Wednesday, 5 December 2018

Pendekatan Multisensori


Pendekatan Multisensori
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

multisensori

Multisensori terdiri atas dua kata, yakni multi yang berarti banyak atau lebih dari satu, dan sensori yang berarti panca indera. Maka multisensori dapat diartikan lebih dari satu panca indera. Yusuf (2003, hlm. 95) menyatakan “pendakatan multisensori mendasarkan pada asumsi bahwa anak akan belajar dengan baik apabila materi disajikan dengan memanfaatkan berbagai panca indera”. Sejalan dengan itu, menurut DePorter, Reardon, dan Sarah (2004, hlm. 84) pendekatan multisensori berdasarkan asumsi bahwa “siswa akan dapat belajar dengan baik jika materi pengajaran disajikan berbagai modalitas”. Modalitas yang sering digunakan adalah visual (penglihatan), auditory (pendengaran), kinestetic (gerakan), dan tactile (perabaan). Keempatnya dikenal dengan akronim VAKT. Untuk itu, pendekatan multisensori meliputi kegiatan menulusuri (perabaan), mendengarkan (auditori), menulis (gerakan), dan melihat (visual). Di dalam pelaksanaannya, keempat modalitas tersebut harus ada, agar belajar dapat berlangsung optimal.
Penjabaran VAKT lebih lanjut dijabarkan sebagai berikut:
1. Visual
Modalitas ini mengakses cerita visual, yang diciptakan maupun diingat, berupa warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar menonjol. Seseorang yang sangat visual bercirikan sebagai berikut:
a. Teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan.
b. Mengingat dengan gambar dan lebih suka membaca daripada dibacakan.
c. Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh serta menangkap detail dengan mengingat apa yang dilihat.
2. Auditory
Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata diciptakan maupun diingat, berupa musik, nada, irama, rima, dialog, internal, dan suara menonjol. Seseorang yang sangat auditory bercirikan sebagai berikut:
a. Perhatiannya mudah terpecah.
b. Berbicara dengan pola berirama.
c. Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir, atau bersuara saat membaca.
d. Berdialog secara internal dan eksternal.
3. Kinestetic
Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi yang diciptakan maupun diingat, berupa gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik menonjol. Seseorang yang sangat kinestetic bercirikan sebagai berikut:
a. Menyentuh orang dan berdiri berdekatan serta banyak bergerak.
b. Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, dan menanggapi secara fisik.
c. Meningat sambil berjalan dan melihat.
4. Tactile
Modalitas ini mengakses segala jenis perabaan berupa penelusuran. Seseorang yang sangat tactile bercirikan sebagai berikut:
a. Menuliskan huruf yang dipelajari.
b. Menerangkan dan menjelaskan di papan tulis.
c. Siswa memahami bunyi, bentuk, dan cara membuat huruf dengan jalan menelusuri huruf yang dibuat guru.
Pendekatan multisensori bertujuan menerapkan prinsip penguatan (reinforcement). Pendekatan ini memastikan adanya perhatian aktif, menyajikan materi secara teratur dan berurutan, serta memperkuat, mengajarkan kembali, dan mengadakan pengulangan sampai materi tersebut dikuasai. Hal ini yang membuat pendekatan multisensori dapat diaplikasikan untuk pembelajaran membaca permulaan dan membentuk kosakata awal bagi anak. Berdasarkan anggapan ini, tidak menutup kemungkinan bahwa pendekatan multisensori dapat diterapkan baik pada anak yang belum pernah mendapat pengajaran membaca maupun anak yang sudah pernah mendapat pengajaran membaca di sekolah.
Berdasar prinsip multisensori, anak di sekolah formal dapat memperoleh pengajaran membaca tidak hanya dari buku penunjang, namun langsung diarahkan pada penguasaan berbagai keterampilan visual, auditori, kinestetik, dan taktil secara intensif dalam kelompok yang mempermudah pengawasan guru dalam dalam hal kemajuan belajar. Repetesi yang dilakukan dapat memperkuat ingatan dan mempertajam analisis anak dalam menghubungkan informasi yang berkaitan dengan kata-kata yang sudah pernah dipelajari. Kesemuaan ini diharapkan akan mampu memaksimalkan fungsi-fungsi kognitif yang dapat mempercepat proses membaca pada anak.

Referensi
DePorter, B., Reardon, M., & Sarah, S. N. (2004). Quantum Teaching. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Yusuf, M. (2003). Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.


EmoticonEmoticon