Saturday, 27 April 2019

Metode Socratic Circles


Metode Socratic Circles
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

socrates

Kata socratic berasal dari nama Socrates, seorang filosof yang sangat terkenal dan berpengaruh pada pengembangan keterampilan berpikir kritis. Selama berabad-abad, ia dikagumi sebagai orang yang memiliki integritas dan intelektual, serta dianggap sebagai seorang pemikir kritis. “Karena kemampuannya dalam berpikir kritis, namanya diabadikan sebagai pertanyaan socratic” (Redhana, 2012, hlm. 352). Secara historis, Socrates banyak bergulat mengenai isu-isu terkait kehidupan manusia yang mempertanyakan tentang kebaikan, moral, dan keadilan.
Metode socratic circles merupakan suatu metode pembelajaran yang digunakan dengan percakapan, perdebatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang saling berdiskusi dan dihadapkan dengan suatu deretan pertanyaan-pertanyaan. Dari serangkaian pertanyaan-pertanyaan tersebut dihadapkan peserta didik mampu/dapat menemukan jawabannya, saling membantu dalam menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit.
Metode pembelajaran socratic circles tidak berpaku pada penjelasan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, dan dengan menanyakan lebih jauh lagi. Sehingga peserta didik terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan terperinci. Menurut Yunarti (2011, hlm. 47) metode socratic circles adalah “sebuah proses diskusi yang dipimpin guru untuk membuat peserta didik mempertanyakan validitas penalaran atau untuk mencapai sebuah kesepakatan”. Metode ini memudahkan peserta didik untuk mendapatkan pemahaman secara berangkai dari bentuk tanya jawab yang dilakukan. Lebih lanjut Copeland (dalam Indratun, Pribadi, dan Prasetyo, 2016, hlm. 248) mendefinisikan metode socratic circles sebagai “suatu metode pembelajaran dengan menggunakan sederetan pertanyaan”. Berdasar sederetan pertanyaan tersebut diharapkan peserta didik mampu menemukan jawabannya atas dasar kecerdasan dan kemampuannya sendiri.
Metode socratic circles membangun keterampilan berpikir kritis peserta didik dan menjadi sarana yang baik untuk mengembangkan berbagai keterampilan akademik. Metode ini aktif melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Untuk itu, peserta didik akan mempunyai rasa percaya diri, dapat berpikir kritis, rasional, dan ilmiah, mendorong peserta didik untuk aktif belajar, serta menumbuhkan motivasi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
Jawaban atas rangkaian pertanyaan yang diajukan pada penerapan metode socratic circles tidak ada yang benar-benar bersifat final. Hal ini disebabkan setiap jawaban selalu terbuka untuk dipertanyakan kembali. Diskusi atau dialog socratic berawal dari ketidaktahuan. Plato (dalam Driyarkarya, 2006, hlm. 139) “menamakan ketidaktahuan socratic ini sebagai euroneia, artinya pura-pura tidak mengerti”. Karena ketidakmengertian itulah, maka peserta didik cenderung terus bertanya. Dengan demikian, peserta didik lain makin lama makin merasakan kekuurangan pengertiannya dan akhirnya mengakui bahwa belum mengerti.
Menurut Johnson dan Johnson (2002, hlm. 194) “proses pembelajaran yang menerapkan metode socratic circles adalah pembelajaran yang dibangun dengan memberikan serangkaian pertanyaan yang tujuannya mengetahui sesuatu isi terkait materi tertentu”. Metode ini memudahkan peserta didik mendapatkan pemahaman secara berangkai dari bentuk tanya jawab yang dilakukan. Adapun tahapan prosedural dari metode socratic circles dijabarkan sebagai berikut:
1. Guru menyiapkan deretan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada peserta didik dengan memberi tanda atau kode-kode tertentu yang diperlukan.
2. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik dan diharapkan peserta didik dapat menemukan jawaban yang benar.
3. Guru mengajarkan mengapa pengetahuan tersebut penting dan bagaimana pengetahuan tersebut  dapat diterapkan untuk pemecahan masalah.
4. Guru menuntun eksplorasi peserta didik dengan melaksanakan peran sebagai berikut:
a. Membiarkan peserta didik bereksplorasi secara aktif.
b. Membantu peserta didik dalam menghubungkan pengetahuan baru dan pengetahuan terdahulu.
c. Membantu peserta didik membentuk dan menginternalisasi representasi masalah atau tugas.
d. Membantu peserta didik mengidentifikasi persamaan antara masalah baru dan pengalaman yang lalu, yang berisikan masalah serupa.
5. Guru memberikan umpan balik mengenai benar atau kurang tepatnya jalan pikiran dan jalur pemecahan masalah. Penekanan teknik bertanya ala Socrates adalah penjelasan konsep-konsep dan gagasan-gagasan melalui penggunaan pertanyaan-pertanyaan pancingan.
6. Jika pertanyaan yang diajukan tersebut terjawab oleh peserta didik, maka guru dapat melanjutkan/mengalihkan pertanyaan berikutnya hingga semua pertanyaan dapat terjawab oleh peserta didik.
7. Jika pada setiap pertanyaan yang diajukan ternyata belum memenuhi tujuan, maka guru hendaknya mengulangi kembali pertanyaan tersebut. Dengan cara memberikan sedikit ilustrasi, apersepsi, dan sekedar meningkatkan serta memudahkan berpikir peserta didik dalam menemukan jawaban yang tepat.
Menurut Johnson dan Johnson (2002, hlm. 194) metode socratic circles memiliki kelebihan, antara lain:
1. Membimbing peserta didik berpikir rasional dan ilmiah.
2. Mendorong peserta didik untuk aktif belajar dan menguasai ilustrasi pengetahuan.
3. Menumbuhkan motivasi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat dan pikiran sendiri.
4. Memupuk rasa percaya diri sendiri.
5. Meningkatkan partisipasi peserta didik dan berlomba-lomba dalam belajar yang menimbulkan persaingan dinamis.
6. Menumbuhkan disiplin.
Menurut Johnson dan Johnson (2002, hlm. 194) metode socratic circles memiliki kelemahan, di antaranya:
1. Metode socratic circles dalam pelaksanaannya masih sulit dilaksanakan pada kelas rendah, sebab peserta didik belum mampu berpikir secara mandiri.
2. Metode socratic circles terlalu bersifat mekanis.
3. Terkadang tidak semua guru siap menggunakan metode socratic circles, karena metode ini menuntut guru maupun peserta didik sama-sama aktif untuk belajar dan menguasai bahan pelajaran.

Referensi
Driyarkarya (2006). Karya Lengkap Driyarkarya: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Indratun, A., Pribadi, T. A., & Prasetyo, A. P. B. (2016). Pengaruh Metode Socratic Circles Disertai Media Gambar dalam Pembelajaran Ekosistem terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Journal of Biology Education. 5(3), hlm. 247-253.
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2002). Cooperative Learning Method: A Meta-Analysis. Journal of Research in Education. 1(1), hlm. 192-204
Redhana, I. W. (2012). Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Cakrawala Pendidikan Jurnal Ilmiah Pendidikan. 3(1), hlm. 350-362.
Yunarti, T. (2011). Pengaruh Metode Socrates terhadap Kemampuan dan Deskripsi Berpikir Kritis Siswa. (Skripsi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.


EmoticonEmoticon