Tuesday, 1 January 2019

Grounded Theory


Grounded Theory
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Grounded Theory approach

Istilah grounded theory pertama kali diperkenalkan oleh Glaser dan Strauss pada tahun 1967. Glaser adalah seorang sosiolog sekaligus dosen di Columbia University dan University of California School of Nursing. Sedangkan Strauss adalah seorang sosiolog yang bekerja sebagai Direktur Social Science Research di Institute for Phychiatric and Psychosomatic Research and Training. Glaser dan Strauss (1967, hlm. 1) menyatakan “we believe that the discovery of theory from data which we call grounded theory is a major task confrongting sociology today, for, as we shall try to show, such theory fits empirical situations, and is understanable to sociologists and layman alike”. Artinya, kami meyakini bahwa penemuan teori dari data yang kami sebut grounded theory adalah tugas utama yang dihadapi ilmu sosiologi saat ini, untuk itu kami berusaha menunjukkan teori tersebut sesuai dengan situasi empiris dan dapat dimengerti oleh para sosiolog dan orang awam sekalipun.  Ini merupakan pertama kali istilah grounded theory diperkenalkan.
Pada tahun 1978, Glaser dan Strauss memperluas posisi penerapan grounded theory untuk pedoman disertasi pada ilmu politik, kesejahteraan sosial, pendidikan, pendidikan kesehatan, sosiologi pendidikan, kesehatan masyarakat, bisnis dan administrasi, keperawatan, perencanaan kota, perencanaan wilayah, dan antropologi. Jadi, grounded theory telah disadari penerapannya tidak terbatas hanya untuk bidang-bidang sosiologi, tetapi untuk bidang-bidang ilmu sosiologi lainnya, termasuk ilmu pendidikan.
Grounded theory adalah sebuah metodologi penelitian kualitatif yang menekankan penemuan teori dari data observasi empirik di lapangan dengan metode induktif generatif, yakni menemukan teori dari sejumlah data atau konstruksi teori menggunakan data sebagai evidensi, menemukan konstruksi teori atau kategori melalui analisis dan proses mengabstraksi, merekonstruksi penafsiran, dan pemaknaan hasil penelitian berdasarkan konseptualisasi masyarakat yang dijadikan subjek studi.
Kualitas kebenaran sebuah teori hasil grounded theory menurut Muhadjir (2000, hlm. 5) “terkait langsung dengan kualitas prosedur kerja dalam mencari kebenaran”. Melalui prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperoleh akan terbatas pada kebenaran epistomologi dalam wujud kebenaran tesis  dan lebih jauh menjadi kebenaran teori. Untuk itu, pada pengembangan penelitian kualitatif, penguasaan metodologi grounded theory sangat menentukan kualitas capaian hasil teori.
Untuk menemukan teori, para peneliti kualitatif perlu memiliki sensitivitas teoritis. Artinya begitu menjumpai sejumlah data, peneliti segera menyusun konsep lokal, menemukan ciri-ciri pokok dari sasaran penelitian. Konsep lokal sekolah menurut Muhadjir (2000, hlm. 124) “ada guru, siswa, teknisi/laboran, karyawan, kurikulum, bahan pelajaran/modul, pengajaran, penilaian, ruang kelas, laboratorium, bengkel, studio, dan sebagainya”.
Sensitivitas teori muncul dalam bentuk konsep atau abstraksi atau perumusan pra teori setelah menjumpai ciri-ciri spesifik dari data lapangan. Jika konsep pra teori belum mampu dibuat, seorang peneliti belum dapat melanjutkan penelitian, karena sulit menentukan arah dan tujuan penelitian, sehingga belum mampu menetapkan kriteria teoritis dalam menetapkan kelompok-kelompok dan subkelompok sampel. Data subkelompok digunakan untuk menemukan keragaman ciri, memilah ciri pokok, dan ciri tambahan.
Kriteria teoritis dalam pemilihan kelompok sampel tidak mengarah ke struktur populasi, melainkan mengarah ke relevansi teoritis. Relevansi teoritis menyangkut karakteristik atau ciri-ciri relevan substantif bila yang sedang dirumuskan adalah teori substantif dan menyangkut ciri relevan formal bila akan merumuskan teori formal. Teori substantif ditemukan dan dibentuk untuk daerah substantif tertentu, sedangkan teori formal dibentuk untuk kawasan kategori konseptual teoritik. Sesuai dengan tujuan penelitian grounded theory untuk menemukan atau mengembangkan rumusan teori atau konseptualisasi teoritik berdasarkan data-data yang berkelanjutan, pemilihan sampel pada penelitian grounded theory mengarah ke pemilihan kelompok atau subkelompok yang dapat memperkaya penemuan ciri-ciri utama.
Secara umum analisis grounded theory yang digunakan terdiri atas tiga langkah, yakni pengkodean terbuka, aksial, dan selektif. Lebih lanjut dijabarkan, sebagai berikut:
1. Pengkodean terbuka (open coding)
Pengkodean terbuka adalah pengkodean yang dimulai dari suatu pemahaman belum jelas berupa list sejumlah kategori yang relevan. Data dikodekan dengan mengklasifikasikan ke dalam elemen-elemen data dalam bentuk tema-tema atau kategorisasi, kemudian dicari pola di antara kategori tersebut.
Unit analisis atau elemen dari data yang dijelaskan dan terkode dapat dalam bentuk kalimat, baris transkrip, interaksi perbincangan, aksi fisik, sekuen satu detik sebuah video, atau kombinasi dari elemen-elemen tersebut. Hal ini penting untuk mengklarifikasi secara pasti apakah yang kita intensifkan untuk diuji dalam analisis dan memilih tingkat butir-butir yang sesuai. Jalan yang baik untuk memulai adalah dengan membentuk analisis baris demi baris dari data.
2. Pengkodean aksial (axial coding)
Pengkodean aksial adalah pelacakan hubungan di antara elemen-elemen data yang terkode. Teori substansif muncul melalui pengujian adanya persamaan dan perbedaan dalam tata hubungan, di antara kategori atau subkategori. Koding aksial harus menguji elemen seperti keadaan kalimat, interaksi di antara subjek, strategi, taktik, dan konsekuensi. Proses ini layaknya mencocokkan bagian-bagian dari pola yang masih menjadi teka-teki.
3. Pengkodean selektif (selective coding)
Pengkodean selektif adalah proses mengintegrasikan dan menyaring kategori sehingga semua kategori terkait dengan kategori inti, sebagai dasar dari grounded theory. Glaser (1992, hlm. 75) menekankan “pentingnya kategori inti yaitu kategori yang dikembangkan dan mencoba variasi terbanyak dari pola perilaku”. Hal ini penting untuk memperjelas pernyataan tujuan analisis penelitian sebelum dan selama pengkodean. Tujuan analisis secara lengkap dari keseluruhan masalah penelitian dapat berubah karena kemunculan wawasan baru yang signifikan.

Referensi
Glaser, B. G. (1992). Basic of Grounded Theory Analysis, Emergence vs. Forcing. Mill Valey: Sociology Press.
Glaser, B. G., & Strauss, A. L. (1967). The Discovery of Grounded Theory. New York: Aldine Publishing Co.
Muhadjir, N. H. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif (3rd). Yogyakarta: Sarasin.


EmoticonEmoticon