Monday, 21 January 2019

Tokoh Pendidikan Abad 19 Ovide Declory


Tokoh Pendidikan Abad 19 Ovide Declory
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

ovide declory

Ovide Declory lahir pada 23 Juli 1871. Declory mengembangkan suatu bentuk model pembelajaran simbiotis sebagai bentuk ketidaksepemahaman dengan model pendidikan kuno yang memperlihatkan bidang secara terpisah (separate object) dan tidak berkaitan dengan kehidupan anak. Model dan konsep pendidikan menurut Declory (dalam Sujiono, 2009, hlm. 124) mencakup:
1. Sekolah harus dihubungkan dengan kehidupan alam sekitar.
2. Pendidikan dan pembelajaran didasarkan pada perkembangan anak.
3. Sekolah menjadi laboratorium bekerja bagi anak.
4. Bahan-bahan pendidikan atau pembelajaran bersifat fungsional praktis.
5. Perlunya pendidikan sosial dan kesusilaan.
6. Perlunya kerjasama antara rumah dan sekolah.
Pandangan Declory tentang pendidikan dan pembelajaran anak usia dini dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin, yakni (1) setiap individu berkembang secara teratur dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, dan (2) setiap individu harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sekitarnya. Berdasar kedua konsep tersebut, Declory meyakini bahwa tujuan utama pendidikan adalah membantu anak agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sekitarnya.
Pengajaran harus dimulai dari sesuatu yang menjadi perhatian atau pusat minat anak sesuai dengan kebutuhan dan insting anak, antar bahan pembelajaran dihubungkan oleh suatu kesatuan hidup yang nyata atau persekutuan hidup (simbiotis). Bahan pembelajaran anak usia dini dibagi menjadi empat yakni makanan, pakaian, pembelaan diri, serta bekerja dan berolah raga.
Prinsip lain yang dianut Declory adalah keterkaitan, di mana penyusunan bahwa pembelajaran yang diambil dari lingkungan sekitar anak dengan menunjukkan sebagai bahan pembelajaran yang memiliki kegunaan atau fungsi secara praktis dan langsung dalam kehidupan anak tersebut. Pembelajaran yang belangsung dalam alam sekitar akan memberikan keleluasaan anak untuk menunjukkan otoaktivitasnya, sehingga dapat belajar dan bekerja secara produktif.
Bahan pembelajaran yang diambil dari persekutuan hidup atau lingkungan sekitar ini memungkinkan anak aktif belajar mengerjakan seperti mengamati, menanam, beternak, memelihara, mengolah, dan memasarkan.
Langkah pembelajaran simbiotis yang diajukan oleh Decroly (dalam Sujiono, 2009, hlm. 125) terbagi menjadi sejumlah tahap berikut:
1. Observasi atau pengamatan
Pada langkah ini guru mengajak anak melakukan perjalanan sekolah pada obyek yang menjadi pusat perhatian yang telah ditentukan dari lingkungan sekitar anak. Kegiatan ini akan memberikan kesempatan kepada anak untuk aktif melihat, bertanya, serta berpikir dengan menggunakan seluruh inderanya.
2. Kegiatan asosiasi atau pengolahan
Setelah pengamatan, anak kembali ke ruang kelas dengan membawa berbagai hal berkaitan dengan obyek yang diamati. Hasil pengamatan diolah dengan jalan diasosiasikan dengan baik, maka harus disediakan buku asosiasi yang telah dirancang sebelumnya oleh guru. Langkah ini dilakukan oleh anak dalam kelas baik secara individu maupun kelompok.
3. Kegiatan ekspresi atau pengungkapan
Guru membimbing anak untuk mengungkapkan obyek-obyek yang telah diamati dan diolah. Pengungkapan ini dapat dilakukan dalam bentuk bahasa seperti bercerita, berdrama, menggambar, dan mewarnai. Ekspresi dengan menggunakan bahasa disebut Declory sebagai ekspresi abstrak, sedangkan yang menggunakan alat atau benda disebut ekspresi konkrit.

Referensi
Sujiono, Y. N. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.


EmoticonEmoticon