Friday, 1 February 2019

Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR)


Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran AIR

Model pembelajaran auditory intellectually repetition (AIR) merupakan pembelajaran yang berfokus pada interaksi antara guru dan siswa. Pada model pembelajaran ini, guru berperan sebagai fasilitator, alat indera digunakan siswa untuk membangun dan meningkatkan pengetahuannya.
Lebih lanjut model pembelajaran auditory intellectually repetition (AIR) dijelaskan sebagai berikut:

1. Auditory
Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditoris, bahkan tanpa kita sadari belajar auditoris merupakan cara belajar standar bagi masyarakat. Kunci belajar terletak pada artikulasi rinci. “Tindakan mendeskripsikan sesuatu yang baru bagi kita akan mempertajam persepsi dan memori kita tentangnya, ketika kita membaca sesuatu yang baru, kita harus menutup mata dan kemudian mendeskripsikan dan mengucapkan apa yang telah dibaca” (Meier dalam Huda, 2015, hlm. 289).
Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar yang mengakses segala jenis bunyi dan kata, baik yang diciptakan maupun diingat. Karena siswa yang auditoris lebih mudah belajar dengan cara berdiskusi dengan orang lain, maka guru sebainya melakukan hal-hal seperti (1) melaksanakan diskusi kelas, (2) meminta siswa untuk presentasi, (3) meminta siswa untuk membaca teks dengan keras, (4) meminta siswa untuk mendiskusikan ide secara verbal, dan (5) melaksanakan belajar kelompok.

2. Intellectually
Menurut Meier (dalam Shoimin, 2014, hlm. 29) “intelektual bukanlah pendekatan emosi, rasional, akademis, dan terkotak-kotak”. Intelektual menunjukan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Proses ini tidak berjalan dengan sendirinya. Proses tersebut dibantu oleh faktor mental, fisik, emosional, dan intuitif. Inilah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan.
Intellectually bermakna bahwa belajar harus menggunakan kemampuan berpikir (mind-on), haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakan nalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengontruksi, memecahkan masalah, dan menerangkan.
Untuk itu, seorang guru harus berusaha mengajak siswa terlibat dalam aktivitas-aktivitas intelektual seperti (1) memcahkan masalah, (2) menganalisis pengalaman, (3) mengerjakan perencanaan strategis, (4) melahirkan gagasan kreatif, (5) mencari dan menyaring informasi, (6) merumuskan pertanyaan, (7) menciptakan model mental, (8) menerapkan gagasan baru pada pekerjaan, (9) menciptakan makna pribadi, dan (10) meramalkan implikasi suatu gagasan.

3. Repetition
Repetition atau repetisi bermakna pengulangan. Pada konteks pembelajaran, hal ini merujuk pada pendalaman, perluasan, dan pemantapan siswa dengan cara memberi tugas atau kuis. Pengulangan dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar pemahaman siswa lebih mendalam, disertai pemberian soal dalam bentuk tugas latihan atau kuis. Melalui pemberian tugas, diharapkan siswa lebih terlatih dalam menggunakan pengetahuan yang didapat dalam menyelesaikan soal dan mengingat apa yang telah diterima. Sementara pemberian kuis dimaksudkan agar siswa siap menghadapi ujian atau tes serta melatih daya ingat.
Pelajaran yang diulang akan memberi tanggapan yang jelas tidak mudah lupa, sehingga siswa dapat dengan mudah memecahkan masalah. “Pengulangan semacam ini dapat diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu, maupun secara insidental jika dianggap perlu” (Slamet dalam Huda, 2015, hlm. 289-292).

Langkah-langkah model pembelajaran auditory, intellectually, repetition (AIR) dijabarkan sebagai berikut:
1. Siswa dibagi menjadi sejumlah kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan  4-5 orang.
2. Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru.
3. Setiap kelompok mendiskusikan tentang materi yang mereka pelajari dan menuliskan hasil diskusi tersebut, untuk selanjutnya dipresentasikan di depan kelas (auditory).
4. Saat diskusi berlangsung, siswa mendapat soal atau permasalahan yang berkaitan dengan materi.
5. Masing-masing kelompok memikirkan cara menerapkan hasil diskusi serta dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah (intellectually).
6. Setelah selesai diskusi, siswa mendapat pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas atau kuis untuk tiap individu (repetition).
Adapun kelebihan dari model pembelajaran auditory, intellectually, repetition (AIR) menurut Shoimin (2014, hlm. 29-30), antara lain:
1. Siswa lebih berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan lebih sering mengekspresikan idenya.
2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan secara komperhensif.
3. Siswa dengan kemampuan rendah dapat merespons permasalahan dengan cara mereka sendiri.
4. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
5. Siswa memiliki pengalaman untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
Sedangkan kelamahan model pembelajaran auditory, intellectually, repetition (AIR) menurut Shoimin (2014, hlm. 31), di antaranya:
1. Membuat dan menyiapkan masalah yang bermakna bagi siswa tidaklah mudah.
2. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami oleh siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam merespons permasalahan yang diberikan.
3. Siswa dengan kemampuan tinggi dapat merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.

Referensi
Huda, M. (2015). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.


EmoticonEmoticon