Wednesday, 27 March 2019

Analisis Butir Soal


Analisis Butir Soal
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

analisis tes

Kelemahan butir soal tidak terletak pada bentuk atua tipe butir soal, tetapi lebih banyak ditentukan oleh butir soal yang dikonstruksi dengan baik atau tidak baik. Butir soal obyektif akan sama baiknya dengan butir soal uraian untuk mengukur keberhasilan belajar yang dikonstruksi secara baik. Bahkan dalam beberapa hal butir soal uraian lebih besar resikonya daripada butir soal obyektif. Hal ini disebabkan mutu butir soal uraian tidak hanya terletak pada kemampuan siswa untuk menjawab soal tersebut, tetapi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan dan obyektifitas pembuat soal dalam memberikan skor pada hasil tes tersebut.
Butir soal obyektif dapat dianalisis secara lebih akurat dan bertanggung jawab sehingga dapat diketahui kelemahannya secara tepat. Butir soal tes obyektif dapat digunakan berulang-ulang, asalkan tidak dalam perangkat tes yang sama. Oleh karena itu, ada manfaat atau kegunaan analisis butir soal, kemudian direvisi sehingga butir soal yang kurang baik konstruksinya dapat diperbaiki. Akhirnya, akan diperoleh butir soal yang telah teruji dan secara akurat mengukur hasil belajar yang ingin diukur.
Terdapat sejumlah alasan mengapa diperlukan analisis butir soal. Menurut Zainul dan Nasoetion (1997) alasan tersebut, antara lain:
1. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan butir tes, sehingga dapat dilakukan seleksi dan revisi butir soal.
2. Untuk menyediakan informasi tentang spesifikasi butir soal secara lengkap, sehingga akan lebih memudahkan bagi pembuat soal dalam menyusun perangkat soal yang akan memenuhi kebutuhan ujian dalam bidang dan tingkat tertentu.
3. Untuk segera dapat mengetahui masalah yang terkandung dalam butir soal, seperti kesalahan meletakkan kunci jawaban, soal yang telalu sukar atau terlalu mudah, atau soal yang mempunyai daya beda rendah. Masalah ini bila diketahui dengan segera akan memungkinkan bagi pembuat soal untuk mengambil keputusan apakah butir soal yang bermasalah tersebut akan digugurkan atau direvisi guna menentukan nilai peserta didik.
4. Untuk digunakan alat guna menilai butir soal yang akan disimpan dalam kumpulan soal.
5. Untuk memperoleh informasi tentang butir soal sehingga memungkinkan untuk menyusun beberapa perangkat soal yang paralel. Penyusunan perangkat ini sangat bermanfaat bila akan melakukan ujian ulang atau mengukur kemampuan beberapa kelompok peserta tes dalam waktu yang berbeda.
Pendekatan untuk menganilisis butir soal yang berkembang saat ini terdiri atas dua pendekatan, yaitu pendekatan klasik dan pendekatan modern. Kedua pendekatan ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, keduanya masih sering digunakan dalam analisis butir soal. Analisis butir soal dengan pendekatan klasik, misalnya dilakukan dengan menggunakan Program Iteman.
Dengan melihat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, penyusunan tes dituntut untuk mengikuti pedoman penyusunan tes dan melakukan ujicoba. Kemudian berdasarkan hasil ujicoba, respons peserta dianalisis menggunakan Program Iteman untuk mendapatkan karakteristik butir soal.
Data hasil analisis dengan Program Iteman dianalisis kembali menggunakan instrumen butir soal yang memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik. Suryabrata (1999) meyatakan bahwa “analisis butir soal mencakup telaah soal atau analisis kualitatif dan analisis terhadap data empirik hasil ujicoba atau analisis kuantitatif”.
Analisis butir soal secara kualitatif menekankan penilaian dari ketiga segi, yaitu materi, kostruksi, dan bahasa. Analisis butir soal juga dapat dilakukan berdasarkan data yang diperoleh secara empiris melalui ujicoba dari suatu perangkat tes. Analisis dengan cara tersebut disebut analisis kuantitatif atau analisis item yang menghasilkan karakteristik atau parameter butir tes, yaitu tingkat kesukaran, daya beda, serta distribusi jawaban dan kunci setiap butir.

Referensi
Suryabrata, S. (1999). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Zainul, A., & Nasoetion, N. (1997). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


EmoticonEmoticon