Monday, 24 December 2018

Gempa Bumi


Gempa Bumi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

gempa

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi terjadi akibat adanya pergerakan lempeng bumi. Pergerakan ini menimbulkan pergeseran/pelepasan energi yang menyebabkan terjadinya guncangan atau getaran di permukaan bumi.

Istilah-istilah dalam gempa, dijabarkan sebagai berikut:
1. Hiposentrum
Hiposentrum adalah sumber gempa di dalam lapisan bumi. Dari hiposentrum, gelombang gempa menjalar ke segala arah. Ada dua bentuk hiposentrum, yakni (1) hiposentrum berbentuk lurus, jika penyebab gempa merupakan patahan kerak bumi dan (2) hiposentrum berbentuk titik, jika penyebab gempa merupakan letusan gunung berapi atau tanah longsor.
2. Episentrum
Episentrum adalah titik atau garis di permukaan bumi yang tepat tegak lurus di atas hiposentrum. Di sekitar episentrum inilah kerusakan terparah akibat gempa bumi terjadi. Dari episentrum, getaran permukaan menjalar secara horizontal ke segala arah.
3. Homoseista
Homosiesta adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang dilalui gempa pada waktu yang sama. Umumnya, homosiesta berbentuk lingkaran atau elips.
4. Isoseista
Isoseista adalah garus yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang dilalui oleh gempa yang intensitasnya sama, sehingga tempat-tempat tersebut mengalami kerusakan yang sama. Isosiesta biasanya berbentuk lingkaran atau elips di sekitar episentrum.
5. Makroseisma
Makroseisma adalah daerah-daerah di sekitar episentrum yang mengalami kerusakan terhebat akibat gempa bumi.
6. Pleistoseista
Pleistoseista adalah garis pada peta gempa yang mengelilingi makroseisma. Isosiesta yang pertama terbentuk merupakan pleistoseista.

Pada dasarnya terdapat tiga macam gelombang gempa, yakni:
1. Gelombang longitudinal (gelombang P)
Gelombang longitudinal adalah gelombang gempa yang merambat dari sumber ke segala arah dengan kecepatan 7-14 km per detik. Gelombang jenis ini merupakan gelombang yang pertama kali tercatat oleh seismograf dan yang pertama kali dirasakan oleh orang di daerah gempa.
2. Gelombang transversal (gelombang S)
Gelombang transversal adalah gelombang gempa yang merambat dari sumber ke segala arah dengan kecepatan 4-7 km per detik.
3. Gelombang panjang (gelombang L)
Gelombang panjang adalah gelombang gempa yang merambat dari sumber ke segala arah dengan kecepatan 3,5-3,9 km per detik. Gelombang panjang disebut juga sebagai gelombang permukaan. Karena merambat di permukaan, maka kerusakan yang ditimbulkan akibat gelombang jenis ini adalah yang paling luas.

Berdasar penyebabnya, terdapat lima macam gempa, antara lain:

1. Gempa tektonik

Gempa Bumi

Gempa tektonik disebabkan oleh adanya gerak tektonik berupa patahan atau retakan. Gempa tektonik merupakan gempa terkuat dan mencakup daerah yang luas. Proses terjadinya gempa tektonik adalah patahan aktif bergerak sedikit demi sedikit ke arah yang berlawanan, pada tahap ini terjadi akumulasi energi elastis. Akumalasi energi semakin lama semakin besar mengakibatkan terjadinya deformasi patahan. Tahap selanjutnya energi dilepaskan secara tiba-tiba sehingga menimbulkan gempa bumi tektonik.
Setelah gempa terjadi, patahan kembali mencapai titik keseimbangan. Peristiwa ini menyebabkan pelepasan energi yang diakibatkan energi muncul secara mendadak.

2. Gempa vulkanik

Gempa Bumi

Gempa vulkanik adalah gempa yang disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanik gunung berapi. Gempa yang terjadi akibat gerakan magma di dalam perut bumiyang mendesak ke atas untuk keluar. Gerakan tersebut mengakibatkan getaran yang dapat dirasakan dalam beberapa jam bahkan beberapa hari. Gempa vulkanik dapat terjadi sebelum ataupun sesudah gunung api meletus. Gempa vulkanik merupakan salah satu tanda gunung berapi akan meletus. Gempa vulkanik terjadi pada daerah yang letaknya berdekatan dengan gunung berapi. Gempa ini tidak sehebat gempa tektonik, baik dalam kekuatan maupun luas daerah yang terkena dampak.

3. Gempa geseran atau gempa runtuhan

Gempa Bumi

Gempa geseran atau gempa runtuhan adalah gempa yang terjadi akibat runtuhnya atap gua yang terdapat dalam litosfer, seperti gua kapur atau terowongan pertambangan. Lereng gunung dan pantai curam juga memiliki energi potensial yang cukup untuk runtuh. Runtuhnya dinding gua pada terowongan tambang yang terdapat di bawah tanah dapat menimbulkan getaran di daerah tersebut.

4. Gempa tumbukan

Gempa Bumi

Selain bumi, dalam tata surya terdapat benda langit lainnya yang bergerak mengelilingi orbit bumi, misalnya meteor. Meteor seringkali mencapai atmosfer bumi. Beberapa meteor bahkan jatuh ke permukaan bumi. Meteor yang jatuh ke permukaan bumi menimbulkan getaran, namun peristiwa ini sangat jarang terjadi.

5. Gempa buatan

Gempa Bumi

Suatu percobaan peledakan nuklir bawah tanah atau laut dapat menimbulkan getaran bumi tergantung dengan kekuatan ledakannya. Ledakan dinamit di bawah permukaan bumi juga dapat menimbulkan getaran, namun efek getarannya bersifat lokal.


Alat yang dapat digunakan untuk mengetahui gempa dan menentukan sumber gempa, di antaranya:

1. Seismograf

alat pengukur kekuatan gempa

Seismograf adalah alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa. Seismograf menghasilkan seismogram, yakni rekaman gerakan gempa berupa grafik aktivitas gempat terhadap fungsi waktu.

2. Scintilation counter

alat pengukur gas radon aktif

Scintilation counter merupakan alat untuk mengukur adanya gas radon yang aktif.

3. Tiltmeter

alat pengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi


Tiltmeter merupakan alat pengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi.

4. Magnetometer

alat pengukur perubahan medan magnet bumi

Magnetometer adalah alat untuk mengukur perubahan medan magnet bumi.

5. Creep meter

alat pengukur gerak horizontal dan patahan

Creep meter digunakan untuk mengukur gerak horizontal dan patahan.

6. Gravimeter

alat pengukur gaya berat bumi

Gravimeter digunakan untuk mengukur gaya berat bumi.

Skala Ritcher merupakan skala yang sering digunakan dalam pencatatan gempa bumi. Skala Ritcher pertama kali ditemukan oleh Charles Ritcher pada tahun 1930. Pada Skala Ritcher perhitungan besar gempa diukur berdasarkan besarnya energi yang dilepaskan di pusat gempa bumi. Berdasar Skala Ritcher, besar gempa terbagi atas:
0 – 5 Skala Ritcher = gempa kecil
5 – 6,4 Skala Ritcher = gempa sedang
6,4 – 7,4 Skala Ritcher = gempa besar
Lebih dari 7,4 Skala Ritcher = gempa sangat besar
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi petunjuk tentang langkah antisipasi yang harus dilakukan dalam menghapi gempa bumi yang terbagi menjadi tiga, yakni:
1. Langkah antisipasi sebelum terjadi gempa:
a. Memastikan bahwa letak dan struktur rumah tempat tinggal aman dari bahaya yang ditimbulkan gempa bumi.
b. Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan tempat tinggal.
c. Belajar melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.
d. Belajar menggunakan peralatan pemadam kebakaran.
e. Mencatat nomor telepon penting yang dapat dihubungi saat terjadi gempa bumi.
f. Mengatur tata letak benda dan peralatan di dalam rumah.
2. Langkah pada saat terjadi gempa:
Jika berada di dalam ruangan:
a. Lindungi kepala dari reruntuhan bangunan.
b. Mencari tempat yang aman dari reruntuhan bangunan.
c. Jika masih ada kesempatan, berlari ke luar ruangan.
Jika berada di luar ruangan:
a. Hindari bangunan atau tiang listrik/pohon.
b. Berdiri menjauh dari rekahan tanah.
c. Jika sedang mengendarai kendaraan, segera matikan mesin dan keluar dari kendaraan.
3. Langkah sesudah terjadi gempa:
a. Periksa lingkungan sekitar Anda.
b. Jangan masuk ke dalam bangunan, karena berpotensi runtuh.
c. Jangan berjalan-jalan atau berkeliling ke daerah gempa.
d. Selalu mengikuti perkembangan informasi tentang gempa yang terjadi dan gempa susulan yang mungkin terjadi.


EmoticonEmoticon