Wednesday, 19 December 2018

Media Pembelajaran Augmented Reality


Media Pembelajaran Augmented Reality
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Augmented reality atau realitas tambahan adalah “teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi atau tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut secara real time” (Andriyadi, 2011, hlm. 3). Benda-benda maya berfungsi menampilkan informasi yang tidak dapat diterima oleh manusia secara langsung. Hal ini membuat augmented reality berfungsi sebagai alat untuk membuat persepsi dan interaksi bagi penggunanya.
Menurut Azuma (1997, hlm. 356) terdapat tiga prinsip augmented reality, yakni “(1) augmented reality merupakan penggabungan lingkungan nyata dan virtual, (2) berjalan secara real time, dan (3) terdapat integrasi antar benda dalam tiga dimensi, yaitu benda maya terintegrasi dalam lingkungan nyata”. Dengan demikian, augmented reality diartikan sebagai lingkungan nyata yang ditambahkan objek virtual. Penggabungan objek nyata dan virtual dimungkingkan terjadi dengan teknologi display yang sesuai.
Tujuan utama augmented reality adalah untuk menciptakan lingkungan baru dengan menggabungkan interaksi lingkungan nyata dan virtual, sehingga pengguna merasa bahwa lingkungan yang diciptakan adalah nyata. Dengan kalimat lain, pengguna merasa tidak ada perbedaan yang dirasakan antara augmented reality dengan apa yang mereka lihat di lingkungan nyata.
Menurut Lyu (2012, hlm. 18) terdapat dua jenis metode pencitraan dalam augmented reality, yaitu:

1. Marker based tracking

Media Pembelajaran Augmented Reality

Marker based tracking merupakan metode yang telah dikenal cukup lama dalam teknologi augmented reality. Sistem augmented reality ini membutuhkan marker berupa citra yang dapat dianalisis untuk membentuk reality.
Marker based tracking memiliki ciri khas yakni menggunakan fitur kamera pada device atau gadget untuk menganalisa marker yang tertangkap untuk menampilkan objek virtual seperti video. Pengguna dapat menggerakkan device untuk melihat objek virtual dari berbagai macam sudut yang berbeda.

2. Markerless augmented reality

Media Pembelajaran Augmented Reality

Metode markerless augmented reality adalah metode augmented reality yang sedang berkembang. Metode ini tidak menggunakan sebuah marker untuk menampilkan elemen-elemen virtual. Contoh dari markerless augmented reality adalah face tracking, 3D object tracking, dan motion tracking. Selain itu terdapat juga augmented reality yang menggunakan global positioning system (GPS) atau fitur compass digital. Teknik GPS based tracking memanfaatkan fitur GPS dan kompas yang sudah tersedia dalam device. Aplikasi yang menggunakan fitur ini akan menampilkan dalam bentuk arah ke tempat yang dituju secara real time.
Pada penerapan teknologi augmented reality memiliki sejumlah komponen yang harus ada untuk mendukung kinerja dari proses pengolahan citra digital. Adapun komponen-komponen tersebut menurut Sylva, dkk. (2005, hlm. 2), antara lain:
1. Scene generator
Scene generator adalah komponen yang bertugas untuk melakukan rendering citra yang ditangkap oleh kamera. Objek virtual akan ditangkap kemudian diolah, sehigga objek tersebut dapat ditampilkan.
2. Tracking system
Tracking system merupakan komponen yang terpenting dalam augmented reality. Pada proses tracking dilakukan sebuah pendeteksian pola objek virtual dengan objek nyata sehingga sinkron di antara keduanya.
3. Display
Terdapat sejumlah parameter mendasar yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sistem augmented reality, yaitu faktor resolusi, fleksibilitas, titik pandang, dan tracking area. Pada tracking area, faktor pencahayaan menjadi hal yang perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi proses pencitraan.
4. Augmented reality devices
Augmented reality dapat digunakan pada sejumlah device seperti pada smartphone atau tablet. Saat ini, beberapa aplikasi dengan teknologi ini telah tersedia pada iPhone, iPad, dan android. Selain itu, augmented reality dapat digunakan pada personal computer (PC) dan telivisi yang sudah terhubung dengan kamera, seperti webcam.
Teknologi Augmented reality dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Pada bidang pendidikan, menurut Lee (2012, hlm. 20) “augmented reality sangat berpotensi dalam menarik, menginspirasi, dan memotivasi peserta didik untuk melakukan eksplorasi dari berbagai perspektif yang berbeda, yang sebelumnya tidak menjadi bahan pertimbangan dalam dunia pendidikan”. Salah satu jenis media pembelajaran yang dapat diintegrasikan dengan teknologi augmented reality adalah media pembelajaran yang berbentuk cetak, seperti buku. Menurut Clark dan Dunser (2012, hlm. 10) “augmented reality dapat memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi dan lebih tertarik dengan kontek buku, sehingga dapat menolong peserta didik yang memiliki masalah untuk memahami materi pembelajaran yang bersifat text-based”.
Adapun contoh buku yang mengintegrasikan teknologi augmented reality, sebagai berikut:

Media Pembelajaran Augmented Reality

Media Pembelajaran Augmented Reality

Media Pembelajaran Augmented Reality


Referensi
Andriyadi, A. (2011). Augmented Reality with ARTooKit. Bandar Lampung: Augmented Reality Team.
Azuma, R. T. (1997). A Survey of Augmented Reality. Teleoperators and Virtual Environments. 6(4), hlm. 355-385.
Clark, A., & Dunser, A. (2012). An Interactive Augmented Reality Coloring Book. Journal IEEE Syimposium on 3D User Interface, hlm. 7-10.
Lee, K. (2012). Augmented Reality in Education and Training. Journal Techtrends Link. Res. Pr. Improve Learn. 56 (2), hlm. 13-21.
Lyu, R. M. (2012). Digital Interactive Game Interface Table Apps. Hongkong: Chinese University of Hongkong.
Sylva, R., dkk. (2005). Introduction of Augmented Reality. Brazil: National Laboratory of Scientific Computation.


EmoticonEmoticon