Sunday, 31 March 2019

Daya Beda Butir Soal


Daya Beda Butir Soal
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Daya beda butir soal adalah indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan butir soal membedakan kelompok yang berprestasi tinggi (kelompok atas) dari kelompok yang berprestasi rendah (kelompok bawah) di antara para peserta tes. Suryabrata (1999) menyatakan bahwa “tujuan pokok mencari daya beda adalah untuk menentukan apakah butir soal tersebut memiliki kemampuan membedakan kelompok dalam aspek yang diukur, sesuai dengan perbedaan yang ada pada kelompok tersebut”.
Daya beda butir soal yang sering digunakan dalam tes hasil belajar adalah dengan menggunakan indeks korelasi antara skor butir dengan skor total. Daya beda dengan cara ini sering disebut validitas internal, karena nilai kolerasi diperoleh dalam tes itu sendiri.
Di dalam analisis ini digunakan nilai koefisien korelasi biserial untuk menentukan daya beda butir soal. Koefisien korelasi biserial menunjukkan hubungan antara dua skor, yaitu skor butir soal dan skor keseluruhan dari peserta tes yang sama. Rumus yang digunakan sebagai berikut:

daya beda

Keterangan :
D         : Angka indeks daya pembeda butir soal
PA        : Proporsi siswa kelompok atas yang dapat menjawab dengan benar butir
  soal yang bersangkutan
BA        : Banyaknya siswa kelompok atas yang dapat menjawab dengan benar
  butir soal yang bersangkutan
JA         : Jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok atas
PB        : Proporsi siswa kelompok bawah yang dapat menjawab dengan benar
  butir soal yang bersangkutan
BB        : Banyaknya siswa kelompok bawah yang dapat menjawab dengan benar  
  butir soal yang bersangkutan
JB         : Jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok bawah
Koefisien daya beda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Daya beda +1,00 berarti bahwa semua anggota kelompok atas menjawab benar terhadap butir soal tersebut, sedangkan kelompok bawah seluruhnya menjawab salah terhadap butir soal tersebut. Sebaliknya daya beda -1,00 berarti bahwa semua anggota kelompok atas menjawab salah butir soal tersebut, sedangkan kelompok bawah seluruhnya menjawab benar terhadap soal tersebut.
Daya beda yang dianggap masih memadai untuk butir soal apabila sama atau lebih besar dari +0,30. Bila lebih kecil dari itu, maka butir soal tersebut dianggap kurang mampu membedakan peserta tes yang mempersiapkan diri dalam menghadapi tes dari peserta yang tidak mempersiapkan diri. Bahkan bila daya beda itu menjadi negatif, maka butir soal tersebut sama sekali tidak dapat dipakai sebagai alat ukur prestasi belajar. Oleh karena itu, butir soal tersebut harus dikeluarkan dari perangkat soal. “Makin tinggi daya beda suatu butir soal, maka semakin baik butir soal tersebut, dan sebaliknya makin rendah daya bedanya, maka butir soal tersebut dianggap tidak baik” (Zainul dan Nasoetion, 1997).
Menurut Naga (1992) kriteria besarnya koefisien daya beda diklasifikasikan menjadi empat kategori, dijelaskan pada tabel berikut:

Kategori Daya Beda
Koefisien Korelasi
Baik
0,40 – 1,00
Sedang (tidak perlu revisi)
0,30 – 0,39
Perlu revisi
0,20 – 0,29
Tidak baik
-1,00 – 0,19

Referensi
Naga, D. S. (1992). Pengantar Teori Skor pada Pengukuran Pendidikan. Jakarta: Gunadarma.
Suryabrata, S. (1999). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Zainul, A., & Nasoetion, N. (1997). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


EmoticonEmoticon