Sunday, 13 January 2019

Pidato


Pidato
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

berpidato

Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. “Pidato umumnya ditujukan kepada orang atau sekumpulan orang untuk menyatakan selamat, menyambut kedatangan tamu, memperingati hari-hari besar, dan lain sebagainya” (Karomani, 2011, hlm. 12).
Menurut Tarigan (1997, hlm. 73) “menyampaikan pidato atau berpidato adalah berbicara di hadapan orang banyak dalam rangka menyampaikan suatu masalah untuk mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya untuk bermusyawarah, memberikan rujukan, dan sebagainya”. Berpidato juga merupakan suatu kegiatan menyampaikan gagasan secara lisan dengan menggunakan penalaran yang tepat serta memanfaatkan aspek-aspek nonkebahasaan seperti ekspresi wajah, kontak pandang, gerak tangan yang dapat mendukung efisiensi dan efektifitas pengungkapan gagasan kepada orang banyak dalam suatu acara tertentu.
Hal-hal yang perlu disiapkan oleh orang yang berpidato menurut Keraf (1994, hlm. 317-339), antara lain:
1. Menentukan topik dan tujuan berpidato
Topik merupakan persoalan yang dikemukakan, sedangkan tujuan pembicaraan berhubungan dengan tanggapan yang diharapkan dari para pendengar berkenaan dengan persoalan yang dikemukakan.
2. Menganalisis pendengar dan situasi
Melalui analisis situasi akan didapatkan jalan keluar untuk menyiapkan cara-cara bagaimana pembicara harus menyesuaikan diri dalam menyampaikan uraiannya dan memberi jalan untuk menentukan suatu sikap yang harus diambil dalam menghadapi para pendengar. Menganalisis pendengar dapat dilakukan dengan cara mengaitkan pokok pembicaraannya dengan persoalan hidup pendengar.
3. Memilih topik dan menyempitkan topik
Pemilihan topik hendaknya disesuaikan dengan sifat pertemuan serta data dan informasi tentang situasi dan pendengar yang akan hadir dalam pertemuan. Topik yang akan disajikan harus disempitkan atau dibatasi, disesuaikan dengan waktu yang disediakan.
4. Mengumpulkan materi pidato
Materi pidato harus berhubungan dengan persoalan atau topik yang akan dibahas. Lebih banyak dan lebih lengkap bahan yang diperoleh akan memperlancar pembicara dalam menyusun suatu naskah.
5. Menyusun dan mengembangkan kerangka pidato
Kerangka pidato dibuat terperinci dan tersusun baik. Di dalam kerangka tersebut persoalan yang akan dibahas dibagi menjadi sejumlah bagian/subtopik. Tiap bagian dibagi menjadi bagian-bagian lebih kecil yang menjelaskan bagian sebelumnya.
6. Menguraikan secara mendetail
Pada penyusunan naskah hendaknya dipergunakan kata-kata yang tepat, penggunaan kalimat yang efektif, pemakaian istilah-istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki sehingga dapat memperjelas uraian.
7. Melatih dengan suara nyaring
Dengan melakukan latihan, seorang pembicara akan dapat membiasakan diri dan menemukan cara serta gaya yang tepat.
Tujuan penyajian pidato menurut Ochs dan Winner (dalam Tarigan, 2008, hlm. 16) di antaranya:
1. Menyampaikan informasi, yaitu pidato yang bertujuan memberikan laporan atau pengetahuan atau sesuatu yang menarik untuk pendengar. Misalnya, pidato penyuluhan cara menggunakan kompor gas.
2. Meyakinkan dan mempengaruhi sikap pendengar, yaitu pidato yang berisi tentang usaha untuk mendorong, meyakinkan, dan mengajak pendengar untuk melakukan suatu hal. Misalnya, pidato calon legislatif.
3. Menghibur pendengar, yaitu pidato yang bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan pendengar. Misalnya, pidato di pokso bencana.
4. Menekankan aspek-aspek pendidikan, yaitu pidato yang berupaya menekankan pada aspek-aspek pendidikan. Misalnya, pidato keagamaan.
Seseorang yang berpidato dengan baik akan meyakinkan pendengarnya untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi, gagasan atau pesan yang disampaikannya. Faktor-faktor yang harus diperhatikan agar dapat berpidato dengan baik menurut Maidar (dalam Karomani, 2011, hlm. 12), antara lain:
1. Harus mempunyai tekad dan keyakinan bahwa pembicara mampu meyakinkan orang lain. Dengan memiliki tekad ini maka akan tumbuh keberanian dan sikap percaya diri sehingga pembicara tidak akan ragu-ragu mengucapkan pidatonya.
2. Harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga pembicara dapat menguasai materi dengan baik.
3. Harus memiliki pembendaharan kata yang cukup, sehingga pembicara mampu mengungkapkan pidato dengan lancar dan meyakinkan.
4. Harus memiliki kebiasaan atau latihan yang intensif. Persiapan yang matang dan latihan yang intensif akan sangat membantu kelancaran berpidato.
Metode dalam berpidato menurut (Mulgrave, 1954, hlm. 25) dapat dibedakan menjadi empat, yakni:
1. Metode menghafal
Metode menghafal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghafalnya kata per kata. Pembicara mempersiapkan pidato yang akan disampaikan secara lengkap sebelum menyampaikan pidato, kemudian dihafal kata demi kata. Metode ini dapat melatih pembicara untuk melatih pemahaman sebelum menghafal teks pidato yang akan disampaikan. Selain itu, metode ini akan membuat pembicara lebih terfokus dengan teks yang telah dihafal dan audience yang dihadapi.
2. Metode serta-merta
Metode serta-merta, yaitu membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Metode ini dilakukan berdasarkan kebutuhan sesaat. Pembicara sebelum berbicara tidak melakukan persiapan sama sekali, melainkan secara serta-merta berbicara berdasarkan kemampuannya dan pengetahuannya yang dikaitkan dengan situasi dan kepentingan saat itu.
3. Metode naskah
Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi. Pembicara menyampaikan pidato dengan membacakan naskah yang telah ditulis, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
4. Metode ekstemporan (tanpa persiapan naskah)
Metode ekstemporan, yaitu metode tanpa persiapan naskah yang lengkap. Pembicara masih mempunyai kesempatan untuk membuat persiapan khusus berupa kerangka pembicaraan/catatan penting. Metode ini sangat dianjurkan sebagai jalan tengah. Uraian yang akan dibawakan pada metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat catatan yang penting, sekaligus menjari urutan bagi uraian tersebut. Catatan-catatan ini hanya digunakan untuk mengingat urutan-urutan idenya.

Referensi
Karomani (2011). Keterampilan Berbicara. Tanggerang: Matabaca Publishing.
Keraf, G. (1997). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.
Mulgrave, D. (1954). Speech: A Handbook of Voice Training Diction and Public Speaking. New York: Barnes & Noble Inc.
Tarigan, D. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tarigan, H. G. (2008). Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.


EmoticonEmoticon