Sunday, 17 March 2019

Sumber-Sumber Terjadinya Inovasi Pendidikan


Sumber-Sumber Terjadinya Inovasi Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

inovasi pendidikan

Analisis dan inventarisasi tentang kemungkinan faktor yang menjadi sumber munculnya inovasi dikemukakan oleh Drucker (dalam Danim, 2002, hlm. 150). Menurutnya, beberapa sumber terjadinya perubahan, antara lain:

1. The unexpected (kondisi yang tidak diharapkan)
Di lingkungan sekolah terkadang banyak sekali kondisi yang tidak diharapkan, seperti mahalnya biaya tambahan di sekolah, layanan sekolah yang kurang optimal, kemampuan guru yang rendah, tingkat kualifikasi guru yang kurang memenuhi syarat, dan kondisi kultur yang tidak kondusif. Kondisi semacam ini menyebabkan orang menjadi berontak untuk menghindari atau memperbaiki kondisi sehingga secara logis inovasi yang muncul dapat diharapkan.

2. The incongruity (munculnya ketidakwajaran)
Kondisi-kondisi yang tidak wajar/menyimpang semacam penerimaan siswa baru yang melibatkan banyak oknum lain di luar sistem untuk ikut campur, penjurusan program  yang dipaksakan, kelulusan yang direkayasa, dan sebagainya merupakan beban bagi pengelola sekolah, terutama bagi mereka yang masih memegang teguh idealisme tinggi. Kondisi semacam ini jelas ingin dihapuskan, sehingga mereka mulai memikirkan cara agar penerimaan siswa baru yang memiliki sistem yang aman, program penjurusan yang disadari oleh orang tua ataupun siswa, sistem pengujian yang wajar, dan sebagainya. Semua ini yang dapat memunculkan inovasi.

3. Innovation based on process need (kebutuhan yang muncul dalam proses)
Di dalam proses pengelolaan sekolah kadang-kadang terlintas ide baru yang datang  dengan tiba-tiba. Ide ini sebaiknya segera dikomunikasikan dengan yang lain. Interaksi ini akan menghasilkan gagasan-gagasan baru milik bersama, walaupun tidak dilaksanakan sejak awal, namun inovasi dapat muncul di tengah jalan.

4. Change innovation industry structure or market structure (perubahan dalam struktur industri pasar)
Perubahan struktur pada industri pasar sering mendorong kepala sekolah atau pengelola sekolah untuk mengambil tindakan inovasi. Hal ini karena konsep manajemen berbasis sekolah sebenarnya kepala sekolah sangat leluasa untuk mengembangkan inovasi di sekolahnya. Misalnya dengan berkembangnya industri, sekolah dapat mengambil kebijakan kurikulum yang semula kognitif oriented menjadi psikomotor oriented. Paling tidak, ada penambahan porsi dalam hal peningkatan keterampilan siswa.

5. Demographics (kondisi demografis)
Kondisi alam lingkungan yang berbeda-beda tentu membedakan keputusan inovasi. Demikian pula, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana akan berbeda pula. Sekolah-sekolah yang berada di perkotaan misalnya, upaya inovasi suasana pembelajaran akan tampak lebih dinamis dan beragam. Dukungan infrastruktur dan jaringan komunikasi sangat memberikan pengaruh terhadap percepatan program inovasi. Akan tetapi, di daerah-daerah yang jauh dari fasilitas, suasana pembaharuan sangat sulit dilakukan.

6. Changes in perception, mood, and meaning (perubahan persepsi, suasana, dan makna)
Saat ini, secara umum penerimaan masyarakat terhadap informasi dari berbagai media massa cukup responsif. Dengan adanya informasi yang beragam itu mendorong sebagian orang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu yang baru agar tidak ketinggalan dari orang lain.

7. New knowledge (pengetahuan baru)
Usaha-usaha yang dilakukan berbagai pihak, baik individu, lembaga swadaya masyarakat maupun pemerintah daerah, provinsi, ataupun pusat dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, semacam seminar, lokakarya, penataran, workshop, dan sebagainya selalu mendatangkan hal baru. Setelah selesai melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, banyak sekali hal yang dapat diperolah. Motivasi-motivasi dan keharusan menyampaikan hal-hal yang telah didapatnya mendorong orang melakukan inovasi berdasarkan yang didapatnya.

Referensi
Danim, S. (2002). Inovasi Pendidikan dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.


EmoticonEmoticon