Sunday, 16 December 2018

Ekosistem


Ekosistem
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Ekosistem diartikan sebagai tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap komponen lingkungan hidup yang saling berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu yang bersifat dinamis. Artinya, bisa terjadi perubahan, baik besar maupun kecil, yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun akibat ulah manusia.
Ekosistem dapat bermacam-macam bentuknya sesuai dengan bentangan atau hamparan tempat ekosistem berada, seperti ekosistem hutan, rawa, danau, dan lain-lain. Namun, jika dilihat dari komponennya terdiri atas komponen fisik (abiotik) dan hayati (biotik). Komponen abiotik terdiri atas komponen yang bukan mahkluk hidup, seperti tanah, udara, suhu, angin, curah hujan, dan sebagainya. Semua wujud abiotik tersebut dalam bentuk materi dan energi dalam ekosistem. Materi dan energi yang terdapat dalam komponen abiotik mendukung dan mempengaruhi kehidupan komponen biotik di suatu ekosistem.
Istilah lain untuk ekosistem adalah bioma. Walaupun kelihatannya bioma merupakan bagian dari ekosistem tetapi bioma dapat pula diartikan sebagai ekosistem. Bioma merupakan suatu satuan komunitas pada suatu ekosistem sebagai hasil interaksi iklim regional dengan biota dan sustratnya. Iklim dan substrat atau lahan menentukan jenis biota yang hidup di suatu wilayah, misalnya vegetasi padang rumput tumbuh pada wilayah dengan curah hujan terbatas.
Berdasarkan jenisnya ekosistem dibedakan menjadi:

1. Ekosistem darat
Ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan disebut ekosistem darat. Di dalam ekosistem darat terdapat sejumlah bioma, yakni:

a. Bioma gurun

Ekosistem

Bioma gurun terdapat di daerah dengan curah hujan kurang dari 25 cm/tahun. Daerah tersebut terdapat di sepanjang garis balik utara maupun selatan yang udaranya mengalami subsidensi atau turun, sehingga terjadi pemampatan udara. Selain itu, bioma gurun juga dapat ditemukan di daerah dekat arus laut dingin dan daerah bayangan hujan. Selain curah hujannya yang rendah, daerah gurun juga memiliki suhu yang tinggi pada siang hari, sekitar 450 C dan suhu rendah pada malam hari, dapat mencapai 00 C. Kondisi ini hanya mampu diadaptasi oleh tumbuhan tertentu seperti kaktus. Hewan yang hidup di gurun juga sangat terbatas, seperti ular, kadal, katak, dan kalajengking.

b. Bioma padang rumput

Ekosistem

Bioma padang rumput terbentuk di daerah dengan curah hujan yang terbatas sekitar 25-30 cm/tahun, sehingga tidak mampu mendukung terbentuknya hutan. Bioma ini dapat dijumpai di wilayah tropis maupun subtropis. Tumbuhan utamanya adalah terna (herbs) dan rumput, karena itu di wilayah ini banyak hidup hewan pemakan rumput seperti zebra, bison, jerapah, dan sebagainya. Di sisi lain, banyak pula ditemukan hewan pemangsa seperti singa, anjing liar, serigala, ular, dan sebagainya.

c. Bioma hutan basah

Ekosistem

Bioma ini terbentuk di wilayah dengan curah hujan yang cukup tinggi sekitar 200-225 cm/tahun dan dapat dijumpai di daerah tropis dan subtropis. Curah hujan yang tinggi sangat mendukung tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dengan keragaman yang tinggi. Ketinggian pohon dapat mencapai 20-40 m dan berdaun lebat hingga membentuk kanopi. Suhu sepanjang hari sekitar 250 C dengan variasi yang cukup besar. Tumbuhan khas yang tumbuhdi wilayah ini seperti anggrek dan rotan. Hewan yang hidup di bioma ini juga sangat beragam seperti burung, kera, harimau, badak, babi hutan, dan sebagainya.

d. Bioma hutan gugur

Ekosistem

Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang atau di daerah dengan empat musim. Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Jenis pohon yang dapat dijumpai di bioma ini tidak serapat dan seberagam seperti di bioma hutan basah. Hewan yang dapat dijumpai seperti burung pelatuk, beruang, rubah, bajing, dan rakun.

e. Bioma taiga

Ekosistem

Taiga merupakan suatu formasi hutan yang terutama terdiri atas anggota-anggota kelompok pohon jarum yang terletak di sebelah selatan dari tundra. Batas antara kedua wilayah tersebut sering disebut batas pohon karena merupakan batas antara lingkungan yang masih memungkinkan tumbuhnya pohon dan yang tidak. Taiga merupakan hutan yang hijau sepanjang tahun, walaupun suhu pada musim dingin dapat mencapai puluhan derajat di bawah nol. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersususn atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Hanya sedikit dijumpai semak dan tumbuhan basah. Kayu yang dihasilkan dari hutan ini terutama dimanfaatkan untuk pembuatan kertas, korak api, dan lain-lain. Hewan yang dapat dijumpai, antara lain tikus, beruang hitam, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur. Taiga tersebar di Semenanjung Skandinavia, Rusia, Siberia, Alaska, dan Kanada.

f. Bioma tundra

Ekosistem

Tundra berarti daratan tanpa pohon. Wilayah ini terletak di sekitar kutub utara dengan suhu yang sangat dingin. Tumbuhan yang mampu hidup di daerah ini hanya terdiri atas tumbuhan gulma terutama berbagai tumbuhan sejenis rumput dan lumut kerak. Tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Keadaan vegetasi tundra mirip dengan vegetasi gurun tetapi terdapat di daerah iklim dingin. Hewan yang menghuni bioma ini, antara lain muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan serangga terutama nyamuk dan lalat hitam. Wilayah persebaran tundra terdapat di bagian utara Skandinavia, Finlandia, Rusia, Siberia, dan Kanada.

2. Ekosistem air tawar
Ekosistem air tawar memiliki ciri-ciri variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Tumbuhan yang umum dijumpai adalah ganggang dan tumbuhan biji.
Ekosistem air tawar dapat dikelompokkan menjadi:

a. Danau

Ekosistem

Danau merupakan suatu badan air yang menggenang pada wilayah depresi atau cekungan dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi. Kondisi danau berbeda dilihat dari kedalamannya. Karena itu, terdapat perbedaan komunitas tumbuhan dan hewan berdasarkan kedalaman dan jaraknya dari tepi danau. Danau dibagi menjadi empat daerah yang berbeda, yakni:
1) Daerah litoral
Daerah litoral merupakan daerah dangkal, sehingga cahaya matahari menembus sampai ke dasar danau secara optimal. Tumbuhan yang hidup di daerah ini merupakan tumbuhan air yang berakar dan daun yang mencuat ke atas permukaan air. Berbagai jenis ganggang, siput dan remis, ikan, amfibi, itik, angsa, kura-kura, dapat ditemukan di wilayah ini.
2) Daerah limnetik
Lebih jauh daerah litoral, terdapat daerah limnetik yang masih dapat ditembus oleh sinar matahari. Fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri dapat ditemukan di daerah ini. Sementara itu, rotifera dan udang-udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton tersebut kemudian menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan kecil. Ikan tersebut menjadi sumber makanan bagi ikan yang lebih besar dan kemudian ikan yang lebih besar dimangsa oleh ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
3) Daerah profundal
Daerah profundal merupakan daerah yang dalam dan merupakan daerah afotik danau. Cacingdan mikroba menghuni daerah ini.
4) Daerah bentik
Daerah bentik merupakan daerah dasar danau. Di daerah ini dapat dijumpai organisme mati dan bentos.
Selain berdasarkan jaran dan kedalaman, danau juga dapat dibedakan berdasarkan produksi materi organiknya, yakni:
1) Danau oligotropik
Danau oligotropik merupakan danau yang dalam dan memiliki fitoplankton yang tidak produktif, sehingga kekurangan makanan. Airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan terdapat oksigen sepanjang tahun di dasar danau merupakan ciri danau ini.
2) Danau eutopik
Danau eutropik merupakan danau yang dangkal memiliki fitoplankton yang produktif, sehingga kaya akan kandungan makanan. Airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal merupakan ciri dari danau eutropik.

b. Sungai

Ekosistem

Ekosistem sungai dapat merupakan sebuah bioma dari sebuah ekosistem daratan yang besar. Tidak seperti danau yang relatif diam, air sungai mengalir, sehingga tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri. Namun, terjadi pula fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Ekosistem sungai banyak mengalami gangguan karena pembangunan waduk atau bendungan. Waduk dapat memutus jalan bagi sejumlah ikan yang biasa bergerak dari hilir ke hulu untuk bertelur. Akibatnya, sejumlah spesies ikan hilang dari aliran sungai tersebut.

3. Ekosistem air laut
Ekosistem air laut dapat dibedakan menjadi:

a. Laut

Ekosistem

Sebagian besar permukaan bumi merupakan lautan. Air laut memiliki kadar garam yang tinggi dengan suhu air laut bervariasi. Di daerah tropik, suhu air laut dapat mencapai 250 C dan antara suhu bagian permukaaan dengan bagian bawah laut berbeda cukup besar. Batas antara lapisa air yang hangat di bagian atas dan yang dingin di bagian bawah dinamakan termoklin.
Berdasarkan kedalamannya, ekosistem air laut dapat dibedakan menjadi:
1) Wilayah pasang (littoral)
Wilayah pasang merupakan bagian dari laut yang dasarnya kering ketika terjadi pusut. Ikan tidak dapat hidup di wilayah ini, tetapi beberapa jenis binatang dapat dijumpai pada wilayah ini.
2) Wilayah laut dangkal (neritic)
Sesuai dengan namanya, wilayah ini relatif dangkal sehingga masih dimungkinkan sinar matahari masuk sampai ke dasar laut. Indonesia memiliki wilayah laut dangkal yang cukup luas seperti landas kontinen sunda dan landas kontinen sahul. Wilayah-wilayah tersebut tentunya menyimpan kekayaan berupa flora dan fauna. Ciri-ciri wilayah ini paling dalam mencapai 150 meter, sinar matahari masih tembus sampai ke dasar laut, dan paling banyak dihuni oleh binatang dan tumbuhan laut.
3) Wilayah laut dalam (bathyal)
Wilayah ini berada pada kedalaman antara 150-800 meter. Sinar matahari tidak mampu menembus sampai ke dasar laut. Dengan demikian, jumlah dan jenis binatang yang hidup pada wilayah ini lebih sedikit dibanding wilayah laut dangkal.
4) Wilayah laut sangat dalam (abyssal)
Wilayah ini berada pada kedalaman lebih dari 1800 meter. Dengan kedalaman tersebut, tumbuhan tidak mampu lagi bertahan karena tidak ada sinar matahari. Karena itu jumlah dan jenis hewan pun terbatas, kecuali hewan yang telah beradaptasi dengan lingkungan tersebut.

b. Pantai

Ekosistem

Ekosistem pantai merupakan ekosistem yang letaknya berada di antara ekosistem darat dan laut. Karena letaknya tersebut, ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Karena letaknya pula ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut.
Organisme dominan yang hidup di pantai berdeda dilihat dari lokasinya. Ganggang, moluska, dan remis banyak dijumpai di bagian paling atas pantai yang hanya terendam saat pasang naik tinggi. Organisme tersebut menjadi makanan bagi kepiting dan burung pantai. Bagian tengah pantai banyak dijumpai ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah tersebut terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Sementara itu, beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut banyak ditemui di daerah pantai terdalam yang terendam saat air pasang maupun surut.

c. Estuari

Ekosistem

Estuari atau lebih dikenal dengan istilah muara merupakan tempat pertemuan antara sungai dengan laut. Karena itu, nutrien sungai yang dibawa melaui proses erosi oleh sungai dari daratan dapat memperkaya estuari.
Salinitas di estuari dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut airnya. Pada saat pasang, air laut masuk ke badan sungai dan meningkatkan salinitasnya. Sebaliknya, pada saat surut atau pada saat air sungai mengalir dengan volume yang besar, salinitasnya berubah menjadi rendah sampai menjorok ke arah laut.
Estuari menjadi habitat bagi sejumlah organisme seperti rumput rawa garam, ganggang, fitoplankton, cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Estuari juga menjadi tempat kawin sejumlah invertebrata laut dan ikan laut serta menjadi tempat makan bagi unggas air.

d. Terumbu karang

Ekosistem

Terumbu karang adalah sebuah tipe ekosistem khas tropis. Ekosistem ini dapat dijumpai pada laut di daerah tropis yang airnya jernih, sehingga cahaya matahari dapat menembus air dan memungkinkan terjadinya fotosintesis. Komunitas ini didominasi oleh karang yang merupakan kelompok cnidaria. Terumbu karang juga sangat dikenal akan keragaman jenisnya, termasuk ikan hias yang bernilai ekonomis tinggi. Karena itu, terumbu karang sangat rawan akan kerusakan.
Karang atau koral mensekresikan kalsium karbonat dan rangka dari kalsium karbonat memiliki bentuk yang unik dan bermacam-macam. Karang juga menjadi tempat tinggal organisme lain, seperti ganggang dan berbagai jenis invertebrata, mikroorganisme, ikan, siput, landak laut, gurita, bintang laut, dan lain-lain.
Selain menjadi habitat bagi banyak organisme, terumbu karang memiliki fungsi lain, yakni kekuatan ombak menjadi berkurang dengan adanya terumbu karang, sehingga pantai relatif aman dari kerusakan.


EmoticonEmoticon