Friday, 29 March 2019

Tingkat Kesukaran Butir Soal

Tingkat Kesukaran Butir Soal
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

tingkat kesulitan soal

Tingkat kesukaran butir soal (difficulty level) adalah proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir soal tersebut. Tingkat kesukaran butir soal biasanya dilambangkan  dengan P. Makin besar nilai P yang berarti semakin besar proporsi yang menjawab benar terhadap butir soal tersebut, maka semakin rendah tingkat kesukaran butir soal tersebut. Artinya, soal tersebut tergolong mudah.
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha dalam menjawab soal. Sebaliknya “soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba karena di luar jangkauannya” (Arikunto, 2001).
Tingkat kesukaran butir soal tidaklah menunjukkan bahwa butir soal itu baik atau tidak. Tingkat kesukaran butir hanya menunjukkan bahwa butir soal tersebut sukar atau mudah untuk kelompok peserta tes tertentu.
Cara yang paling umum digunakan adalah proporsi menjawab benar atau proportion correction, yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhnya.
Besarnya tingkat kesukaran berkisar antara 0,00 sampai 1,00.  Untuk sederhananya, tingkat kesukaran butir dan perangkat soal dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni mudah, sedang, dan sukar. Rumus yang digunakan adalah rumus indeks kesukaran butir soal yang dikemukakan oleh Du Bois, sebagai berikut:
Keterangan:
P   : Proporsi/angka indeks kesukaran butir soal
Np : Banyaknya siswa yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir soal
      yang bersangkutan
N  : Jumlah siswa
Sebagai patokan menurut Zainul dan Nasoetion (1997) dapat digunakan tabel berikut:

Tingkat Kesukaran
Nilai P
Sukar
0,00 - 0,25
Sedang
0,26 - 0,75
Mudah
0,76 – 1,00

Untuk menyusun suatu naskah ujian sebaiknya digunakan butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran berimbang, yaitu soal berkategori sukar sebanyak 25%, kategori sedang 50%, dan kategori mudah 25%. Di dalam penggunaan butir soal dengan komposisi secara tersebut, maka dapat diterapkan penilaian berdasar acuan norma atau acuan patokan. Bila komposisi butir soal dalam suatu naskah ujian tidak berimbang, maka penggunaan penilaian acuan norma tidaklah tepat, karena informasi kemampuan yang dihasilkan tidaklah akan berdistribusi normal.
Walaupun demikian, ada yang berpendapat bahwa soal-soal yang dianggap baik adalah soal-soal yang sedang, yaitu soal-soal yang mempunyai indeks kesukaran berkisar antara 0,26 – 0,75. Berbagai kriteria tersebut mempunyai kecenderungan bahwa butir soal yang memiliki indeks kesukaran kurang dari 0,25 dan lebih dari 0,75 sebaiknya dihindari atau tidak digunakan, karena butir soal yang demikian terlalu sukar atau terlalu mudah, sehingga kurang mencerminkan alat ukur yang baik.
Menurut Arikunto (2001) “soal-soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar tidak berarti tidak boleh digunakan”. Hal ini bergantung dari tujuan penggunaannya. Jika dari peserta tes banyak, padahal yang dikehendaki lulus hanya sedikit maka diambil peserta yang terbaik, untuk itu diambilkan butir soal tes yang sukar. Demikian sebaliknya, jika kekurangan peserta tes, maka dipilihkan soal-soal yang mudah. Selain itu, soal-soal yang sukar akan menambah motivasi belajar bagi siswa-siswa yang pandai, sedangkan soal-soal yang mudah akan membangkitkan semangat kepada siswa yang lemah.

Referensi
Arikunto, S. (2001). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Zainul, A., & Nasoetion, N. (1997). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


EmoticonEmoticon