Friday, 11 January 2019

Keluarga


Keluarga
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

konsep Keluarga

Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memberikan pondasi primer bagi perkembangan anak serta memberikan pengaruh yang menentukan bagi pembentukan watak dan kepribadian anak. Maka, “baik-buruknya keluarga memberikan dampak positif atau negatif pada pertumbuhan anak menuju kepada kedewasaan” (Kartini, 1989, hlm. 166). Menurut Ahmadi (1991, hlm. 221) keluarga merupakan “kelompok yang terbentuk dari perhubungan pria dan wanita, perhubungan sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak mereka”.
Pada prosesnya kehidupan keluarga menurut Ahmadi (1991, hlm. 223) memiliki empat tingkatan sebagai berikut:
1. Formative pre-nuptial stage
Tahap ini merupakan tingkat persiapan sebelum berlangsungnya perkawinan. Pada tingkat ini adalah masa berkasih-sayang, hubungan yang makin lama makin menjadi erat antara pria dan wanita masing-masing berusaha untuk memperbesar cita-citanya.
2. Nupteap stage
Tingkat sebelum anak bayi lahir yang merupakan permulaan dari keluarga itu sendiri. Pada tingkat ini suami-istri hidup bersama menciptakan rumah tangga, mencari pengalaman baru, sikap baru terhadap masyarakat.
3. Child reaning stage
Tingkat ini adalah pelaksanaan keluarga itu sendiri. Pertanggungjawaban terus bertambah dengan adanya anak-anak.
4. Maturity stage
Tingkat ini timbul apabila anak-anak tidak lagi membutuhkan pemeliharaan orang tua. Setelah dilepaskan dari tanggung jawab, kemudian anak-anak tersebut melakukan aktivitas baru, menggantikan yang lama.
Keluarga memiliki fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja. Pada bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama dari keluarga. Keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain agar dapat hidup lebih tenang.
Menurut Ahmadi (1991, hlm. 88-91) hal-hal yang harus dikerjakan oleh keluarga dapat dikelompokkan ke dalam sejumlah fungsi, yakni:
1. Fungsi biologis
Melalui fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Melalui persiapan yang cukup matang dapat mewujudkan suatu bentuk kehidupan rumah tangga yang baik dan harmonis. Kebaikan rumah tangga dapat membawa pengaruh yang baik juga bagi kehidupan masyarakat.
2. Fungsi pemeliharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan-gangguan sebagai berikut:
a. Gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah.
b. Gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan obat-obatan.
c. Gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan pagar, tembok, dan lain-lain.
3. Fungsi ekonomi
Keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok, di antaranya:
a. Kebutuhan makan dan minum.
b. Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya.
c. Kebutuhan tempat tinggal.
4. Fungsi keagamaan
Keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami ajaran-ajaran agama dalam segala perbuatan sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Fungsi sosial
Fungsi ini diharapkan agar di dalam keluarga selalu terjadi pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai kebudayaan.
Pada konsep inti keluarga harmonis, sebagian besar dari mereka mempunyai tujuan yang sama, yakni agar mereka tetap bertahan dan dapat menikmati kehidupan di dunia ini dengan jiwa yang tenang dan tentram terutama bersama orang-orang yang disayangi dan menyayanginya. Sebuah keluarga akan menjadi keluarga yang harmonis, jika di dalamnya terdapat kehidupan yang seimbang dalam hak dan kewajiban antar anggotanya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menjalankan sejumlah konsep inti untuk keluarga yang harmonis, sebagai berikut:
1. Mengedepankan toleransi
Toleransi berarti memahami bahwa orang lain mempunyai gambaran yang berbeda tentang suatu hal. Masing-masing pihak tidak boleh memaksakan kehendaknya dan harus saling menghormati satu sama lain.
2. Meluangkan sebagian waktu
Di tengah kesibukan yang tiada habisnya, keluarga perlu meluangkan sebagian waktunya untuk anak-anak. Untuk itu, perlu kecermatan dalam mengatur aktivitas sehari-hari sehingga tersedia waktu untuk berbaur dengan anak, bermain dan belajar dengan mereka sehingga anak merasa lebih diperhatikan.
3. Menjalin komunikasi
Melalui komunikasi yang terjalin dengan intensif, maka setiap permasalahan yang dihadapi anak lebih mudah dicarikan jalan keluarnya. Di dalam hal ini, keluarga harus bijak dalam menentukan model komunikasi mengingat karakter anak yang berbeda-beda.
4. Berlaku adil
Adil berarti memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya sehingga tidak berat sebelah. Jika salah satu dari anak memiliki kekurangan, maka keluarga bijak harus dapat menunjukkan kelebihan yang ia miliki.
5. Menghargai pendapat anak
Pada setiap permasalahan yang dihadapi keluarga, pendapat anak juga harus diperhatikan. Meskipun terkadang seorang anak memberikan pandangan yang kurang sesuai, maka sebagai keluarga bijak harus tetap menghargai pendapat tersebut.
6. Mencintai dengan sepenuh hati
Sebagai keluarga yang bertanggung jawab, maka rasa mencintai secara total kepada setiap anggota keluarga harus selalu ditunjukkan kapanpun dan di manapun ia berada.

Referensi
Ahmadi, A. (1991). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Kartini, K. (1989). Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Penerbit Mandar Maju.


EmoticonEmoticon