Friday, 4 January 2019

Pendidikan Berkualitas sebagai Tujuan Program Sustainable Development Goals (SDGs)


Pendidikan Berkualitas sebagai Tujuan Program Sustainable Development Goals (SDGs)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

SGDs

Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-70 pada bulan September 2015 di New York, Amerika Serikat, menjadi titik sejarah baru dalam pembangunan global. Sebanyak 193 kepala negara dan pemerintah dunia hadir untuk menyepakati agenda pembangunan universal yang dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs dinyatakan dengan resolusi Nomor A/RES/70/1 yang dikeluarkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 25 September 2015 dengan tema “Transforming our World: the 2030 Agenda for Sustainable Development”.
SDGs berisikan 17 tujuan, 169 target pembangunan, dan 241 indikator tambahan. Ke 17 tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut:

No.
Tujuan
Target
Indikator
1.
Tanpa kemiskinan
7 target
12 indikator
2.
Tanpa kelaparan
8 target
14 indikator
3.
Kehidupan sehat dan sejahtera
13 target
26 indikator
4.
Pendidikan berkualitas
10 target
11 indikator
5.
Kesetaraan gender
9 target
14 indikator
6.
Air bersih dan sanitasi layak
8 target
11 indikator
7.
Energi bersih dan terjangkau
5 target
6 indikator
8.
Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi
12 target
17 indikator
9.
Industri, inovasi, dan infrastruktur
8 target
12 indikator
10.
Berkurangnya kesenjangan
10 target
11 indikator
11.
Kota dan komunitas yang berkelanjutan
10 target
15 indikator
12.
Produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab
11 target
13 indikator
13.
Penanganan perubahan iklim
5 target
7 indikator
14.
Ekosistem lautan
10 target
10 indikator
15.
Ekosistem daratan
12 target
14 indikator
16.
Institusi yang damai, adil, dan kuat
12 target
23 indikator
17.
Kemitraan untuk mencapai tujuan
19 target
25 indikator

Pada SGDs telah termaktub tujuan ke-4, yakni berkenaan dengan pendidikan berkualitas. Memperoleh pendidikan berkualitas adalah fondasi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Kemajuan besar telah dibuat untuk dapat meningkatkan akses pendidikan di semua jenjang demi meningkatkan angka partisipan siswa di sekolah. Namun, nyatanya masih banyak permasalahan atas pemenuhan hak pendidikan yang terdapat di berbagai negara-negara di dunia. Permasalahan ini yang membuat dunia internasional sangat dibutuhkan dalam kebijakan pemenuhan hak pendidikan bagi setiap individu.
Lebih lanjut tujuan ke-4 SGDs, yakni pendidikan berkualitas memiliki sejumlah indikator menurut Sutopo, Arthati, dan Rahmi (2014, hlm. 58-65) yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Persentase anak yang menerima setidaknya satu tahun dari program pendidikan usia dini (PAUD) yang berkualitas
Indikator ini mengukur persentase anak-anak kelompok usia 36-59 bulan yang terdaftar dalam program anak usia dini (PAUD). Program PAUD didefinisikan cukup luas mulai dari perawatan/pengasuhan privat atau berkelompok sampai program pra sekolah formal.
Indikator ini penting untuk mengukur perkembangan anak. Keikutsertaan pada pendidikan pra sekolah yang berkualitas tinggi setidaknya satu tahun memiliki efek jangka pendek dan panjang yang konsisten dan positif pada perkembangan anak. Pada jangka pendek, keterampilan kognitif awal, seperti keterampilan membaca dan matematika, secara positif dipengaruhi oleh pendidikan anak usia dini. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, akses ke kualitas pendidikan pra sekolah meningkatkan proporsi siswa yang masuk sekolah dasar tepat waktu. Tingginya kualitas pra sekolah dapat menghasilkan manfaat seumur hidup bagi masyarakat, dengan efek positif diamati pada akhir tahun sekolah, akhir sekolah menengah, berkurangnya kejahatan, mengurangi kehamilan dini, dan meningkatkan pendapatan. Hasil ini mencakup program skala kecil dan besar, serta bertanggung jawab atas rasio manfaat dan biaya untuk pra sekolah. Pendidikan anak usia dini bermanfaat bagi semua anak, tidak peduli latar belakang ekonomi mereka.

2. Indeks perkembangan anak usia dini (ECDI)
Potensi perkembangan anak usia dini diukur sebagai indeks, saat ini diwakili dengan Multiple Indicator Cluster Survey (MICS) yang menilai anak-anak berusia 36-59 bulan dalam empat domain, yaitu bahasa/melek huruf, berhitung, fisik, sosial-emosional, dan pengembangan kognitif. Masing-masing domain diukur dengan instrumen berdasarkan pengamatan real time. Survei MICS menghitung skor indeks keseluruhan  sebagai persentase anak usia 36-59 bulan yang setidaknya memiliki tiga dari empat domain.

3. Persentase balita yang memperoleh pengasuhan yang responsif dan stimulatif di lingkungan yang aman
Indikator ini mengukur persentase anak-anak di bawah 5 tahun yang terlibat dalam empat atau lebih kegiatan dengan didampingi orang dewasa untuk mendorong pembelajaran dan kesiapan sekolah dalam tiga 3 hari terakhir. Indikator ini diperoleh melalui MICS. Hasil MICS terbatas pada cakupan wilayah, karena hanya dilakukan pada sebagian kecil wilayah di Indonesia. Informasi lain yang berkaitan dengan hal ini dan dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) secara rutin sampai level kabupaten/kota adalah kriteria keterlantaran anak balita. Variabel yang menentukan derajat keterlantaran balita adalah tidak pernah diberi ASI, tidak mempunyai bapak/ibu kandung lagi, makan makanan pokok kurang dari 14 kali dalam seminggu, makan lauk pauk berprotein tinggi, di mana nabati kurang dari 4 kali, hewani kurang dari atau sama dengan 2 kali atau kombinasi dalam seminggu, ibu balita yang bertanggung jawab terhadap anak ini bekerja selama seminggu terakhir, bila balita sakit tidak diobati, dan anak dititipkan/diasuh oleh orang lain selama seminggu terakhir.

4. Persentase siswa sekolah yang terdaftar program pengembangan usia dini yang menyediakan air minum, sanitasi, dan jasa kebersihan yang memadai
Indikator ini mengukur akses terhadap air minum, fasilitas sanitasi yang dipisahkan menurut jenis kelamin, dan fasilitas cuci tangan di sekolah-sekolah. Belum adanya data yang memadai mengenai akses air minum dan sanitasi berbasis sekolah membuat indikator masih sulit untuk diukur.

5. Angka kelulusan Pendidikan Dasar untuk anak perempuan dan anak laki-laki
Indikator ini mengukur persentase anak-anak yang masuk kelas 1 dan telah menamatkan Sekolah Dasar. Penyelesaian Pendidikan Dasar diukur dengan Angka Masukan Kasar terhadap Kelas Akhir Pendidikan Dasar yaitu angka total pendatang baru di kelas akhir Pendidikan Dasar (berdasarkan International Standard Classification of Education), tanpa memandang umur, yang dinyatakan dengan persentase penduduk pada usia yang sesuai dengan kelas terakhir di Sekolah Dasar (Gross Intake Ratio to Last Grade of Primary School). Pendidikan Dasar didefinisikan sebagai program yang didesain pada unit atau proyek dasar yang diberikan pada siswa sebagai satuan pendidikan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika bersama dengan pemahaman dasar mata pelajarai lain seperti sejarah, geografi, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni, dan musik.

6. Persentase anak perempuan dan anak laki-laki yang menguasai berbagai keterampilan dasar, termasuk kemampuan dalam membaca dan keterampilan matematika dasar pada akhir siklus sekolah dasar
Indikator ini dirancang untuk mengukur proporsi anak-anak yang cakap dalam membaca dan memahami teks dalam bahasa utama mereka, serta memahami berbagai intruksi yang ada, seperti menghitung, memahami operasi dan konsep matematika inti, sebagai proporsi total anak-anak yang berada pada siklus akhir pendidikan dasar di negara tersebut. Indikator ini diusulkan untuk dapat menangkap kecakapan dalam berbahasa sebagai bagian dalam pembelajaran dan kemampuan matematika dasar yang memiliki hubungan kuat dalam pendidikan akademik berikutnya.

7. Angka kelulusan sekolah menengah untuk anak perempuan dan anak laki-laki
Indikator ini mengukur persentase anak perempuan dan anak laki-laki yang masuk kelas pertama sekolah menengah setelah menyelesaikan kelas akhir pendidikan sekolah dasar. Dihitung dengan membagi jumlah siswa di kelas akhir sekolah dasar yang telah dikurangi dengan siswa tinggal kelas, dengan jumlah total siswa usia lulus resmi. Indikator ini bertujuan untuk menangkap angka putus sekolah selama sekolah dasar dan selama transisi sekolah dasar ke sekolah menengah dengan menggunakan pembaginya yaitu jumlah total siswa dengan usia lulus resmi.
Angka kelulusan sekolah menengah penting untuk diukur karena angka putus sekolah tertinggi berada pada kelas menengah pertama. Sebab pada usia-usia tersebut, biaya aktual dan biaya pendidikan menjadi lebih tinggi sementara sistem pendidikan masih berjuang memperbaiki kualitas pendidikan. Serta terdapat perbedaan gender di mana keinginan anak perempuan untuk sekolah sangat ditentukan oleh pendapatan dan biaya pendidikan yang berbeda perlakuannya dengan anak laki-laki, dan masih banyak rumah tangga yang tidak mau berinvestasi untuk pendidikan anak perempuan disebabkan keuntungan ekonomi yang tidak setara dan tidak langsung. Selain itu, paradigma masyarakat masih terpusat pada peran anak perempuan yang hanya akan dianggap sebagai istri atau ibu kelak.

8. Persentase anak perempuan dan anak laki-laki yang mencapai kecakapan di berbagai hasil belajar, termasuk dalam matematika pada akhir siklus sekolah menengah pertama
Indikator ini mengukur persentase anak perempuan dan anak laki-laki usia 14 tahun yang pandai dalam hasil belajar, setidaknya dalam membaca dan matematika. Kecakapak ini perlu didefinisikan melalui standar level nasional, namun harus mencakup kemampuan membaca, merumuskan, memahami, dan menganalisis berbagai intruksi dalam bahasa utama mereka, dan mampu memahami konsep, alasan, dan penyelesaian masalah rumit matematika lanjutan.

9. Angka partisipasi perguruan tinggi bagi perempuan dan laki-laki
Indikator ini mengukur total pendaftaran di pendidikan tinggi tanpa memandang usia, dinyatakan sebagai persentase dari total penduduk kelompok usia lima tahun sebagai lanjutan dari tamat sekolah menengah.
Angka partisipasi perguruan tinggi adalah indikasi dari kualitas angkatan kerja suatu negara dan kesenjangan yang besar antara angka partisipasi perguruan tinggi, serta tingkat pengangguran mengindikasikan apakah ketidakmampuan ekonomi dalam menyerap lulusan yang terlatih, atau kelayakan kerja para lulusan yang menunjukkan ketidaksesuaian antara keterampilan yang disampaikan melalui sistem perguruan tinggi dengan keterampilan yang dituntut oleh masyarakat.

10 Persentase orang dewasa muda (usia 18-24 tahun) dengan akses program pembelajaran
Indikator ini mengukur persentase wanita dewasa muda dan laki-laki yang mendaftarkan diri dan belajar keterampilan baru atau kursus untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi. Data dapat dirinci menurut jenis kursus, kursus utama, dan jangka waktu kursus.

11. Proporsi orang dewasa muda (usia 18-24 tahun) yang melek huruf
Indikator ini mengukur persentase wanita dewasa muda dan laki-laki yang melek huruf sebagai proporsi dari total populasi dalam kelompok usia tersebut.

Referensi
Sutopo, A., Arthati, D. F., & Rahmi, U. A. (2014). Kajian Indikator Sustainable Development Goals (SGDs). Jakarta: Badan Pusat Statistik.


EmoticonEmoticon