Friday, 18 January 2019

Model Pembelajaran Meaningful Instructional Design (MID)


Model Pembelajaran Meaningful Instructional Design (MID)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

meaningful learning

Model pembelajaran meaningful instructional design (MID) berlandas pada meaningful learning (pembelajaran bermakna), yakni bahwa manusia ingin mengetahui keadaan sekelilingnya, berupa lingkungan alam dan lingkungan sosial. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif adalah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat peserta didik. Sejalan dengan itu, Shoimin (2014, hlm. 100) mengemukakan bahwa model pembelajaran meaningful instructional design adalah “pembelajaran yang mengutamakan kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktif”.
Biasanya yang terlihat (sight) belum tentu sama dengan apa yang diterima (precived), pembentukan pengetahuan melibatkan interpretasi manusia atas peristiwa tersebut. Sebelum peristiwa tersebut menjadi pengetahuan, ia harus melewati lapisan yang disebut interpretasi. Hal ini yang disebut meaningful learning dalam proses belajar, yang mengutamakan kebermaknaan agar peserta didik mudah mengingat kembali materi-materi yang telah maupun baru disampaikan oleh guru.
Menurut Ausubel dan Novak (dalam Dahar, 2011, hlm. 98) terdapat tiga keutamaan belajar bermakna, yakni:
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat.
2. Informasi baru yang telah dikaitkan dengan konsep-konsep relevan sebelumnya dapat meningkatkan konsep yang telah dikuasai sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk memberikan pelajaran yang mirip.
3. Informasi yang pernah dilupakan setelah pernah dikuasai sebelumnya, meninggalkan bekas sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk materi yang mirip walaupun telah lupa.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran meaningful instructional design menurut Shoimin (2014, hlm. 101), sebagai berikut:
1. Lead in
Secara umum konsep lead in adalah mencoba mengkaitkan skema siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep, fakta, dan informasi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilakukan guru melalui (1) membagi siswa secara heterogen menjadi sejumlah kelompok dengan menciptakan situasi dalam bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siswa, (2) pertanyaan atau tugas-tugas agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa lalu, (3) pertanyaan mengenai konsep-konsep, ide, dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum diketahui siswa.
2. Reconstruction
Reconstruction merupakan proses memfasilitasi dan memediasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya menyajikan input berupa konsep atau informasi melalui kegiatan menyimak dan membaca teks untuk dielaborasi, didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Konsep pembelajaran ini menekankan pada siswa untuk menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi. Siswa membandingkan pengalaman belajar dengan pengalamannya sendiri.
3. Production
Pada tahap ini, konsep materi pembelajaran yang telah disampaikan kemudian diapresiasi atau diaplikasikan ke dalam bentuk nyata. Hal ini membawa alur pembelajaran produktif sehingga siswa tidak hanya memahami secara konseptual, melainkan dapat menciptakan hal baru dari konsep yang dipahami.
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran meaningful instructional design menurut Shoimin (2014, hlm. 102), antara lain:
Kelebihan:
1. Sebagai jembatan penghubung tentang apa yang sedang dipelajari siswa.
2. Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
4. Membantu siswa membentuk, mengubah diri, atau mentransformasikan informasi baru..
Kelemahan:
1. Terkadang sulit menemukan contoh-contoh konkrit dan realistik.
2. Sulit membentuk kelompok yang heterogen.
3. Timbulnya dominasi dari siswa yang pintar.

Referensi
Dahar, R. W. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga.
Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz.


EmoticonEmoticon