Friday, 15 February 2019

Sosiometri


Sosiometri
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

konsep dasar Sosiometri

Kata sosiometri berasal dari bahasa Latin socius, yang berarti sosial dan metrum, yang berarti pengukuran. Untuk itu, secara harfiah sosiometri bermakna pengukuran sosial. Sosiometri adalah suatu cara mengukur derajat hubungan antar-orang/manusia. Sosiometri mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang dan dengan siapa mereka akan atau tidak akan bersedia bekerja sama.
Jacob Levy Moreno menciptakan istilah sosiometri dan melakukan studi sosiometri sejak tahun 1932-1938 di New York State Training School for Girls di Hudson, New York. Kala itu, Moreno menggunakan teknik sosiometri untuk menentukan tempat tinggal penduduk pada berbagai variasi tempat tinggal. Moreno menemukan bahwa “penentuan yang berbasis pada sosiometri secara substansi mampu mereduksi jumlah penduduk yang meninggalkan fasilitas yang tersedia” (Moreno, 1953, hlm. 527).
Sosiometri didasarkan pada kenyataan bahwa orang membuat pilihan-pilihan dalam hubungan interpersonal. Ketika berkumpul, mereka akan memilih apakah mau duduk atau berdiri, memilih siapa yang bersahabat atau siapa yang tidak bersahabat, memilih siapa tokoh sentral atau siapa yang tidak disukai dalam suatu kelompok. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Moreno (1953, hlm. 720) bahwa “pilihan adalah fakta yang fundamental dalam semua hubungan sosial yang sedang berjalan, dalam memilih orang maupun benda”.
Adapun ruang lingkup sosiometri dijabarkan sebagai berikut:
1. Penentuan kriteria
Penentuan pilihan oleh individu selalu berdasarkan pada kriteria, baik kriteria subyektif seperti kesan pertama atau kesukaan seseorang, maupun kriteria obyektif, misalnya mengetahui bahwa seseorang memiliki atau tidak memiliki keterampilan tertentu.
2. Pembuatan instrumen
Instrumen atau alat ukur sosiometri berupa daftar pertanyaan dalam bentuk kuisioner/angket yang akan digunakan untuk mengetahui pemilihan seseorang termasuk alasan-alasan dalam pilihannya.
3. Pembuatan sosiomatriks
Data sosiometri yang dikumpulkan menggunakan instrumen kuosionser/angket ditampilkan dalam bentuk tabel atau matriks dari pilihan-pilihan setiap orang. Tabel/matriks semacam itu disebut sosiomatriks.
4. Pembuatan sosiogram
Selain sosiomatriks, data sosiometri juga disajikan dalam bentuk diagram atau gambar. Ketika anggota sebuah kelompok diminta untuk memilih satu sama lain didasarkan pada kriteria tertentu, setiap orang dalam kelompok dapat memilih dan menjelaskan mengapa dia memilih pilihannya tersebut. Hubungan-hubungan ini kemudian dipetakan dalam suatu gambar atau diagram. Gambar peta dari hubungan-hubungan tersebut disebut sosiogram.
5. Analisis indeks
Analisis indeks merupakan metode untuk mengukur distribusi maupun kecenderungan masalah hubungan-hubungan sosial dalam suatu kelompok. Indeks sosiometri memiliki range tertentu untuk menentukan posisi individu dalma kelompok dan untuk menggambarkan karakteristik kelompok. Aplikasi sosiometri memanfaatkan metode ini untuk mengarahkan orang dan kelompok memeriksa kembali serta mengembangkan jaringan hubungan psikososial yang ada.
Secara garis besar kegiatan sosiometri dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yakni:
1. Tahap persiapan
a. Menentukan kelompok siswa yang akan diseleksi.
b. Memberikan informasi atau keterangan tentang tujuan penyelenggaraan sosiometri.
c. Mempersiapkan angket sosiometri.
2. Tahap pelaksanaan
a. Membagikan angket sosiometri dan siswa diminta mengisi angket yang sudah diterima.
b. Mengumpulkan angket yang sudah diisi dan memeriksa apakah angket sudah diisi dengan benar dan lengkap.
3. Tahap pengelolaan
a. Memeriksa hasil isian angket.
b. Mengolah data sosiometri dengan cara menganalisis indeks, menyusun tabel tabulasi, dan membuat sosiogram.

Referensi
Moreno, J. L. (1953). Who Shall Survive? Foundation of Sociometry, Group Psychotherapy, and Sociodrama. New York: Beacon.


EmoticonEmoticon