Saturday, 30 March 2019

Pendekatan Reggio Emilia


Pendekatan Reggio Emilia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

reggio emilia approach (REA)

Pendekatan reggio emilia atau reggio emilia approach (REA) berkomitmen menciptakan kondisi pembelajaran yang akan mendorong dan memfasilitasi anak untuk membangun kekuatan berpikirnya sendiri melalui penggabungan seluruh bahasa ekspresif, komunikatif, dan kognitifnya. Pendekatan reggio emilia dipandang sebagai sumber atau inspirasi untuk membantu pendidik, orang tua, dan anak-anak ketika mereka bekerja sama untuk mengembangkan program pendidikan mereka sendiri.
Pendekatan reggio emilia diciptakan oleh Loris Malaguzzi dan para orang tua di daerah sekitar Reggio Emilia di Italia setelah Perang Dunia II. Saat itu, karena jumlah angkatan kerja pria berkurang akibat perang, para wanita terpaksa menjadi tenaga kerja di parbrik-pabrik dan industri. Ditambah kondisi penuh kehancuran, para orang tua merasa perlu ada pendekatan baru terhadap cara mengajar anak-anaknya. Para orang tua merasa bahwa pada tahun-tahun awal perkembangan anak mereka membentuk diri mereka sebagai individu. Berangkat dari pemikiran ini lalu diciptakan sebuah program yang berprinsip rasa hormat, tanggung jawab, dan kebersamaan melalui eksplorasi di dalam lingkungan yang suportif dan memperkaya minat anak.
Loris Malaguzzi (1920-1994) mendirikan pendekatan reggio emilia di sebuah kota di Italia Utara. Pendekatan reggio emilia dikembangkan untuk pengasuhan anak di kota dan program pendidikan melayani anak-anak dirancang untuk semua anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Anak-anak dilihat memiliki sikap kompeten, berwawasan, memiliki rasa ingin tahu, imajinatif, inventif, dan memiliki keinginan untuk berinteraksi serta berkomunikasi dengan orang lain.
Visi reggio emilia tentang anak sebagai pembelajar yang kompeten telah menghasilkan anak yang kuat. Sebuah kurikulum yang muncul dibangun berdasarkan kepentingan anak-anak. Topik untuk studi dirancang berdasarkan pembicaraan anak-anak, masyarakat atau keluarga melalui peristiwa, serta kepentingan yang perlu diketahui oleh anak-anak. Guru bekerja sama untuk merumuskan hipotesis tentang kemungkinan arah dari suatu proyek, bahan-bahan yang diperlukan, dan mungkin orang tua dan/atau dukungan serta keterlibatan masyarakat.
Kurikulum ini bertujuan untuk kemajuan purposif. Guru mengikuti kepentingan anak-anak dan tidak memberikan intruksi fokus dalam memberikan pembelajaran. Pendekatan reggio emilia memiliki keyakinan yang kuat bahwa anak-anak belajar melalui interaksi dengan orang lain, termasuk orang tua, dan teman-teman di lingkungan belajar yang ramah.
Anak didorong untuk menggambarkan pemahaman mereka melalui salah satu dari bahasa simbolik, termasuk gambar, bermain drama, dan menulis. Mereka bekerja sama menyelesaikan masalah-masalah yang timbul. Guru memfasilitasi, kemudian mengamati perdebatan mengenai sejauh mana anak mampu menyelesaikan masalah. Revisi ide dilakukan jika perlu, dan guru membiarkan anak-anak untuk mengulangi kegiatan dan memodifikasi setiap karya lain dalam tujuan kolektif pemahaman topik yang lebih baik. Guru terlibat dalam proses eksplorasi dan evaluasi, serta memperhatikan semua hasil perkembangan anak dalam menyelesaikan masalah sesuai pemahaman mereka.
Inti kurikulum reggio emilia adalah perencanaan proyek sebagai hasil dari ketertarikan anak pada suatu hal. Proyek ini tumbuh dari pengalaman pertama yang direncanakan oleh guru untuk membantu anak-anak mengeksplorasi adat budaya mereka atau lingkungan fisik sekitar mereka atau hasil dari kejadian spontan, seperti ide anak atau pertanyaan pada guru. Hampir setiap pengalaman yang membangkitkan minat anak dapat menjadi dasar proyek. Proyek dilakukan secara mendalam dan mendetail, menggunakan variasi dalam metode penyelidikan dan sebuah gambaran pilihan serta sebuah bentuk grafik. Untuk melengkapi proses investigasi/penyelidikan melalui proyek jangka panjang ini adalah kreativitas anak dalam menggunakan bahan untuk menunjukkan dan mengomunikasikan pembelajaran mereka.
Pada setiap langkah aktivitas, guru mengobservasi, mendiskusikan, dan menafsirkan bersama hasil observasi anak, yang selanjutnya membuat pilihan-pilihan baru untuk ditawarkan pada anak. Dengan mendikskusikan dalam kelompok dan menilik ulang pengalaman-pengalaman dan ide anak akan tumbuh dengan pemahaman mereka.
Beberapa fitur kunci pendekatan reggio emilia, antara lain:

1. Peran lingkungan sebagai guru ketiga
Di dalam pendekatan reggio emilia, para pendidik sangat perhatian tentang apa yang ada di lingkungan sekolah mereka dan dalam mengajar anak-anak. Oleh karena itu, perhatian sangat besar diberikan untuk tampilan dan nuansa ruang kelas. Keindahan estetika dalam kelas dianggap sebagai bagian penting sebagai wujud menghargai anak dan lingkungan belajar. Guru mengatur lingkungan yang mengundang anak-anak untuk melakukan eksplorasi dan pemecahan masalah. Dokumentasi pekerjaan anak-anak yang telah mereka buat dipajang dalam kelas.

2. Beberapa bahasa simbolik anak
Seni digunakan sebagai bahasa simbolis yang akan digunakan untuk mengekspresikan pemahaman anak dalam proyek yang mereka kerjakan. Pendekatan reggio emilia menggunakan integrasi seni grafis sebagai alat untuk pengembangan kecerdasan linguistik, sosial, dan kognitif. Presentasi konsep dan hipotesis dalam beberapa bentuk seperti cetak, seni, konstruksi, drama musik, dilihat sebagai hal yang penting untuk pemahaman anak-anak.

3. Dokumentasi sebagai penilaian dan advokasi
Mendokumentasikan dan menampilkan proyek kerja anak-anak yang diperlukan untuk anak mengekspresikan, membangun, dan merekonstruksi perasaan mereka, ide-ide, serta pemahaman. Serupa dengan pendekatan portofolio, dokumentasi pekerjaan anak dalam proses perkembangan dipandang sebagai alat penting dalam proses pembelajaran untuk anak-anak, guru, dan orang tua. Guru bertindak sebagai perekam untuk anak-anak, membantu mereka menulusuri dan meninjau kembali kata-kata dan tindakan. Dengan demikian, menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.

4. Proyek jangka panjang
Mendukung dan memperkaya anak melalui proyek jangka pendek dan jangka panjang, di mana dalam mengerjakan proyek ini, anak akan merespons, direkam, bermain, mengeksplorasi, membangun, dan menguji hipotesis, serta memprovokasi apa yang terjadi. Proyek yang berpusat pada anak, mengikuti minat mereka, akan menambah wawasan baru. Selama proyek berlangsung, guru membantu anak-anak membuat keputusan tentang arah penelitian dan menjadi media representasi bagi cara-cara kelompok yang akan digunakan dalam riset terhadap topik.

5. Guru sebagai peneliti
Peran guru dalam pendekatan reggio emilia sangat kompleks. Bekerja sebagai wakil orang tua, peran yang pertama dan utama adalah belajar bersama anak-anak. Guru adalah peneliti, sumber daya, dan panduan saat guru meminjamkan keahlian kepada anak. Peran guru menjadi pendidik yang mendengarkan, mengamati, dan mendokumentasikan pekerjaan serta pertumbuhan anak di dalam kelas dan menstimulasi pemikiran anak.

6. Hubungan rumah dengan sekolah
Anak, guru, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja sama. Komunikasi dan interaksi dapat memperdalam penyelidikan anak dan membangun teori tentang dunia di sekitar mereka. Program dalam pendekatan reggio emilia adalah berpusat pada keluarga. Visi dari pendidikan didasarkan pada hubungan yang berfokus pada setiap anak dalam kaitannya dengan orang lain dan berusaha untuk mengaktifkan, serta mendukung hubungan timbal balik anak dengan anak lain, keluarga, guru, masyarakat, dan lingkungan.


EmoticonEmoticon