Wednesday, 2 January 2019

Pendidikan Mitigasi Bencana


Pendidikan Mitigasi Bencana
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

mitigasi bencana

Mitigasi bencana merupakan istilah yang digunakan untun merujuk pada tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana tersebut terjadi, termasuk kesiapan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Menurut Djauhari (2014, hlm. 4-5) “usaha mitigasi dapat berupa kesiapsiagaan atau upaya memberikan pemahaman pada penduduk untuk mengantisipasi bencana, melalui pemberian informasi, peningkatan kesiagaan jika terjadi bencana, dan langkah-langkah untuk memperkecil resiko bencana”. Sedangkan menurut Coppola (dalam Kusumasari, 2014, hlm. 22) mitigasi dapat dilihat sebagai “upaya berkelanjutan yang dilakukan untuk mengurangi resiko bencana melalui pengurangan kemungkinan dan komponen konsekuensi resiko bencana”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa mitigasi bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh bencana yang datang.
Bencana telah menjadi isu pembangunan, karena hasil pembangunan yang telah dirintis puluhan bahkan ratusan tahun dapat hancur atau rusak seketika dengan adanya bencana. Perekonomian masyarakat dan negara pun banyak mengalami kemunduran, banyak prasarana dan sarana ekonomi, sosial, dan budaya yang rusak. Masyarakat yang terkena bencana seringkali harus menata ulang kehidupannya dari awal.
Pendidikan mitigasi bencana salah satunya disokong dengan adanya Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pilihan Tindakan Penanggulangan Bencana. Hal ini merupakan bentuk upaya menanggulangi bencana yang dilakukan ketika adanya tanda-tanda bencana dan dapat mengancam. Pelaksanaan mitigasi dapat dikategorikan menjadi dua, yakni mitigasi pasif dan mitigasi aktif.
Berikut merupakan pelaksanaan kegiatan dari pencegahan dalam kategori mitigasi pasif:
1. Penyusunan peraturan perundang-undangan.
2. Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah.
3. Pembuatan pedoman/standar/prosedur.
4. Pembuatan brosur/leaflet/poster.
5. Penelitian/pengkajian karakteristik bencana.
6. Pengkajian/analisis resiko bencana.
7. Internalisasi penanggulangan bencana.
8. Pembentukan organisasi atau satuan gugus bencana.
9. Penguatan unit-unit sosial dalam masyarakat.
10. Penganggaran penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan.
Adapun pelaksanaan atau tindakan pencegahan dalam kategori mitigasi aktif, di antaranya:
1. Pembuatan dan penetapan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan memasuki daerah rawan bencana dan sekitarnya.
2. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang, izin mendirikan bangunan, dan peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana.
3. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat.
4. Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih aman.
5. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat.
6. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana.
7. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan, dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana, seperti tanggul, dam, penahan erosi pantai, bangunan tahan gempa, dan sebagainya.
Pada surat edaran Mendiknas Nomor 70a/MPN/SE/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Resiko Bencana di Sekolah dijelaskan bahwa terdapat tiga poin penting dalam implementasi strategi mitigasi bencana di sekolah, antara lain: (1) pemberdayaan peran kelembagaan dan kapasitas komunitas sekolah, (2) integrasi pengurangan resiko bencana ke dalam kurikulum sekolah, dan (3) pembentukan kemitraan dan jaringan antara beragam pihak guna mendukung implementasi inisiatif pengurangan resiko bencana di sekolah. Hal ini dapat disosialisasikan pada kegiatan intrakurikuler yang diintegrasikan dalam sejumlah tema/mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dengan berbagai alternatif yang disarankan dalam pedoman pengarusutamaan pengurangan resiko bencana.
Materi potensi bencana dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2013, dengan melihat empat kompetensi inti. Langkah yang dapat dilakukan guru adalah memetakan kompetensi dasar pada masing-masing tema dan menentukan indikator dengan melihat potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah siswa tersebut berada.
Mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana pada Kurikulum 2013, dapat membentuk sikap spiritual yang tinggi tentang kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam mengembangkan materi terkait pengurangan resiko bencana di negara mayoritas beragam seperti Indonesia, keyakinan bahwa bencana disebabkan karena hukuman atau cobaan Tuhan harus lebih diberikan perhatian. Bagaimanapun, keyakinan tersebut akan secara signifikan mempengaruhi pengurangan resiko bencana yang efektif jika orang memiliki kemauan untuk membangun kesiapsiagaan yang tepat. Sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan bencana berdasarkan perspektif keagamaan.
Sikap sosial pada siswa akan terbentuk dengan mengintegrasikan mitigasi bencana. Karena dengan pendidikan mitigasi bencana, siswa menjadi peduli akan pentingnya menjaga lingkungan, pentingnya perilaku disipilin, dan bagaimana berinteraksi dengan teman ketika terjadi bencana.
Pembentukan pengetahuan siswa dengan menggunakan pendidikan mitigasi bencana dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya. Selain itu, pembentukan pengetahuan siswa dipengaruhi berbagai faktor yang mencakup kehidupan manusia. Perkembangan siswa dipengaruhi oleh (1) konteks mikro sistem seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya, (2) konteks mesosistem seperti hubungan keluarga dan sekolah, sekolah dengan sebaya, dan sebaya dengan individu, (3) konteks ekosistem seperti latar orang tua dan kebijakan pemerintahan, dan (4) konteks makrosistem seperti pengaruh lingkungan budaya, norma, agama, dan lingkungan sosial anak dibesarkan. Adapun mitigasi bencana merupakan konteks makrosistem dalam pembentukan pengetahuan siswa.
Mitigasi bencana merupakan bentuk dalam bersikap menghadapi bencana. Tantangannya adalah bagaimana program pendidikan mitigasi bencana dapat mendorong masyarakat untuk memperbaharui informasi, meningkatkan tingkat persepsi resiko, menjaga kesadaran, serta melakukan dan mempengaruhi persiapan yang tepat terhadap bencana di masa mendatang. Sebagai tindak lanjut, perlu dikembangkan berbagai pendekatan pembelajaran dan pembelajaran yang akan mampu mencapai tujuan utama dari pengurangan resiko bencana, membuat siswa memiliki budaya kesiapsiagaan bencana. Metode simulasi permainan, kunjungan lapangan, percobaan dan pelatihan rutin bencana merupakan metode alternatif yang dapat dilakukan dalam pendidikan mitigasi bencana.

Referensi
Djauhari, N. (2014). Pengantar Mitigasi Bencana Geologi. Yogyakarta: Deepublish.
Kusumasari, B. (2014). Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal. Yogyakarta: Gava Media.
Peraturan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pilihan Tindakan Penanggulangan Bencana.
Surat Edaran Mendiknas Nomor 70a/MPN/SE/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Resiko Bencana di Sekolah.


EmoticonEmoticon