Saturday, 1 December 2018

Sikap Religius


Sikap Religius
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sikap keberagamaan

Sikap religius memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan perilaku religius. Sikap religius yang baik akan memunculkan perilaku religius yang baik. Sebaliknya, sikap religius yang kurang baik akan memunculkan perilaku religius yang kurang baik pula. Oleh karena itu, untuk membentuk perilaku religius individu harus dimulai dari pembentukan sikap religius.
Berdasar aspek perkembangan, setiap individu memiliki karakteristik berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tingkat perkembangan, tugas perkembangan, dan karakteristik masing-masing tingkat perkembangan. Dengan adanya perbedaan tersebut akan mempengaruhi cara dan pendekatan yang digunakan dalam pembentukan sikap, termasuk dalam pembentukan sikap religius. Memahami hakikat sikap religius, karakteristik dan komponen sikap religius pada setiap tingkat perkembangan, faktor-faktor yang mempengaruhi serta cara mengembangkan sikap religius individu sangat penting untuk dilakukan, terutama bagi guru.
Setiap individu dalam berinteraksi dengan individu lain, selalu menyadari terhadap apa yang dilakukannya dan terhadap situasi yang ada di sekililingnya. Kesadaran tersebut bukan hanya berkaitan dengan perbuatan yang sedang terjadi, melainkan perbuatan yang mungkin akan dilakukan. Kesadaran untuk menentukan perbuatan yang sedang dilakukan maupun perbuatan yang akan dilakukan tersebut dinamakan dengan sikap. Dengan kata lain, sikap adalah penentu sifat dan hakikat perbuatan yang sedang maupun yang akan dilakukan oleh seseorang.
Religius atau keberagamaan berasal dari kata beragama yang berarti “hidup tidak kacau, yakni selalu berhaluan atau beraturan” (Depdikbud, 1991, hlm. 54). Anshari (1991, hlm. 47) menyatakan “kata keberagamaan berasal dari kata beragama mendapat awalan dan akhiran ‘ke-an’ yang artinya berlandaskan ajaran agama”. Rahmad (2001, hlm. 116) mengemukakan “keberagamaan adalah kecenderungan seseorang untuk hidup sesuai dengan aturan agama”. Di sisi lain, Sahlan (2009, hlm. 66) menjelaskan bahwa “keberagamaan adalah sikap atau kesadaran seseorang untuk menjalankan ajaran agama yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan”.
Sikap religius adalah keadaaa internal atau keadaan yang masih ada dalam diri manusia. Keadaan internal tersebut menyebabkan munculnya kesiapan untuk merespons atau bertingkahlaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya. Sikap religius terbentuk karena adanya integrasi secara kompleks antara keyakinan yang kuat terhadap ajaran agama (komponen kognitif), perasaan senang terhadap agama (komponen afektif), dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama (komponen konatif). Menurut Darajat (2003, hlm. 58) “sikap keberagamaan bukan merupakan bawaaan, melainkan perolehan atau bentukan setelah lahir”. Sikap keberagamaan tersebut melalui pengalaman langsung berupa interaksi dengan berbagai unsur lingkungan sosial, seperti hasil kebudayaan, orang tua, guru, teman sebaya, masyarakat, dan sebagainya.
Sikap religius berbeda dengan pengetahuan religius yang dimiliki oleh seseorang. Pengetahuan religius belum akan menjadi suatu penggerak, sebagaimana pada sikap religius. Pengetahuan religius baru akan menjadi suatu sikap religius, jika disertai dengan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan religius yang dimiliki.
Sikap religius memiliki segi motivasi, berarti sikap religius senantiasa mendorong untuk bergerak dan berusaha untuk mencapai suatu tujuan. Sikap religius dapat berupa suatu pengetahuan yang diikuti dengan kesediaan dan kecenderungan bertingkahlaku sesuai pengetahuannya tersebut. Sikap religius tidak sama dengan kebiasaan tingkah laku religius. Kebiasaan tingkah laku religius hanya merupakan tingkah laku yang otomatis dengan tujuan untuk mempermudah hidup.
Sikap religius setiap individu memiliki karakteristik tersendiri, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Terdapat karakteristik sikap religius pada anak menurut Jalaludin (2012, hlm. 70), antara lain:
1. Unreflective atau tidak mendalam. Agama pada anak diterima tanpa kritik dan tidak mendalam. Ajaran agama yang diterima cukup sekedarna saja, cepat merasa puas dengan keterangan yang diberikan, dan kadang-kadang kurang masuk akal.
2. Orientasi egosentris atau mementingkan dirinya sendiri dan kesenangan pribadinya.
3. Kekonkritan anthromorphis, yaitu cenderung menerjemahkan kata-kata dan gambar-gambar ke dalam pengalaman yang sudah dijalankan dan berusaha menghubungkan sesuatu yang bersifat abstrak ke dalam pengalaman yang bersifat konkrit.
4. Eksperimental, inisiatif, dan spontanitas, yaitu sikap religius yang bersifat mencoba-cobadan dilakukan secara spontan.
5. Verbalis dan ritualis, anak cenderung menghafal secara verbal kalimat-kalimat religius. Amaliah religius yang dikerjakan oleh anak dilaksanakan berdasarkan tuntunan yang diajarkan kepadanya.
6. Imitatif, pada umumnya kehidupan keseharian anak dalam tindakannya bersifat meniru. Anak-anak lebih cenderung meniru apa yang ada di lingkungan sekitarnya.
7. Rasa heran atau kagum, anak memiliki sikap religius heran atau kagumyang tidak disertai sikap kritis dan kreatif.
Sikap yang dimiliki oleh seseorang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut terlihat baik dari segi jenisnya maupun dari segi kualitasnya. Perbedaan sikap yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara garis besar Ahmadi (1991, hlm. 171) menjelaskan bahwa sikap seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yakni:
1. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang ada di dalam pribadi individu. Faktor internal berperan sebagai penyeleksi, pengolah, atau penganalisis berbagai pengaruh yang datang dari luar diri individu. Penetapan pilihan biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap yang ada di dalam diri individu. Motif dan sikap di dalam individu erat kaitannya dengan minat dan perhatiannya.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar dari individu. Faktor ini berupa interaksi sosial baik di dalam kelompok maupun di luar kelompok. Misalnya antara individu dengan individu lain (dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat), interaksi individu dengan hasil kebudayaan, dan sebagaiya.

Referensi
Anshari, E. S. (1991). Wawasan Islam: Paradigma dan Sistem Islam. Jakarta: Rajawali.
Ahmadi, A. (1991). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Darajat, Z. (2003). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Depdikbud (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Jalaludin (2012). Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rahmad, J. (2001). Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sahlan, A. (2009). Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah: Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi. Malang: UIN-Maliki Press.


EmoticonEmoticon