Tuesday, 15 January 2019

Skizofrenia


Skizofrenia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

penyakit halusinasi

Skizofrenia pertama kali ditemukan oleh dua orang psikiater Eropa, yakni Emil Kraepelin dan Eugen Bleuer. Kraepelin pertama kali mengemukakan teorinya mengenai dementia praecox, ini adalah istilah awal untuk penyakit skizofrenia pada tahun 1898. “Ia membedakan dua kelompok utama psikosis yang disebutnya endogenik-dimensia paranoid, katatonik, dan hebefrenik yang dianggap sebagai ungkapan tersendiri oleh para ahli klinis pada beberapa dekade terdahulu” (Davidson, John, dan Ann, 2006, hlm. 451). Sedangkan Eugen Bleuer berpendapat bahwa gangguan tersebut tidak selalu terjadi pada usia dini, kemudian gangguan tersebut tidak dapat berkembang menjadi dementia tanpa dapat dihindari. Sehingga sebutan dementia praecox tidak layak lagi digunakan dan diganti dengan nama skizofrenia, yang berasal dari kata Yunani schizein, yang berarti membelah, dan phren, yang berarti akal pikiran.
Skizofrenia merupakan salah satu dari berbagai psikopatologi yang paling berat. Keadaan tersebut terjadi sepanjang hidupnya kurang dari 1% dan terjadi pada laki-laki dan perempuan kira-kira sama banyaknya. Meskipun terkadang berawal pada masa kanak-kanak, gangguan ini biasanya muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa, dan terkadang lebih awal pada laki-laki daripada perempuan.
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku-pikiran yang terganggu, di mana berbagai bentuk pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi, dan perhatian yang keliru, efek yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang aneh. Penderita skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk dalam kehidupan fantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi.
Delusi adalah keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan. Sedangkan halusinasi adalah suatu pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan. Adapun sejumlah halusinasi yang kerap terjadi pada penderita skizofrenia, antara lain:
1. Sejumlah pasien skizofrenia mengatakan bahwa mereka mendengar pikiran mereka yang diucapkan oleh suara lain.
2. Sejumlah pasien mengklaim bahwa mereka mendengar suara-suara yang saling berdebat.
3. Sejumlah pasien mendengar suara-suara yang mengomentari perilaku mereka.
Gejala-gejala negatif skizofrenia mencakup deficit behavioral, seperti avolition, alogia, anhedonia, efek datar, dan asosialitas. Gejala-gejala ini cenderung memiliki efek parah terhadap kehidupan penderita skizofrenia.  Anhedonia adalah ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan. Hal ini tercermin dalam kurang minatnya dalam aktivitas rekreasional, gagal untuk membina hubungan dekat dengan orang lain, dan kurangnya minat pada hubungan seksual. Pada penderita yang memiliki efek perasaan datar hampir tidak ada stimulus yang dapat memunculkan respons emosional. Biasanya penderita akan menatap dengan pandangan kosong, otot wajah kendur, dan mata mereka tidak hidup. Ketika diajak bicara, maka mereka akan menjawab dengan suara datar dan tanpa nada. Adapun gejala asosialitas, yaitu ketidakmampuan dalam membina hubungan sosial. Di mana mereka hanya memiliki sedikit teman, keterampilan sosial rendah, dan sangat kurang berminat untuk berkumpul bersama orang lain.
Perilaku aneh penderita skizofrenia terwujud dalam banyak bentuk. Penderita dapat meledak marah secara tiba-tiba yang tidak dapat dimengerti, memakai pakaian yang tidak biasa, mengumpulkan sampah, menyimpan makanan, dan perilaku aneh lainnya.
Secara umum skizofrenia disebabkan karena sejumlah hal berikut:
1. Gangguan fisik, biologis, atau organik. Penyebabnya bisa karena faktor keturunan, kelainan pada otak, penyakit infeksi, kecanduan obat atau alkohol, dan sebagainya.
2. Ganggauan mental, emosional, atau kejiwaan. Penyebabnya adalah karena pola asuh yang keliru, hubungan yang patologis antara anggota keluarga disebabkan frustasi, konflik, atau tekanan krisis.
3. Gangguan sosial atau lingkungan. Penyebabnya dapat berupa stress psikososial seperti masalah orang tua, hubungan antar personal di lingkungan belajar, pekerjaan, lingkungan hidup, masalah keuangan, dan sebagainya.

Referensi
Davison, G. C., John, M. N., & Ann, M. K. (2006). Psikologi Abnormal. Jakarta: Rajawali Press.


EmoticonEmoticon