluarganya. Rusaknya hubungan dalam keluarga maka akan semakin cepat terbentuknya pribadi individu menuju ke arah bipolar, di mana “bipolar sangat rentan terhadap hal-hal yang bersifat kekerasan fisik maupun non fisik, pertengkaran, perceraian orang tua, kurangnya kasih sayang keluarga, serta adanya perbedaan-perbedaan dalam keluarga sehingga memicu konflik yang berkelanjutan” (Hanafi, 2005, hlm. 400).
3. Lingkungan
Faktor lingkungan bagi penderita bipolar memiliki resiko yang cukup besar di mana munculnya ketidakseimbangan. Apabila hal ini terjadi maka akan menyebabkan semakin berkembangnya penyakit bipolar disorder terhadap penderitanya. Hal ini tentu akan semakin mempersulit dalam memberatkan dalam proses pengobatannya mengingat bahwa bipolar adalah suatu penyakit mental yang berbahaya bagi penderitanya. Dengan demikian, dibutuhkan adanya dukungan dan motivasi sosial dari lingkungan individu.
Adapun hal yang menjadi faktor penyebab munculnya bipolar disorder yang disebabkan lingkungan, yakni stress. Stress merupakan suatu bentuk dari perasaan yang tidak stabil, disebabkan oleh kejadian-kejadian yang bersifat seperti memalukan, banyak pikiran, pertumpukan masalah, adanya kegagalan dalam hal yang bersifat pencapaian hidup bagi penderita bipolar. Stress adalah suatu kondisi ketegangan fisik atau psikologis yang disebabkan adanya persepsi ketakutan dan kecemasan. Hal ini menimbulkan perasaan frustasi bagi individu penderita bipolar di mana pencapaian tujuannya telah terganggu. Pada proses ini individu akan merasa was-was dan khawatir dalam mencapai tujuannya.
Terdapat empat jenis mood manusia dalam penyakit mental bipolar disorder, yakni:
1. Bipolar I (mania)
Jenis penyakit mental bipolar disorder memiliki karakter sendiri dalam setiap jenis dan tahapannya. Gejala yang terjadi pada tahap bipolar satu adalah bentuk dari gejala mania yang berada pada tahap yang cukup mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan yang  tepat dalam proses penyembuhan, baik melalui medis atau non medis. “Pada dasarnya bipolar satu cenderung terjadi pada individu yang mengalami depresi berat serta sering kali merasa frustasi secara tidak normal dan wajar” (Altemeyer, 2006, hlm. 112).
Adapun beberapa gejala dan karakteristik penderita bipolar disorder pada bipolar satu ialah di mana “individu akan merasa gembira dan bahagia yang berlebihan, berbicara dengan sangat cepat, mudah tersinggung dan cepat marah, memiliki lebih banyak ide dan kreatifitas, serta bersemangat yang meluap-luap dan sangat aktif, sering berhalusinasi, meningkatnya nafsu seksual, suka mengkritik orang lain, berpikiran pendek, sulit tidur, dan terlihat lebih cerdas dan pintar” (Kirkpatrick dan Hood, 2009, hlm. 93).
2. Bipolar II (hypomania)
Jenis bipolar hypomania merupakan suatu kondisi di mana penderita bipolar berada dalam satu titik yaitu keadaan di mana individu merasa sangat bahagia secara berlebihan yang tidak dapat disembunyikan dan ditahan dengan cara-cara tertentu. Pada situasi ini, individu tidak akan mengalami hal-hal buruk seperti tidak mengalami halusinasi, imajinasi yang berlebihan, dan delusi.
Kendati demikian, bukan berarti hal ini tidak memiliki resiko yang cukup mengkhawatirkan, di mana individu “akan berperilaku secara tidak wajar namun terlihat seperti orang normal pada umumnya meski demikian hal ini tidak akan berlangsung lama dan hanya bertahan dalam kurun waktu yang relatif singkat” (Thio, 2007, hlm. 210).
3. Depresi (bipolar disorder)
Proses terjadinya atau kambuhnya gejala-gejala depresi yang ditandai dengan terjadi frustasi, stress, yang terjadi secara berkelanjutan. “Gejala depresi akan membuat individu merasakan perasaan yang tidak teratur dan tidak karuan pada fungsi tubuh secara normal” (Musthafa, 1977, hlm. 81).
Pada umumnya depresi yang dialami oleh individu pengidap penyakit mental bipolar disorder akan mengalami perasaan pesimis, putus asa, hingga pada tahap yang paling mengkhawatirkan di mana individu akan berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri secara tidak sadar.
4. Depresi campuran (cyclotimia)
Depresi campuran membuat penderitanya berada dalam kondisi yang parah dan mengkhawatirkan, khususnya terhadap keselamatan individu. Tahap ini kurang lebih berlangsung selama dua tahun. “Tahap ini merupakan tahap yang cukup berat dan menjadi masa-masa sulit bagi penderitanya karena memakan waktu yang cukup lama” (Mulyanto, 2003, hlm. 401).

Referensi
Altemeyer (2006). Homophobia dan Disorder. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Hanafi, A. (2005). Memahami Komunikasi antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional.
Krahe, B. (2005). Perilaku Agresif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Krikpatrick, & Hood (2009). Kesehatan Mental dan Psikologi. Bandung: Raja Grafindo Persada.
Mulyanto (2003). Teori dan Praktik dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang Press.
Musthafa, F. (1977). Kesahatan Mental. Jakarta: Bulan Bintang.
Safari, T., & Saputra, N. E. (2009). Manajemen Emosi dan Depresi. Jakarta: Bumi Aksara.
Sarlito, S. W. (1995). Teori-Teori Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Thio, A. (2007). Deviant Behavioristik. Jakarta: Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon