Wednesday, 26 December 2018

Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)


Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

jelajah alam sekitar

Pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) merupakan hakikat manusia dalam upayanya mengenali alam sekitar. Pembelajaran melalui pendekatan JAS memungkinkan peserta didik mengembangkan potensinya. Pendekatan JAS menekankan pada kegiatan belajar yang dikaitkan dengan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik dan dunia nyata, sehingga selain dapat membuka wawasan berpikir yang beragam, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan masalah-masalah kehidupan nyata. Dengan demikian, hasil belajar siswa lebih bermakna bagi kehidupan.
Pendekatan JAS dapat didefinisikan sebagai “pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik, baik lingkungan fisik, sosial, teknologi, maupun budaya sebagai objek belajar yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah” (Marianti dan Kartijono, 2005, hlm. 9). Proses pembelajaran dengan pendekatan JAS memungkinkan peserta didik untuk merespons dengan seluruh kemampuan berpikir, anggota badan, dan segala minatnya. Secara umum, prosedur pembelajaran dengan pendekatan JAS lebih mengacu pada proses untuk memicu kemampuan berpikir, observasi, dan sikap teliti.
Menurut Santosa (dalam Marianti, 2006, hlm. 12) terdapat sejumlah ciri pendekatan pembelajaran JAS, yakni:
1. Selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun tidak langsung.
2. Selalu ada kegiatan berupa prediksi, pengamatan, dan penjelasan.
3. Terdapat laporan untuk dikomunikasikan, baik secara lisan, tulisan, gambar, foto, atau audiovisual.
4. Pembelajaran dirancang menyenangkan sehingga menimbulkan minat untuk belajar lebih lanjut.
Pendekatan JAS mempunyai sejumlah komponen yang dapat dilaksanakan secara terpadu. Adapun komponen-komponen pada pendekatan JAS dijabarkan sebagai berikut:
1. Eksplorasi
Peserta didik yang melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, maka akan berinteraksi dengan fakta yang ada di lingkungan sehingga menemukan pengalaman dan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. Dengan adanya masalah, peserta didik akan melakukan kegiatan berpikir untuk mencari pemecahan masalah.
2. Konstruktivisme
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari seorang guru. Peserta didik harus mengartikan pembelajaran dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya.
3. Proses sains
Proses sains atau proses kegiatan ilmiah dimulai ketika seseorang mengalami sesuatu. Sesuatu diamati karena menarik perhatian, mungkin memunculkan pertanyaan atau permasalahan. Permasalahan ini perlu dipecahkan melalui suatu proses yang disebut metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan.
4. Masyarakat belajar
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil belajar diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari diskusi antar teman, antar kelompok, antara yang tahu dengan yang belum tahu. Anggota kelompok sebaiknya heterogen, sehingga yang pandai dapat membantu yang kurang pandai, yang cekap menangkap pembelajaran dapat mendorong yang lambat.
5. Bioedutainment
Bioedutainment melibatkan unsur ilmu dan penemuan ilmu, keterampilan berkarya, kerjasama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan, dan sportivitas. Bioedutainment menekankan kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata, sehingga dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh peserta didik. Hal ini memungkinkan seluruh peserta didik dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajar lebih berdaya guna.
6. Asesmen autentik
Pembelajaran yang tepat ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada banyak sedikitnya informasi yang diperoleh pada akhir pembelajaran. Untuk itu, asesmen yang digunakan menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan peserta didik pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan semata-mata dari hasil. Asesmen autentik menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh siswa. Sebagai alternatif, penilai tidak hanya guru, melainkan juga teman lain atau orang lain.

Referensi
Marianti, A. (2006). Bunga Rampai Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS). Semarang: Biologi FMIPA UNNES.
Marianti, A., & Karijono, N. E. (2005). Jelajah Alam Sekitar (JAS). Semarang: Biologi FMIPA UNNES.


EmoticonEmoticon