Sunday, 10 February 2019

Pengambilan Keputusan dalam Bermusyawarah


Pengambilan Keputusan dalam Bermusyawarah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

musyawarah

Ketika sekolah akan mengadakan kegiatan, terlebih dahulu diadakan rapat untuk membicarakan persiapan sebelum melaksanakan kegiatan tersebut. Semua peserta rapat, yakni seluruh peserta didik bebas mengeluarkan pendapat dan bebas berbicara. Lebih lanjut, terdapat tiga cara pengambilan keputusan dalam rapat, di antaranya:

1. Aklamasi
Aklamasi adalah pengambilan suara secara bulat, tanpa satu pun anggota yang tidak sepakat. Pada praktiknya, pengambilan suara secara aklamasi jarang terjadi. Hal tersebut karena biasanya selalu saja ada pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan bahkan bermanfaat bagi organisasi. Dengan adanya perbedaan pendapat organisasi menjadi dinamis dan selalu bergerak untuk maju. Akan tetapi, perbedaan pendapat yang tidak diselesaikan dan berlarut-larut dapat membahayakan organisasi. Untuk mempertemukan berbagai perbedaan pendapat, organisasi biasanya menempuh jalan musyawarah.

2. Musyawarah
Musyawarah berasal darai kata bahasa Arab, syawara yang berarti berunding, mengatakan, atau menyampaikan sesuatu. Musyawarah adalah proses membicarakan suatu persoalan untuk mencapai kesepakatan bersama. Kesepakatan yang telah disetujui semua peserta dalam musyawarah disebut mufakat. Mufakat membuat kemungkinan terjadinya pertikaian dan perpecahan menjadi lebih kecil. Di dalam musyawarah, perbedaan pendapat dan ide semua anggota dihargai, kemudian dicarikan jalan tengah terbaik yang disepakati semua anggota. Karena semua anggota didorong untuk mengemukakan pendapatnya, musyawarah sering menghasilkan jalan keluar terbaik. Selain itu, musyawarah melatih semua anggota yang berbeda pendapat berkompromi untuk mencapai hasil yang terbaik. Akan tetapi, cara seperti ini akan memakan waktu yang lama. Apalagi jika peserta musyawarah banyak dan terdapat banyak perbedaan pendapat.

3. Voting (suara terbanyak)
Jika cara musyawarah tidak mampu menemukan titik temu atau kata mufakat, ditempuhlah cara voting. Voting adalah pengambilan keputusan dengan menghitung suara terbanyak. Pendapat yang disetujui mayoritas peserta akan ditetapkan sebagai keputusan bersama. Dengan cara voting, keputusan akan diambil dalam waktu yang lebih singkat tetapi terdapat kemungkinan adanya ketidakpuasan dari pihak yang kalah. Cara ini hendaknya menjadi cara terakhir mengambil keputusan dalam suatu organisasi. Karena cara ini memenangkan pendapat mayoritas (sebagian besar anggota) dan tidak memperhitungkan suara pendapat minoritas (sebagian kecil anggota). Jika pengambilan keputusan terus-menerus dilakukan dengan cara voting, keharmonisan organisasi akan terganggu, bahkan mungkin akan menyebabkan perpecahan. Golongan minoritas yang pendapatnya tidak dihargai akan merasa tersisih dan tidak puas. Ketidakpuasan ini lama-kelamaan dapat menimbulkan konflik yang membuat organisasi tidah harmonis. Untuk itu, cara ini sebisa mungkin dihindari dan dijadikan jalan paling terakhir.

Berdasar ketiga cara mengambil keputusan, musyawarah adalah cara terbaik. Namun, agara musyawarah berjalan dengan tertib dan lancar, ada etika musyawarah yang harus diikuti oleh seluruh peserta rapat. Etika bermusyawarah, antara lain:
1. Bersikap tertib dalam mengikuti musyawarah.
2. Menyampaikan pendapat dengan sopan, jelas, dan singkat.
3. Memahami dan menghargai pendapat orang lain.
4. Memahami topik atau masalah yang sedang dimusyawarahkan.
5. Mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.
6. Menerima masukan dalam bentuk kritik, usul, dan saran.
7. Tidak memaksakan kehendak.
8. Menerima hasil musyawarah
9. Melaksanakan keputusan yang sudah diambil dengan sebaik-baiknya.


EmoticonEmoticon