Sunday, 10 March 2019

Karakteristik dan Strategi Penerapan Inovasi Pendidikan


Karakteristik dan Strategi Penerapan Inovasi Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

strategi inovasi pendidikan

Cepat lambatnya penerimaan inovasi, termasuk inovasi pendidikan oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi. Menurut Rogers (1983, hlm. 14-15) karakteristik inovasi pendidikan, antara lain:
1. Keunggulan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau dari faktor status sosial, kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi dapat diadopsi.
2. Kompatibel (compatibility), yaitu tingkat kesesuain dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Sebagai contoh, jika inovasi teknologi pendidikan, yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi.
3. Kompleksitas (complexity), yaitu tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima.
4. Trialabilitas (trialability), yaitu dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima.
5. Dapat diamati (observability), yaitu mudah diamati atau tidaknya suatu hasil inovasi oleh penerima.
Salah satu faktor yang ikut menentukan efektivitas pelaksanaan program perubahan sosial adalah ketepatan penggunaan strategi. Akan tetapi, memilih strategi yang tepat bukan pekerjaan yang mudah. Sukar untuk memilih satu strategi tertentu guna mencapai tujuan atau target perubahan sosial tertentu. Berikut merupakan macam-macam strategi penerapan inovasi pendidikan:

1. Strategi fasilitatif
Strategi fasilitatif digunakan untuk memperbaharui bidang pendidikan. Adanya kurikulum baru dengan pendekatan keterampilan proses misalnya, memerlukan perbuahan atau pembaharuan kegiatan belajar mengajar. Jika untuk keperluan tersebut digunakan pendekatan fasilitatif, program pembaharuan yang dilaksanakan menyediakan berbagai macam fasilitas dan sarana yang diperlukan. Sekalipun demikian, fasilitas dan sarana tersebut tidak akan banyak bermanfaat dan menunjang perubahan jika guru atau pelaksana pendidikan sebagai sarana perubahan tidak memahami masalah pendidikan yang dihadapi, tidak merasakan perlu adanya perubahan pada dirinya, tidak perlu atau tidak bersedia menerima bantuan dari luar atau dari yang lain, tidak memiliki kemauan untuk berpartisipasi dalam usaha pembaharuan.
Demikian pula, seandainya dalam pembaharuan kurikulum disediakan berbagai macam fasilitas media intruksional dengan maksud agar pelaksanaan kurikulum baru dengan pendekatan keterampilan proses dapat lancar, ternyata pada guru, sebagai sasaran perubahan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan media, perlu diusahakan adanya kemampuan atau peranan yang baru, yaitu pengelola atau sebagai pemakai media instruksional.

2. Strategi pendidikan
Perubahan sosial didefinisikan sebagai “pendidikan atau pengajaran kembali (re-education)” (Zaltman dan Duncan, 1977, hlm. 111). Pendidikan juga dipakai sebagai strategi untuk mencapai tujuan perubahan sosial. Dengan menggunakan strategi pendidikan, perubahan sosial dilakukan dengan cara menyampaikan fakta dengan maksud penggunaan fakta atau informasi untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan. Dasar pemikirannya adalah manusia akan mampu untuk membedakan fakta serta memilihnya guna mengatur tingkah laku apabila fakta ditunjukkan kepadanya.
Agar penggunaan strategi pendidikan dapat berlangsung secara efektif, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:
a. Apabila perubahan sosial yang diinginkan, tidak harus terjadi dalam waktu yang singkat.
b. Apabila sasaran perubahan belum memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan program perubahan sosial.
c. Apabila menurut perkiraan akan terjadi penolakan yang kuat oleh guru terhadap perubahan yang diharapkan.
d. Apabila dikehendaki perubahan yang sifatnya mendasar dari pola tingkah laku yang sudah ada ke tingkah laku yang baru.
e. Apabila alasan atau latar belakang perlunya perubahan telah diketahui dan dimengerti atas dasar sudut pandang guru sendiri, serta adanya kontrol dari guru.
Strategi pendidikan untuk melaksanakan program perubahan akan efektif jika:
a. Digunakan untuk menanamkan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai untuk digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya, sesuai dengan tujuan perubahan sosial yang akan dicapai.
b. Disertai dengan keterlibatan berbagai pihak, misalnya dengan donatur dan berbagai penunjang lain.
c. Digunakan untuk menjaga agar guru tidak menolak perubahan atau kembali ke keadaan sebelumnya.
d. Digunakan untuk menanamkan pengertian tentang hubungan antara gejala dengan masalah, menyadarkan adanya masalah, dan menetapkan bahwa masalah yang dihadapi dapat dipecahkan dengan adanya perubahan.
Strategi pendidikan akan kurang efektif jika:
a. Tidak tersedia sumber yang cukup untuk menunjang kegiatan pendidikan.
b. Digunakan tanpa dilengkapi dengan strategi lain.

3. Strategi bujukan
Program perubahan sosial dengan menggunakan strategi bujukan, artinya tujuan perubahan sosial dicapai dengan cara membujuk agar sasaran perubahan mau mengikuti perubahan sosial yang direncanakan. Sasaran perubahan diajak untuk mengikuti perubahan dengan cara memberikan alasan, mendorong, atau mengajak untuk mengikuti contoh yang diberikan. Strategi bujukan dapat berhasil apabila berdasarkan alasan yang rasional, pemberian fakta yang akurat.
Strategi bujukan tepat digunakan apabila:
a. Guru tidak berpartisipasi dalam proses perubahan sosial.
b. Guru berada pada tahap evaluasi atau legitimasi dalam proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak perubahan sosial.
c. Guru diajak untuk mengalokasikan sumber penunjang perubahan dari kegiatan atau program ke kegiatan atau program yang lain.
d. Masalah dianggap kurang penting atau jika cara pemecahan masalah kurang efektif.
e. Pelaksana program perubahan tidak memiliki alat kontrol secara langsung terhadap sasaran perubahan.
f. Perubahan sosial sangat bermanfaat, tetapi mengandung resiko yang dapat menimbulkan perpecahan.
g. Perubahan tidak dapat dicobakan, sukar dimengerti, dan tidak dapat diamati manfaatnya secara langsung.
h. Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan pada saat awal diperkenalkannya perubahan sosial yang diharapkan.

4. Strategi paksaan
Pelaksanaan program perubahan sosial dengan menggunakan strategi paksaan, artinya dengan cara memaksa guru untuk mencapai tujuan perubahan. Hal-hal yang dipaksa merupakan bentuk dari hasil target yang diharapkan. Kemampuan untuk melaksanakan paksaan bergantung pada hubungan kontrol antara pelaksana perubahan dengan sasaran. Jadi, ukuran hasil target perubahan bergantung dari kepuasan pelaksana perubahan. Kekuatan paksaan, artinya sejauh mana pelaksana perubahan dapat memaksa guru bergantung pada tingkat ketergantungan guru dengan pelaksana perubahan. Kekuatan paksaan juga dipengaruhi berbagai faktor, seperti ketatnya pengawasan yang dilakukan pelaksana perubahan terhadap guru. Tersedianya berbagai alternatif untuk mencapai tujuan perubahan dan tersedianya dana untuk menunjang pelaksanaan program, misalnya untuk memberi hadiah kepada guru yang berhasil menjalankan program perubahan dengan baik.
Penggunaan strategi paksaan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Partisipasi guru terhadap proses perubahan sosial rendan dan tidak mau meningkatkan partisipasinya.
b. Guru tidak merasa perlu sarana penunjang untuk berubah atau tidak menyadari perlunya perubahan sosial.
c. Guru tidak memiliki sarana penunjang untuk mengusahakan perubahan dan pelaksana perubahan juga tidak mampu mengadakannya.
d. Perubahan sosial yang diharapkan harus terwujud dalam waktu singkat. Artinya, tujuan perubahan harus segera tercapai.
e. Menghadapi usaha penolakan terhadap perubahan sosial atau untuk cepat mengadakan perubahan sosial sebelum usaha penolakan terhadapnya bergerak.
f. Guru sukar untuk menerima perubahan sosial, artinya sukar dipengaruhi.
g. Menjamin keamanan percobaan perubahan sosial yang telah direncanakan.

Referensi
Rogers, M. E. (1983). Diffusion of Inovation. New York: The Free Press.
Zaltman, G., & Dulcan, R. (1977). Strategy of Planned Change. New York: A Willey-Interscience Publication John Willey & Sons.


EmoticonEmoticon