Sunday, 7 April 2019

Metode Operant (Pengendalian Diri)


Metode Operant (Pengendalian Diri)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

pengendalian diri

Metode operant merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada prinsip pengendalian diri dalam belajar. “Operant berarti respons yang berpengaruh terhadap lingkungan dan instrumen untuk mencapai penguatan” (Abror, 1993, hlm. 82). Respons semata-mata merupakan sebagian dari tingkah laku manusia. Salah satu sebab utama perlunya pengendalian diri adalah adanya berbagai tingkah laku yang kurang didukung oleh lingkungan, padahal sangat dibutuhkan individu dalam membentuk tingkah laku baru.
Penting bagi seseorang untuk memiliki cara belajar sendiri. Masalah pengendalian diri hampir selalu terlibat dalam kepuasan positif dari tujuan jangka pendek dan konsekuensi negatif dari tujuan jangka panjang. Faktor lainnya yang mengenyampingkan perubahan dalam pola pengendalian diri adalah kondisi dalam lingkungan yang pada mulanya mendorong tingkah laku menolak diri. “Memberikan perhatian dan menangani dengan berhati-hati, lingkungan yang lebih baik merupakan landasan dari prosedur pengendalian diri” (Dahlan, 1984, hlm. 81).
Kegiatan belajar dengan menggunakan metode operant hampir sama seperti berbagai jenis pengelolaan belajar. Namun, terdapat perbedaan pada orientasi belajar yang berhubungan dengan sistem sosial dan strategi sosial.
Adapun tahapan umum metode operant dijabarkan oleh Dahlan (1984, hlm. 183), sebagai berikut:
1. Pengenalan terhadap prinsip tingkah laku
Pada tahapan ini siswa diperkenalkan pada program dan prinsip-prinsip pengendalian diri. Tujuan adanya tahapan in adalah agar siswa memahami kesulitan yang dihadapi dalam pengendalian diri, terutama pada fungsi lingkungan yang sebenarnya tidak permanen dan bagian dari karakter yang tidak dapat diubah.
2. Menetapkan base line
Guru dan siswa telah menyetujui prosedur dan jadwal untuk mengumpulkan data dasar tentang target tingkah laku. Data dasar ini hendaknya merupakan catatan kuantitatif, termasuk peristiwa dan gagasan sebelum dan sesudah sasaran tingkah laku yang akan dibentuk tersebut terjadi.
3. Menyiapkan program yang realistis
Pada tahap ini hendaknya tujuan jangka pendek dan panjang diketahui dengan seksama. Dengan demikian, program yang dituliskan telah memperhatikan tujuan jangka pendek dan sasaran yang ingin dicapai secara jelas. Peranan pendidik dalam membantu siswa merumuskan program yang realistis sangatlah penting.
4. Siswa mulai melaksanakan program pengendalian diri
Pada tahap ini siswa mulai melaksanakan program pengendalian diri, mengevaluasi kemajuan program, dan membuat sejumlah perubahan jadwal, penguatan, dan pengendalian yang mungkin perlu. Secara berangsur siswa mengakui keberhasilannya sendiri.
Manfaat penggunaan metode operant dalam pembelajaran menurut Dahlan (1984, hlm. 189), antara lain:
1. Meningkatkan tingkah laku yang diharapkan target dan mengurangi tingkah laku yang maladaptif.
2. Metode untuk pengendalian diri.
3. Merupakan dasar pandangan behavioral, yakni kesadaran akan lingkungan.
4. Tumbuhnya rasa pengendalian diri sendiri dan lingkungan.
5. Tumbuhnnya rasa harga diri dan percaya pada diri sendiri.
Walaupun pendidik memegang peranan penting dalam mengambil inisiatif penyusunan program dalam metode operant, namun siswa pada akhirnya harus mengambil inisiatif dan menjalankan program secara mandiri. Pendidik mempunyai peranan yang mempengaruhi keberhasilan program pengendalian diri.
Pada mulanya pendidik merupakan penggugah siswa yang secara beransur-ansur peranannya berkurang. Kemudian menumbuhkan perasaan realistis dalam merencanakan dan melaksanakan program pengendalian diri secara khusus.
Untuk membentuk tingkah laku baru terlebih dahulu perlu diketahui sikap dan kebiasaan yang ada dalam diri individu serta lingkungan. Setelah menyadari diri dan lingkungan, maka individu dapat ditolong menata kembali lingkungan yang ada, mengubahnya menjadi pencapaian tingkah laku baru. Untuk itu, perlu menentukan kegiatan yang dijadwalkan dan setelah itu harus mendisiplinkan diri terhadap ketentuan yang telah dibuat. Bila prinsip ini ditetapkan dalam belajar, maka bentuk ini termasuk bentuk pengajaran individual yang berpusat pada siswa. Siswa diperkenalkan kepada semua materi, lalu siswa akan memilih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya. Guru hanya membantunya untuk membuat pilihan dan urutan kegiatan yang dimulai dengan memperkenalkan berbagai kemungkinan pilihan dengan tujuan yang akan dicapai. Siswa harus menyadari terlebih dahulu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang yang akan dicapai, agar materi yang akan dipilih dan urutan kegiatan yang disusun sejalan dengan tujuan tersebut.

Referensi
Abror, R. (1993). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
Dahlan, M. D. (1984). Model-Model Mengajar. Bandung: CV Diponegoro.


EmoticonEmoticon