Monday, 18 March 2019

Tari Bedhaya Ketawang


Tari Bedhaya Ketawang
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

tarian bedhaya ketawang

Tari bedhaya ketawang adalah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian sakral yang suci bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta. Nama tari bedhaya ketawang diambil dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana dan ketawang yang berarti langit, atau identik dengan sesuatu yang tinggi, kemuliaan, dan keluhuran.
Berdasar sejarahnya, tarian ini berawal ketika Sultan Agung memerintah Kesultanan Mataram pada tahun 1613-1645. Pada suatu saat Sultan Agung melakukan ritual semedi, lalu beliau mendengar suara senandung dari arah langit. Sultan Agung pun terkesima dengan senandung tersebut. Beliau kemudian memanggil pengawalnya dan mengutarakan apa yang terjadi. Dari kejadian itulah Sultan Agung menciptakan tarian yang diberi nama bedhaya ketawang.
Setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dilakukan pembagian harta warisan Kesultanan Mataram kepada Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I. Selain pembagian wilayah, dalam perjanjian tersebut juga terdapat pembagian warisan budaya. Tari bedhaya ketawang akhirnya diberikan kepada Kesunanan Surakarta dan dalam perkembangannya, tarian ini tetap dipertunjukkan pada saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta sunan Surakarta.
Tari bedhaya ketawang ini menggambarkan hubungan asmara Kanjeng Ratu Kidul dengan Raja Mataram. Semua itu diwujudkan dalam gerakan tari bedhaya ketawang. Kata-kata yang terkandung dalam tembang pengiring tarian ini menggambarkan curahan hati Kanjeng Ratu Kidul kepada sang raja. Tarian ini biasanya dimainkan oleh sembilan penari wanita. Menurut kepercayaan masyarakat, setiap pertunjukan tari bedhaya ketawang ini dipercaya akan kehadiran Kanjeng Ratu Kidul dan ikut menari sebagai penari kesepuluh.
Sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus dimiliki setiap penari. Syarat yang paling utama, yaitu para penari harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari harus meminta ijin kepada Kanjeng Ratu Kidul lebih dahulu dengan melakukan ritual caos dhahar di panggung sanga buwana, keraton Surakarta. Hal ini dilakukan dengan berpuasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan. Kesucian para penari sangat penting, karena konon katanya, saat latihan berlangsung, Kanjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari jika gerakannya masih salah.
Pada pertunjukannya, tari bedhaya ketawang diiringi oleh iringan musik gending ketawang gedhe dengan nada pelog. Instrumen yang digunakan di antaranya adalah kethuk, kenong, gong, kendhang dan kemanak. Pada tari bedhaya ketawang ini dibagi menjadi tiga babak (adegan). Di tengah tarian nada gendhing berganti menjadi slendro selama dua kali. Setelah itu, nada gending kembali lagi ke nada pelog hingga tarian berakhir.
Selain diiringi oleh musik gending, tari bedhaya ketawang diiringi oleh tembang (lagu) yang menggambarkan curahan hati Kanjeng Ratu Kidul kepada sang raja. Pada bagian pertama tarian diiringi dengan tembang Durma, kemudian dilanjutkan dengan Ratnamulya. Pada saat penari masuk kembali ke dalem ageng prabasuyasa, instrumen musik ditambahkan dengan gambang, rebab, gender dan suling untuk menambah keselarasan suasana.
Di dalam pertunjukannya, busana yang digunakan penari bedhaya ketawang adalah busana yang digunakan oleh para pengantin perempuan jawa, yaitu Dodot Ageng atau biasa disebut Basahan. Pada bagian rambut menggunakan Gelung Bokor Mengkurep, yaitu gelungan yang ukurannya lebih besar dari gelungan gaya Yogyakarta. Untuk aksesoris perhiasan yang digunakan di antranya adalah centhung, garudha mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha (rangkaian bunga yang dikenakan pada gelungan, yang memanjang hingga dada bagian kanan).


EmoticonEmoticon