Thursday, 21 March 2019

Model Pembelajaran Learning Together (LT)


Model Pembelajaran Learning Together (LT)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

learning together

Model pembelajaran learning together (LT) termasuk dalam model pembelajaran tipe kooperatif. Menurut Slavin (2005, hlm. 250) model pembelajaran learning together (LT) adalah “salah satu model pembelajaran kooperatif dengan penggunaan kelompok pembelajaran yang heterogen, interaksi tatap muka yang saling membantu, saling mendukung, dan saling mendukung, serta menekankan pada tanggung jawab individual dan kelompok kecil demi keberhasilan pembelajaran”. Model pembelajaran learning together (LT) menemukan hubungan pertemanan yang jauh lebih dekat antara siswa, daripada model-model yang bersifat individualisasi di mana para siswa tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi.
Pada model pembelajaran learning together (LT), siswa membentuk kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diminta untuk menghasilkan satu tugas kelompok. Guru berperan mengawasi kelompok-kelompok tersebut. Jika menemukan kesulitan, setiap siswa diminta untuk mencari bantuan dari teman-teman satu kelompoknya terlebih dahulu, sebelum meminta bantuan kepada guru.
Learning together (LT) menekankan empat unsur berikut:
1. Interaksi tatap muka, yakni para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang.
2. Interpendensi positif, yakni para siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.
3. Tanggung jawab individual, yakni para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materi.
4. Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil, yakni para siswa diajari mengenai saran-saran yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka.
Adapun sintaks atau langkah-langkah model pembelajaran learning together (LT) yang dikembangkan oleh David dan Roger Johnson (dalam Slavin, 2009, hlm. 25) sebagai berikut:
1. Membagi siswa menjadi empat atau lima kelompok.
2. Anggota kelompok bersifat heterogen.
3. Setiap kelompok diberi tugas yang harus dikerjakan secara bersama-sama oleh setiap kelompok.
4. Hasil pekerjaan setiap kelompok dinilai oleh guru.
5. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok atas pekerjaan yang telah dihasilkan.
6. Penghargaan dapat berupa pujian atau bentuk lain yang bersifat mendidik sehingga dapat menumbuhkan semangat siswa untuk lebih berprestasi.
Kelebihan model pembelajaran learning together (LT), antara lain:
1. Siswa lebih mudah menemukan pilihan pertemanan secara signifikan saat belajar bersama dibandingkan belajar sendiri.
2. Menghilangkan kesenjangan antara siswa pintar dengan yang kurang pintar.
3. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran karena diberi bahan diskusi oleh guru dan harus berpikir kritis dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
4. Meningkatkan kerja sama siswa dalam kelompok dengan prinsip belajar bersama.
5. Melatih tanggung jawab dan rasa percaya diri siswa.
6. Siswa termotivasi untuk memperdalam pemahamannya dalam menguasai materi.
Sedangkan kelemahan model pembelajaran learning together (LT), di antaranya:
1. Hanya cocok diterapkan untuk kegiatan diskusi atau presentasi.
2. Memerlukan waktu yang relatif lama dan sedikit membosankan.
3. Tidak dapat melihat kemampuan masing-masing siswa karena mereka bekerja dalam kelompok.
4. Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya untuk mencarikan jawaban.

Referensi
Slavin, R. E. (2005). Cooperative Learning. London: Allymand Bacon.
Slavin, R. E. (2009). Cooperative Learning (Teori, Riset, Praktik). Bandung: Nusa Media.


EmoticonEmoticon