Wednesday, 10 April 2019

Filsafat Pendidikan Positivisme


Filsafat Pendidikan Positivisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

positivisme auguste comte

Positivisme berasal dari kelompok yang banyak ditemukan di Wina, Austria pada antara masa perang dunia pertama dan kedua. Terdapat dua doktrin sebagai dasar logika positivisme, yakni “(1) ilmu pengetahuan murni (orisinal), yaitu ilmu-ilmu eksak (sains) atau logika matematis dan (2) semua jenis ilmu sains didasarkan atas metode yang jelas, dilakukan dengan proses penelitian, generalisasi hubungan satu fakta dengan lainnya, formulasi teori untuk menjelaskan generalisasi dan mengujicoba generalisasi serta teori-teori yang digunakan tersebut secara empiris” (Kneller, 1984, hlm. 137).  Adapun semua klaim kebenaran atau ilmu pengetahuan yang berasal dari ilmu-ilmu metafisika seperti teologi, dipandang tidak lebih sebuah pernyataan (statement) tentang keyakinan dan tidak dapat diuji atau diverifikasi dalam kenyataan (empiris).
Auguste Comte (dalam Hardiman, 1990, hlm. 128) menjelaskan istilah positif tersebut dengan membuat beberapa perbedaan, yakni “antara yang nyata (reel) dan yang khayal (chemerique), yang pasti (certitude) dan yang meragukan (indecision), yang tepat (precis) dan yang kabur (vague), yang berguna (utile) dan yang sia-sia (oiseoux), serta yang mengklaim memiliki kesahihan relatif (relative) dan yang mengklaim memiliki kesahihan mutlak (absolut)”. Demikian semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa kepastian (sense of certainty) pengamatan sistematis yang terjamin secara intersubyektif (the reel).
Pengaruh positivisme dalam dunia pendidikan dimulai pada awal tahun 1950-an. Dua penulis besar, yakni Charles D. Hardie lewat karyanya “Truth and Fallacy in Education Theory” dan D. J. O. Connor’s lewat karyanya “An Introduction to The Philosophy of Education adalah dua tokoh yang berpengaruh luas di dunia pendidikan modern. Kedua penulis ini banyak mengkritisi teori-teori pendidikan sebagai teori yang samar-samar dan tidak bersifat sains. Bahkan, hanya  merupakan ekspresi pendapat-pendapat semata. Keduanya mendesak para pakar pendidikan untuk banyak terlibat dalam menganalisis bahasa dan konsep-konsep melalui metode yang ditempuh positivisme. Kedua penulis ini juga merekomendasikan agar penelitian dalam bidang-bidang pendidikan agar lebih berorientasi saintifik.
Berdasar pandangan positivisme, teori pendidikan yang orisinal semestinya mengikuti struktur logis teori-teori sains. Oleh karena itu, teori yang demikian harus meliputi premis-premis, hipotesis logis, dan ungkapan (statement) sebagai kata kunci dalam premis tersebut. Apa yang harus dimiliki sebuah teori, menurut Hardie (1962, hlm. 73) adalah “selama proses pendidikan berlangsung, lingkungan berperan atas hakikat orisinalitas manusia untuk membentuk nilaiyang merubah tingkah lakunya”. Hakikat manusia terdiri atas karakteristik yang dapat diperbaiki (modifiable) dan karakteristik yang tidak dapat diubah karena sudah merupakan watak (unmodifiable). Dengan kata lain, sebuah teori semestinya meliputi statement tentang karakter manusia yang dapat diubah dan statement tentang karakter yang tidak dapat diubah. Lebih lanjut Hardie (1963, hlm. 97-98) juga mengatakan bahwa “merupakan sebuah kesalahan bila teori-teori pendidikan banyak mengadopsi ilmu-ilmu kealaman”. Sebab, teori-teori ini lebih banyak berdasarkan hubungan formal (eksak) dan berkaitan erat dengan entitas yang tidak dapat diobservasi karena hanya merupakan postulat (dalil) semata.
Di dalam teori-teori pendidikan, postulat-postulat dan entitas yang tidak dapat diobservasi, tidak berhubungan sama sekali. Teori-teori ini dipandang steril. Menurut Hardie (dalam Kneller, 1984, hlm. 140) “pendidik harus menganilis dan mengklasifikasi konsep-konsep pendidikan dan menunjukkan bahwa semua konsep tersebut dapat diberi arti dengan tema-tema dapat diobservasi secara umum”. Entitas mental, misalnya adalah sesuatu yang biasanya tidak dapat diobservasi, jadi tidak mendapat tempat di dalam teori-teori pendidikan. Demikian, teori-teori pendidikan harus memeragakan cara-cara yang ditempuh ilmu-ilmu sains dan mengajukan perkiraan-perkiraan atau prediksi yang dapat diujicoba, selanjutnya dikonstruk untuk menjelaskan aspek-aspek pemikiran (mind).
Di dalam upaya untuk menerima kebenaran teori tersebut, Hardie sekaligus mengenyampingkan aspek etika dari filsafat pendidikan positivisme. Bagi logika positivisme, pernyataan yang terkait dengan etika hanyalah ekspresi perasaan personal (individu) semata dan bukan kepentingan yang dipandang sebagai sebuah kebijakan.

Referensi
Hardie, C. D. (1962). Truth and Fallacy in Educational Theory. USA: Columbia University.
Hardie, C. D. (1963). Reply to George L. Newsome, Jr. Studies in Philosphy and Education, 3(1), hlm. 91-103.
Hardiman, F. B. (1990). Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Kanisius.
Kneller, G. F. (1984). Movements of Thought in Modern Education. United State: John Wiley & Sons, Inc.


EmoticonEmoticon