Monday, 7 January 2019

Kebijakan Presensi Biometrik Sidik Jari (Finger Print) dan Pola Wajah di Lingkungan Sekolah


Kebijakan Presensi Biometrik Sidik Jari (Finger Print) dan Pola Wajah di Lingkungan Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

finger print

Manusia hidup di lingkungan pendidikan perlu menyesuaikan perkembangan teknologi. Salah satunya berkenaan dengan presensi atau pencatatan kehadiran di sekolah yang dapat memanfaatkan teknologi biometrik.
Biometrik merupakan metode untuk mengidentifikasi atau mengenali seseorang berdasarkan karakteristik fisik atau perilaku. Presensi menggunakan teknologi biometrik kini memiliki banyak varian, seperti penggunaan sidik jari, pola wajah, pola suara, hingga lapisan iris mata.
Seiring ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 tentang  Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah yang menyatakan bahwa guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah melaksanakan beban kerja selama 40 jam dalam satu minggu pada satuan administrasi pangkal, yang terdiri atas 37,5 jam kerja efektif dan 2,5 jam istirahat. Guna memantau keberlangsungan peraturan tersebut, semenjak tahun 2017, mesin presensi biometrik mulai diwajibkan di sekolah. Mesin presensi biometrik yang paling banyak digunakan adalah yang menggunakan sidik jari (finger print) dan pola wajah.
Adapun keunggulan presensi menggunakan teknologi biometrik, antara lain:

1. Praktis
Presensi menggunakan biometrik sidik jari (finger print) dan pola wajah bersifat praktis. Artinya, presensi menggunakan alat pendeteksi sidik jari dan pola wajah ini tidak membutuhkan berbagai macam prosedur.
Pengguna hanya perlu menempelkan jempol atau bagian dari jari pada mesin pendeteksi sidik jari sambil melihat ke kamera. Alat langsung memproses dan menyimpan data presensi yang telah dilakukan.

2. Menghemat waktu
Presensi menggunakan biometrik sidik jari (finger print) dan pola wajah dapat menghemat waktu. Kegiatan menempelkan jari pada mesin pendeteksi sidik jari tidak memakan waktu yang lama. Berbeda dengan metode presensi yang menggunakan kartu presensi atau tandatangan yang membutuhkan waktu relatif lebih lama.

3. Mencegah terjadinya titip presensi
Titip presensi tidak berlaku lagi dan tidak dapat terjadi pada mesin presensi yang menggunakan pendeteksi sidik jari. Hal ini terjadi karena mesin pemindai atau scanner sidik jari hanya akan merespons sidik jari yang sesuai dengan apa yang ada pada database.

4. Mencatat waktu kedatangan dan kepulangan secara akurat
Presensi menggunakan biometrik sidik jari (finger print) dan pola wajah mampu untuk mencatat secara akurat waktu kedatangan dan kepulangan. Setiap pengguna yang terlambat datang atau pulang terlalu cepat akan langsung tercatat pada database secara akurat.

5. Menghemat kertas
Saat ini penggunaan kertas sangat disorot karena kertas terbuat dari kayu, yang membuat banyak isu-isu mengenai penebangan liar. Presensi menggunakan biometrik sidik jari (finger print) dan pola wajah tentunya tidak memerlukan kertas. Untuk itu, cara ini merupakan salah satu aksi nyata penghematan kertas.

6. Tidak memerlukan banyak ruang
Alat pemindai sidik jari dan pola wajah memiliki bentuk yang kompak dan ukuran yang sangat kecil. Dengan kondisi demikian, alat ini tidak membutuhkan ruang khusus yang besar. Sekolah dapat meletakkan alat ini di ruang guru.

7. Menghindari human error
Presensi menggunakan biometrik sidik jari (finger print) dan pola wajah mencegah human error, terutama dalam proses input presensi secara manual ke dalam database. Kesalahan input yang diakibatkan human error dapat terjadi dan merugikan banyak pihak.

8. Langsung tercatat pada database
Proses pencatatan yang terjadi pada satu sistem scanner sidik jari dan pola wajah sangatlah cepat. Begitu jari ditempelkan pada mesin pendeteksi, maka data akan langsung masuk dan tercatat di dalam database.

Meskipun mesin pendeteksi sidik jari dan pola wajah menawarkan sejumlah keunggulan, namun tidak menutup kemungkinan masih ditemukan sejumlah kekurangan, sebagai berikut:

1. Sering terjadi kesalahan dalam proses identifikasi
Mesin pendeteksi sidik jari tidak bisa mendeteksi sidik jari seseorang apabila scanner dalam kondisi kotor karena terdapat banyak sekali bekas sidik jari yang menempel, basah karena sering terkena keringat, dan scanner terkena cahaya secara langsung sehingga kinerja sistem menurun dan proses identifikasi harus diulang.

2. Membutuhkan perawatan rutin
Untuk tetap menjaga agar scanner dapat bekerja dengan maksimal dan tidak mengalami penurunan sistem, perawatan yang rutin perlu dilakukan agar scanner tetap bersih untuk mencegah terjadinya kesalahan proses identifikasi. Perlu diperhatikan bahwa alat tersebut tidak boleh terkena air karena sangat rentan rusak apabila terkena air.

3. Kinerja scanner kurang optimal pada kondisi tertentu
Scanner memiliki kelemahan di mana sistem sensor tidak bisa mendeteksi jari yang basah, terlalu kering, terkelupas, kotor, dan tertutup tinta. Oleh karena itu, sebelum melakukan proses identifikasi pastikan bahwa jari dalam keadaan bersih dan kering.

Referensi
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 tentang  Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah.


EmoticonEmoticon