Thursday, 14 March 2019

Theory of Didactical Situations in Mathematics (TDSM)


Theory of Didactical Situations in Mathematics (TDSM)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

TDSM

Peran guru adalah untuk mendorong ide-ide matematika dalam konteks melalui proses penyelidikan. Tidak dipungkiri bahwa proses ini memerlukan rencana pembelajaran yang sangat kompleks. Rencana pembelajaran yang kurang mempertimbangkan keragaman respons siswa atas situasi didaktis dapat berdampak terhadap rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan berikutnya. Hal ini kemungkinan besar tidak lagi sesuai dengan keragaman lintasan belajar masing-masing siswa. Oleh karena itu, perlu kita sadari sepenuhnya bahwa penting bagi guru untuk merancang pembelajaran dengan desain didaktis untuk mengantisipasi semua tanggapan siswa yang mungkin pada situasi didaktis.
Penerapan teori situasi didaktis melalui desain situasi didaktik yang diciptakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas diharapkan untuk mengembangkan potensi siswa, yang dapat membangun pengetahuan mereka sendiri melalui serangkaian proses abstraksi. Tindakan dan umpan balik melalui strategi yang tepat akan memungkinkan pembentukan pengetahuan baru pada siswa. Salah satunya dengan menerapkan theory of didactical situations in mathematics (TDSM).
Theory of didactial situations in mathematics (TDSM) diperkenalkan oleh Brousseau pada tahun 1986. Langkah pertama dalam pendekatan teoritis ini adalah analisis segitiga didaktis, yang dikenal sejak tahun 1982 ketika pertama dimunculkan oleh Yves Chevallard. Implikasi ganda pada segitiga tersebut menunjukkan bahwa terhadap interaksi yang kompleks, saling timbal balik antara guru, siswa, dan pengetahuan. Peran guru adalah untuk memungkinkan transposisi didaktis. Dengan kalimat lain, guru harus mengubah pengetahuan yang berasal dari penemuan ke dalam pengetahuan yang diajarkan. Lebih jauh, TDSM bertujuan untuk memodelkan situasi mengajar sehingga dapat dikembangkan dengan tahapan yang terkontrol.
Artigue, Haspekian, dan Corblin (2014, hlm. 49-50) menjelaskan karakteristik TDSM sebagai berikut: karakteristik TDSM pertama adalah perhatiannya pada matematika dan epistomologinya. Di dalam hal ini, konversi didaktis dari gagasan tentang kendala epistimologis dan melalui gagasan situasi fundamental. Brousseau (2002, hlm. 83) meluaskan penerapannya pada aspek didaktis dari matematika, mendefinisikan kendala epistimologis “sebagai bentuk pengetahuan yang telah relevan dan berhasil dalam konteks tertentu”.
Karakteristik penting kedua di TDSM terkait dengan karakteristik epistimologis, yaitu pengetahuan matematika adalah sesuatu yang memungkinkan kita untuk bertindak atas lingkungan. Karakteristik ini mencerminkan pada TDSM terdapat perbedaan antara tiga jenis tertentu situasi, yakni (1) situasi dari tindakan, (2) situasi formulasi, (3) dan situasi validasi.
Karakteristik penting ketiga mengacu pada dimensi kognitif siswa, terutama dengan kombinasi dari dua proses, yakni adaptasi dan akulturasi. Adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan. Sedangkan akulturasi adalah suatu proses yang timbul manakala manusia dengan pengetahuan tertentu dihadapkan dengan unsur pengetahuan yang baru. Lambat laun pengetahuan baru tersebut akan diterima dan diolah ke dalam pengetahuannya sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya unsur pengetahuan sebelumnya.

Referensi
Artigue, M., Haspekian, M., & Corblin, L. A. (2014). Introduction to the theory of didactical situation (TDS). Switzerland: Springer International Publishing.
Brousseau, G. (2002). Theory of Didactical Situations in Mathematics. Virginia: Kluwer Academic Publishers.


EmoticonEmoticon