Sunday, 27 January 2019

Filsafat Pendidikan Yunani Klasik Socrates


Filsafat Pendidikan Yunani Klasik Socrates
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

socrates

Socrates lahir di Athena pada tahun 470 Sebelum Masehi (SM) dan meninggal pada tahun 399 Sebelum Masehi (SM). Ajaran filosofisnya tidak pernah dituliskan, melainkan dilakukan dengan perbuatan, praktik dalak kehidupan. Dikatakan bahwa Socrates begitu adil, sehingga ia tidak pernah berbuat zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga ia tidak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan orang lain. Ia demikian cerdiknya, sehingga tidak pernah salah dalam menimbang baik dan buruk.
Kebiasaan sehari-harinya berjalan berkeliling kota untuk mempelajari tingkah laku manusia dari berbagai segi hidupnya. Ia berbicara dengan semua orang dan menanyakan apa yang diperbuatnya. Pertanyaan tersebut pada mulanya mudah dan sederhana. Setiap jawaban disusul dengan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Tujuan Socrates, melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, yakni untuk mengajar orang mencari kebenaran.
Cara yang dilakukan Socrates adalah untuk membantah ajaran kaum Sofis yang mengatakan bahwa “kebenaran yang sebenarnya tidak akan tercapai”. Oleh karena itu, tiap-tiap pendirian dapat dibenarkan dengan jalan retorika. Apabila orang banyak sudah setuju, maka dianggap sudah benar. Dengan cara begitu pengetahuan menjadi dangkal. Cara inilah yang ditentang Socrates. Tanya jawab adalah jalan untuk memperoleh pengetahuan. Itulah permulaan dialektik. Dialektik artinya bersoal jawab antara dua orang. Ia selalu berkata, yang ia ketahui cuma satu, yakni bahwa ia tidak tahu.
Kala itu, Socrates diajukan ke pengadilan dengan dua tuduhan, yakni (1) ia dianggap telah menolak dewa-dewa yang diakui negara dan telah memunculkan dewa-dewa baru, dan (2) ia telah menyesatkan dan merusak pikiran kaum muda. Ia pun meninggal di dalam penjara sebagai tahanan.
Socrates memiliki pendirian bahwa dalam mencari kebenaran selalu dilakukan dengan berdialog. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan yang merupakan lawan bicaranya. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong seseorang mengeluarkan apa yang tersimpan dalam hatinya.
Karena Socrates mencari kebenaran dengan cara tanya jawab, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya adalah metode induktif dan definisi. Induktif yang dimaksudkan Socrates adalah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai yang umumnya dari jumlah satu-satunya. Ia mencari persamaan dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Begitulah Socrates mencapai pengertian. Melalui induktif sampai pada definisi. Definisi, yakni pembentukan pengertian yang bersifat dan berlaku umum.
Model mencari kebenaran dengan cara berdialog atau tanya jawab tersebut, tercapai pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh karena itu, Socrates mengatakan bahwa budi adalah tahu, maksudnya budi-baik timbul dengan pengetahuan.
“Budi adalah tahu” adalah inti sari dari ajaran etika Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbuat baik. Paham etika merupakan kelanjutan dari metodenya. Induktif dan definisi  menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta keinsafan moril tidak boleh tidak mesti timbul budi. Siapa yang mengetahui hukum, mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya. Tidak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan, maka budi dapat dipelajari.
Penjelasan tersebut memberikan penegasan bahwa ajaran etika Socrates bersifat intelektual dan rasional. Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya mesti dan harus berbuat yang baik. Apa yang pada hakikatnya baik adalah juga baik untuk siapa pun. Oleh karena itu, menuju kebaikan adalah yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup.
Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Hidup manusia pasti memiliki suatu tujuan. Keadaan dan tujuan manusia adalah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya.


EmoticonEmoticon