Thursday, 17 January 2019

Pendidikan Multikultural


Pendidikan Multikultural
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

multikultural

Pendidikan multikultural didefinisikan sebagai “pendidikan tentang keberagaman kebudayaan dalam merespons perubahan-perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu, bahkan dunia secara keseluruhan” (Mahfud, 2011, hlm. 176).
Pendidikan multikultural berawal dari berkembangnya gagasan dan kesadaran tentang interkulturalisme setelah Perang Dunia II. Kemunculan gagasan ini terkait dengan perkembangan politik internasional berkenaan dengan hak asasi manusia, kemerdekaan dari kolonialisme, dan diskriminasi rasial.
Pada dasarnya program pendidikan multikultural difokuskan pada pengembangan nilai-nilai demokratis. Pendidikan multikultural melihat masalah-masalah masyarakat secara lebih luas. Tidak hanya memasukkan masalah-masalah struktural ras, tetapi lebih luas mempersoalkan masalah-masalah kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam ilmu pengetahuan.
Fokus pendidikan multikultural tidak hanya diarahkan pada kelompok rasial, agama, kultural dominan, dan mainstream. Fokus ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream dominan, yang pada akhirnya dapat membuat orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan interkultural semacam ini pada akhirnya memunculkan tidak hanya sikap tidak peduli terhadap nilai-nilai budaya minoritas, bahkan cenderung melestarikan prasangka-prasangka sosial kultural yang rasis dan diskriminatif.
Pendidikan multikultural membangun pemahaman yang kritis tentang makna etnis dan ras adalah penting karena hal ini dapat membangun dan menumbuhkan pemahaman positif terhadap kelompok etnis dan ras lainnya. Pendidikan multikultural juga “melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungan mereka” (Yaqin, 2005, hlm. 25).
Pendidikan multikultural paling tidak menyangkut tiga hal, yakni:
1. Kesadaran nilai penting keberagaman budaya
Pendidikan multikultural berkaitan dengan ide bahwa semua peserta didik tanpa memandang karakteristik budayanya harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah. Perbedaan yang ada merupakan suatu kewajaran, bukan untuk dibeda-bedakan. Artinya, perlu sikap toleransi terhadap suatu perbedaan agar dapat hidup berdampingan secara damai, tanpa melihat unsur yang berbeda tersebut sebagai pembeda.
2. Gerakan pembaharuan pendidikan
Pendidikan multikultural seharusnya dapat muncul dalam bentuk bidang studi, program, dan praktik yang direncanakan lembaga pendidikan untuk merespons tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok. Pendidikan multikultural bukan hanya sekedar praktik aktual atau bidang studi atau program pendidikan semata, melainkan mencakup seluruh aspek pendidikan.
3. Proses pendidikan
Pendidikan multikultural adalah proses menjadi, proses yang berlangsung terus menerus dan bukan sebagai sesuatu yang langsung terjadi. Tujuan dari pendidikan multikultural adalah untuk memperbaiki pribadi secara utuh.
Bentuk pengembangan pendidikan multikultural di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masing-masing negara. Setidaknya menurut Banks (1993, hlm. 14) terdapat empat pendekatan yang dapat mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum, sebagai berikut:
1. Pendekatan kontribusi
Ciri pendekatan ini adalah dengan memasukkan pahlawan-pahlawan dari suku bangsa dan benda-benda budaya ke dalam pelajaran yang sesuai.
2. Pendekatan aditif
Pada pendekatan ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema, perspektif kurikulum, tanpa mengubah struktur, tujuan, dan karakteristik dasarnya. Pendekatan ini sering dilengkapi dengan buku, modul, atau bidang bahasan terhadap kurikulum tanpa mengubah substansi.
3. Pendekatan transformasi
Pendekatan transformasi mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi dasar siswa dalam melihat konsep, isu, tema, dan masalah dari sejumlah perspektif serta sudut pandang.
4. Pendekatan aksi sosial
Pendekatan ini mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang mempersyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu, atau masalah yang dipelajari dalam unit. Tujuan utama dari pembelajaran dan pendekatan ini adalah mendidik siswa melakukan kritik sosial dan mengajarkan keterampilan membuat keputusan untuk memperkuat siswa dan membantu mereka memperoleh pendidikan politis. Siswa memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi dalam perubahan sosial sehingga kelompok-kelompok etnis, ras, dan golongan-golongan yang terabaikan dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

Referensi
Banks, J. A. (1993). An Introduction to Multicultural Education. Boston: Allyn and Bacon.
Mahfud, C. (2011). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yaqin, A. (2005). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pilar Media.


EmoticonEmoticon