Monday, 28 January 2019

Pantun


Pantun
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pantun indonesia

Pantun merupakan bagian dari puisi lama asli Indonesia. Pantun lahir atau tercipta karena keinginan untuk mengiaskan sesuatu dengan menggunakan benda-benda sekitar. Waluyo (2006, hlm. 9) mendefinisikan pantun sebagai “salah satu bentuk sastra rakyat yang menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat”. Lebih lanjut Surana (2001, hlm. 31) mengemukakan bahwa pantun adalah “bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik sebait berima silang (a b a b)”.
Larik I dan II pada pantun disebut sampiran, yakni berupa lukisan alam atau apa saja yang dapat diambil sebagai kiasan. Larik III dan IV dinamakan isi. Setiap larik terdiri atas empat perkataan. Jumlah suku kata pada setiap larik antara 8-12 suku kata.
Secara sosial, pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain kata. Dengan demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Unsur-unsur yang membangun sebuah pantun adalah sampiran dan isi. Sampiran merupakan dua baris pantun yang memiliki persamaan bunyi untuk menuju isi. “Hubungan antara sampiran dengan isi hanyalah hubungan pada persamaan bunyi” (Waluyo, 2006, hlm. 8). Adapun dua baris pantun yang menjadi sampiran saling berhubungan. Lebih lanjut, Effendy (2002, hlm. 28) mengemukakan syarat-syarat dalam pantun antara lain: “(1) tiap bait terdiri atas empat baris, (2) tiap baris terdiri atas empat atau lima kata atau terdiri atas 8-12 suku kata, (3) sajaknya bersilih dua-dua: a-b-a-b dapat juga bersajak a-a-a-a, (4) dua baris pertama disebut sampiran, dua baris terakhir merupakan isi dari pantun tersebut”.
Adapun sejumlah contoh pantun sebagai berikut:

Di antara semak belukar
Ada ular serta mangsanya
Jika rajin dalam belajar
Niscaya pintar dan bijaksana

Air sungai kian meriak
Air mengalir hingga lautan
Sesudah mendapat ilmu yang banyak
Lalu ajarkan juga amalkan

Tak ada kayu jadinya rotan
Tak ada nasi adanya ketan
Hormati guru sayangi teman
Itulah namanya murid budiman

Seekor kucing mengeong-ngeong
Meminta makan pada induknya
Banyak berilmu janganlah sombong
Yang lebih pintar banyak jumlahnya

Pagi-pagi membeli jamu
Jamu itu banyak khasiat
Jangan bosan mencari ilmu
Ilmu itu banyak manfaat

Jika pergi ke padang datar
Jangan lupa pulang berlabuh
Jika kita ingin pintar
Belajarlah dengan sungguh-sungguh

Referensi
Effendi, S. (2002). Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Surana (2001). Pengantar Sastra Indonesia. Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Waluyo, H. J. (2006). Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.


EmoticonEmoticon