Tuesday, 19 February 2019

Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Sriwijaya
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah suatu kerajaan maritim yang kuat di wilayah pulau Sumatera dan memberi pengaruh banyak di Nusantara dengan daerah kekuasaan yang membentang sampai Thailand, Kamboja, Semenanjung Malaya, Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pada bahasa Sansekerta, sri berarti bercahaya dan wijaya berarti kemenangan. Bukti awal mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya berawal dari abad ke-7. I-Tsing, seorang pendeta Tiongkok menuliskan bahwa ia tinggal selama enam bulan saat mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671.
Nama Sriwijaya terkenal dalam perdagangan internasional kala itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sumber yang menerangkan mengenai keberadaan Sriwijaya, antara lain:
1. Menurut berita Arab
Dikabarkan bahwa pedagang Arab melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya, bahkan di sekitar Sriwijaya ada peninggalan yang besar kemungkinan bekas perkampungan orang Arab.
2. Menurut berita India
Dikabarkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah mengadakan hubungan kerjasama dengan beberapa kerajaan India, seperti Colamandala dan Nalanda, bahkan Kerajaan Nalanda membangun sebuah prasasti yang menceritakan mengenai Sriwijaya.
3. Menurut berita Cina
Dikabarkan bahwa para pedagang yang berasal dari Cina sering singgah di wilayah Kerajaan Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India dan Arab.
Agama yang dianut oleh Kerajaan Sriwijaya adalah agama Budha. Sriwijaya juga sebagai pusat pengajaran agama Budha Vajrayana. Kerajaan Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarana dari berbagai negara di Asia. Salah satunya I-Tsing, seorang pendeta dari Tiongkok yang melakukan ekspedisi ke Sumatera dalam perjalanan belajarnya di Universitas Nalanda, India pada tahun 671 sampai 695.
Budaya India banyak yang mempengaruhi Kerajaan Sriwijaya, diawali oleh Budaya Hindu kemudian diikuti oleh agama Budha. Raja-raja Sriwijaya berhasil menguasai Kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukan dari abad ke-7 sampai abad ke-9, sehingga secara langsung ikut serta mengembangkan kebudayaan Melayu beserta bahasanya di Nusantara.
Raja-raja yang pernah menjabat menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya, di antaranya:
1. Raja Daputra Hayang
Cerita mengenai Raja Daputra Hayang ditemukan melalui Prasasti Kedukan Bukit (683 Masehi). Pada masa kekuasaannya, Raja Daputra Hayang telah sukses memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Jambi. Dari awal pemerintahannya Raja Daputra Hayang bercita-cita agar Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.
2. Raja Dharmasetu
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya meluas sampai ke wilayah Semenanjung Malaya. Bahkan Kerajaan Sriwijaya di sana membangun sebuah pangkalan di wilayah Ligor. Selain itu, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan negeri India dan Cina. Setiap kapal yang berlayar dari India dan Cina selalu berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.
3. Raja Balaputradewa
Berita mengenai Raja Balaputradewa diketahui dari catatan Prasasti Nalanda. Raja Balaputradewa menjabat sekitar abad ke-9. Pada masa kekuasaannya Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat menjadi sebuah pusat agama Budha di Asia Tenggara. Ia menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di India, seperti Colamandala dan Nalanda.
4. Raja Sri Sudamaniwarmadewa
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya pernah mengalami serangan dari Raja Darmawangsa dari timur. Tetapi, serangan tersebut berhasil digagalkan.
5. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya mengalami sebuah serangan dari Kerajaan Chola, yang dipimpin oleh Raja Rajendra Chola. Kerajaan Chola sukses merebut Kerajaan Sriwijaya, sekaligus menjadi akhir bagi Kerajaan Sriwijaya.
Adapun peninggalan Kerajaan Sriwijaya, antara lain:

1. Prasasti Ligor

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Ligor dijumpai di daerah Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Tulisan tersebut dipahat di kedua sisi. Pada sisi pertama menjelaskan mengenai kegagahan, kewibawaan raja Sriwijaya. Pada bagian sisi lainnya mengisahkan mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana kepada Sri Maharaja.

2. Prasasti Palas Pasemah

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Palas Pasemah merupakan salah satu prasasti yang ditemukan di pinggiran desa, di daerah Palas Pasemah, Lampung Selatan. Tulisan prasasti ini memakai bahasa Melayu Kuno yang beraksara Pallawa tersusun rapi dengan 13 baris perkataan. Isi dari Prasasti Ligor menerangkan mengenai kutukan-kutukan terhadap orang-orang yang tidak patuh terhadap kekuasaan Sriwijaya. Diprediksikan prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi.

3. Prasasti Hujung Langit

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Hujung Langit merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yang keberadaannya ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan memakai tulisan Pallawa. Pada prasasti ini terdapat beberapa kata susunan pesan-pesan, akan tetapi susunan pesan di dalam prasasti ini tidak cukup jelas keterangannya. Namun, setelah diidentifikasi prasasti ini diprediksikan berasal dari tahun 997 Masehi dan isi prasastinya menerangkan mengenai pemberian tanah sirna.

4. Prasasti Kota Kapur

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Kota Kapur ini dijumpai di sebelah barat Pulau Bangka. Prasasti ini menerangkan tentang kutukan-kutukan untuk siapa saja yang berani membantah perintah dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Telaga Batu

Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Telaga Batu menjelaskan tentang kutukan-kutukan untuk mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat di Kerajaan Sriwijaya.


EmoticonEmoticon