Wednesday, 16 January 2019

Profil Negara Indonesia


Profil Negara Indonesia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

negara indonesia

Nama resmi negara Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah dijajah oleh Belanda dan Jepang, Indonesia merdeka pada tahun 1945. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik presidensil dengan kepala negara maupun pemerintahan Presiden.
Nama Indonesia berasal dari bahasa Latin Indus yang berarti India dan bahasa Yunani Nesos yang berarti pulau. George Earl, etnolog berkebangsaan Inggris, pada tahun 1850 mengusulkan nama Indunesian untuk penduduk Kepulauan India. Mahasiswanya, J. R. Logan menggunakan nama Indonesia sebagai sinonim Kepulauan India. Adolf Bastian dari Universitas Berlin mempopulerkan nama Indonesia dalam bukunya pada tahun 1890-an. Namun para akademisi Belanda enggan menggunakan nama tersebut.
Sampai tahun 1900, nama Indonesia lebih populer di lingkungan akademisi di luar Belanda. Namun, sejak tahun itu para pejuang kebangsaan Indonesia menggunakan nama Indonesia sebagai ekspresi politiknya. Ki Hajar Dewantara secara terang-terangan menggunakan nama Indonesia pertama kali ketika mendirikan biro penerbitan di Belanda pada tahun 1913.
Indonesia terletak di garis ekuator sehingga beriklim tropis. Wilayahnya diapit oleh dua benua dan dua samudera, menyebabkannya beriklim musim. Suhu rata-rata tinggi, namun variasinya kecil, dengan rata-rata suhu 26-30 oC. Ketika musim hujan, curah hujan tinggi. Ketika musim kemarau, curah hujan rendah. Curah hujan rata-rata tahunan 1.780-3.175 milimeter.
Puncak Jaya di Papua merupakan puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 5.030 m. Danau Toba di Sumatera merupakan danau terluas dengan 1.145 km2. Sungai-sungai terbesar ada di Kalimantan, yakni Kapuas, Mahakam, dan Barito. Sungai-sungai ini menjadi jalur transportasi penting bagi penduduk di sekitarnya.
Lokasi Indonesia di pertemuan antara lempeng tektonik Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Letak ini menyebabkan letusan gunung berapi dan gempa bumi sering terjadi. Keuntungannya, debu dari gunung berapi menyebabkan tanak Indonesia subur. Keuntungan lain adalah banyaknya hasil tambang material yang dikeluarkan dari dalam perut bumi.
Luas, iklim tropis, dan bentuk kepulauan mendukung keanekaragaman hayati Indonesia. Keanekaragaman hayati Indonesia berada pada nomor dua di dunia setelah Brazil. Hutan hujan tropis Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia. Fauna Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali bercorak Asia, seperti harimau, badak, orang utan, gajah, dan macan tutul. Fauna Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku bercorak peralihan, seperti anoa, tapir, komodo, dan maleo. Fauna Papua bertipe Australia, seperti hewan berkantung dan berbagai jenis spesies burung.
Berdasarkan survei penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, jumlah penduduk Indonesia 265 juta orang. Diperkirakan ada lebih dari 300 etnis di Indonesia. Mayoritas penduduk menganut agama Islam, lainnya menganut agama Protestan, Katholik, Hindu, Budha, atau Konghucu. Bahasa resmi Indonesia adalah bahasa Indonesia. Pada percakapan sehari-hari, banyak penduduk menggunakan bahasa daerah masing-masing.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar. Di antaranya adalah minyak bumi, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia adalah pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia. Hasil pertanian utama Indonesia adalah kelapa sawit, beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet. Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Australia.
Masalah yang dihadapi Indonesia menurut Widodo dan Mulyadi (2008, hlm. 4) adalah “angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi”. Jumlah penduduk yang besar dan industrialisasi menyebabkan kerusakan lingkungan. Pengundulan hutan, kebakaran hutan, dan banjir adalah dampaknya. Masalah lainnya seperti banyaknya bencana alam, sampah, kemacetan lalu lintas, dan korupsi.

Referensi
Badan Pusat Statistik (2018). Statistik Indonesia (Statistical Yearbook of Indonesia) 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Widodo, S. W., & Mulyadi, H. P. (2008). Ayo Belajar Sambil Bermain Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI Kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.


EmoticonEmoticon